OH MY GIRL Fanfiction Indonesia

Since: 16/02/24


Leave a comment

Put The Line In A Zone #1

Put the line in a zone Mimi

Oh My Girl’s Mimi | Seventeen’s Joshua | OMG’s Jiho and Seunghee

Romance, Angst | G15+ | 1 of 3| 1700 words | Banaby

Aku selalu berdo’a kepada Tuhan untuk membiarkan ku jatuh cinta lagi, tapi bukan kepadanya. Aku harusnya tau batasan. Kita, hanya teman.

.

.

.

                Sepulang dari acara reunian aku dan Joshua malah asyik menyantap sundae kita dipinggir jalan seperti ini. Padahal waktu sudah menunjukan pukul 10 malam tapi aku acuh. Selama aku dengan Joshua, orang tua ku tak akan berfikir macam – macam kan?

“kau belum ingin pulang?”

Aku menggeleng sambil memasukkan sebatang sundae ke dalam mulut ku lagi.

“anak nakal”

Ujarnya sambil terkekeh kecil lalu menyeruput sekaleng lemon soda di genggamanku.

Malam ini kami membicarakan banyak hal. Dimulai dari hal – hal kuno dimasa lalu sampai impian kami. Tak lupa pembicaraan kami juga tersisip cerita tentang gadisnya. Hal yang selalu menjadi kebanggaan nya dari dulu hingga kini.

“sudah 6 tahun ya? Kau dan Jiho”

Ia tersenyum , mengangguk lalu mendangak kearah langit.

“seharusnya kau menikah saja, pasti sudah punya 3 anak”

“aku tidak akan menikah sebelum kau menikah, Mimi”

Harusnya aku tidak membawa dialog pernikahan ini. Jelas saja dia yang harusnya menikah lebih dulu. Aku bahkan belum punya laki – laki diperparah dengan kondisi dimana aku belum bisa melupakan cinta pertamaku. Enak saja dia ingin menunggu ku.

“hya! Jangan meledekku begitu! Katakan saja tidak ada lelaki yang mau dengan gadis seperti ku”

Ia hanya tertawa, padahal aku tidak sedang bercanda.

Malam itu, aku menghujaninya dengan bebatuan kecil di tanah yang kami pijak. Saling tertawa satu sama lain. Membunuh waktu. Malam itu aku tidak tau jika dalam waktu sesingkat itu aku bisa merasakan debaran jantungku yang cepat lagi.

oOo

3 unread Message(s) from Joshuaboo, Seungheeeeee

5 unreceived call(s) from Joshuaboo

                Pagi saat aku membuka handphone ku lebih cepat dari aku membuka jendela kamar untuk melihat mentari pagi. Joshua menyambutku. Bukan dengan kata – kata selamat pagi seperti yang aku harapkan. Lebih kepada pesan bodoh seperti

From : Joshuaboo

Hari ini aku tidak masuk ya. Aku sedang tidak enak badan.

                Harusnya aku tau, ia tak akan mengucapkan kata – kata manis apapun padaku. Aku tak punya hak dan ia tak punya kewajiban. Awalnya aku merasa agak khawatir dengan pesannya, tapi setelah kufikir lagi kemungkinan terbesar ia pergi dengan gadisnya. Ia bilang dalam waktu dekat Jiho akan pergi ke Eropa entah untuk apa. Mungkin ia bilang alasannya tapi aku tak punya wewenang untuk mengingatnya bukan?

Ketika niatan untuk membalas muncul, ponsel ku berdering. Monitor yang semula berisi rentetan alphabet dalam sebuah kotak kini bersilih menjadi gambar telepon dan nama si penelepon.

“o, ne Seunghee-ya”

Sapa ku cepat setelah ku sematkan benda itu diantara telinga dan anakan rambut. Ku tunggu cukup lama tapi tak ada jawaban. Hanya isakan – isakan kecil yang membuat bulu kudukku berdiri.

“w-wait. Seunghee, kau tidak apa – apa?”

Isakan nya semakin kencang dan aku kini tau ia sedang menangis. Hanya dengan mendengarnya melalui telepon aku bahkan bisa mengerti seberapa dalam luka yang membuat air matanya pecah.

“tunggu aku. Aku keatas”

“sekarang”

Sebenarnya kami tinggal di rumah sewa tingkat yang sama, ia menempati kamar 301 dilantai 3 sedangkan aku ada dilantai dasar. Seunghee tinggal sendiri karna harus meninggalkan desanya untuk kuliah di Seoul sedangkan aku, ayah ibu dan adikku tak bisa membiarkan aku hidup sendiri sehingga mereka ikut bersama ku. Aku dan Seunghee berteman sejak kami sama – sama dibesarkan di Pyongchang, tak akan ada yang dapat memisahkan persahabatan kami.

Aku berlari kecil menapaki anak tangga satu persatu. Elevator mengalami sedikit gangguan sehingga ini satu – satunya langkah yang bisa kuambil. Tanpa mengetuk aku segera membuka pintu kamar Seunghee yang berada tepat di penghujung tangga dan kudapati ia yang sedang terduduk dilantai dengan kepala yang ia sandarkan ke lemari pakaiannya. Tampak sangat menyedihkan.

“kau kenapa?”

Tanpa menjawab ia memelukku erat. Sangat erat.

“S-seunghee-ya, kita duduk di sofa saja ya. Disini dingin”

Aku bahkan tak bisa membuatnya berdiri. Ia tetap mengabaikan ku dan menangis. Kalau sudah begini aku hanya bisa bertahan disisinya, menunggu dengan sabar hingga ia bersedia menceritakan semuanya.

Segelas kopi susu hangat ada di genggaman kami berdua. Akhirnya Seunghee menurut dan duduk di atas tempat tidurnya dengan selimut yang terbalut dikaki.

“Joshua kemana?”

Aku menggeleng, bukan karna tidak tahu. Hanya saja aku sedikit malas menjadikan Joshua salah satu topik pembicaraan kami. Oh, sekedar memberitahu aku kenal Joshua berkat Seunghee. Ia bersahabat dekat dengan Joshua sejak SMA, sedangkan aku baru mengenal Joshua akhir SMA saat kami belajar bersama untuk ujian SAT dan kini kami adalah rekan kerja.

“aku merindukan Joshua”

Ia meringkuk, menekuk kakinya dan memeluknya erat.

“kau hanya perlu meneleponnya dan ia akan datang. Kenapa kau sampai merindukannya?”

Ia diam. Membenamkan wajahnya diantara tangan yang bersedekap memeluk kakinya. Untuk beberapa sekon, ruangan terasa sangat hampa.

“aku tidak tau bagaimana menghadapinya nanti, Mimi”

“aku tidak mengerti maksud mu. Memang apa yang terjadi antara kau dan Joshua? Semalam kau juga tidak datang ke acara reunian. Apa yang sebenarnya terjadi?”

Seunghee menatap keluar jendela. Memperhatikan butiran salju yang turun lambat ke bumi. Semakin lama matanya tampak berkaca – kaca. Wajahnya yang putih mulai menunjukan rona kemerahan. Ia tak akan menjawab, pikirku.

“aku jatuh cinta pada Joshua”

Sekian menit, waktu seperti berhenti berdetak. Gravitasi bumi tak lagi menarik benda, dan planet yang kita tinggali tak lagi berputar. Aku kaget.

“a-aku tau. Terlihat sangat jelas selama ini”

“dia memperlakukan ku dengan sangat baik sehingga aku tak bisa berhenti memikirkannya. Apa dia juga memperlakukan mu dengan sangat baik seperti ia memperlakukan ku?”

Aku menggeleng. Mana mungkin lelaki sepertinya bisa memperlakukan ku dengan sangat baik. Yang aku ingat ia sangat menyebalkan, sangat mudah membuatku merasa malu dan marah. Saat itu hanya Joshua bodoh yang bisa terfigur dengan baik. Aku membohongi diriku sendiri.

“kau terlihat sangat serasi dengannya. Dulu aku sempat berfikir kalian adalah sepasang kekasih. Kalian ‘kan selalu menghabiskan waktu bersama”

Aku menepuk pundaknya pelan seraya menunjukan senyumku yang paling menawan. Kalimat yang sangat jujur dariku. Aku selalu merasa mereka berdua cocok sampai saat aku tau, Joshua memiliki kekasih.

“aku benar – benar merindukan Joshua, tapi bertemu dengannya pun aku tak bisa melihat wajahnya. Apa yang harus kulakukan Mimi”

Mulut ku terkatup damai. Hanya tangan ku yang mengusap – usap kepalanya agar ia sedikit tenang. Aku paham, perasaan cinta yang dibalut dengan rasa bersalah pasti sangat menyakitkan apalagi ia menyimpan itu untuk waktu yang sangat lama, sendirian.

oOo

                Gedung dominan putih abu – abu ini adalah tempat dimana aku menghabiskan setengah hari ku untuk mencari lembaran uang. Aku yang terbilang masih baru harus lebih sering membungkukan badan dan mengucap salam. Hampir setiap menitnya. Joshua sangat benci rutinitas ini. Sebagai editor dan page designer, ia merasa tak perlu menghormati siapapun kecuali komputer dan perangkat lunak didalamnya oh juga kamera seharga belasan juta yang selalu menjuntai di lehernya. Padahal ia tak perlu memotret apapun sebagai editor.

Setelah menempelkan kartu akses dan pintu mempersilahkan ku masuk, aku berlari kecil menghampiri elevator yang sedang terbuka meski sesekali harus tetap berhenti untuk sekedar menyapa dan membungkukan badan. Beruntung teriakan ku didengar sehingga pintu lift yang nyaris tertutup kembali terbuka.

“ehem”

Aku acuh. Nafasku tersengal dan aku merasa sangat kehausan, peduli setan dengan deheman yang semakin kencang.

“kau ter-lam-bat”

Suara tepat dikupingku, membuat aku melonjak kaget. Kenapa semua kejadian hari ini membuat ku gila, sih?

Karna kaget, aku spontan menengok kearah sumber suara, kudapati laki – laki menyebalkan, berperawakan putih tinggi, memakai pakaian serba hitam dengan kamera yang menggelantungi lehernya sedang menjulurkan lidah. Aku kalah telak.

“kau bilang tidak masuk”

Ia tak langsung menjawab pun melihatku, malah menatap langit – langit elevator yang merefleksikan bayangan kami berdua. Ya, hanya ada kami berdua didalam lift ini.

“sebentar lagi akhir tahun, aku punya banyak pekerjaan yang harus ku selesaikan”

Aku tau ia berbohong sejak ia melihat keatas dan mulai menyusun kalimat untuk mengelabui ku. Entah aku yang bodoh karna akan berpura – pura percaya atau dia yang membohongi aku, orang yang sudah mengenalnya sangat lama.

“kau terlihat aneh, wajahmu seperti sedang menyimpan banyak pikiran”

“cerewet. ‘Kan sudah ku bilang. Aku punya banyak kerjaan”

Ia sedang ada masalah dengan Jiho, aku berani bertaruh satu buah mesin kopi.

“ada masalah?”

Dia diam, sibuk mengutak – atik ponselnya. Karna tak juga mendapat jawaban aku pun diam jua. Lantai 14 terasa sangat jauh. Terlebih lagi sedari tadi tidak juga ada yang naik kedalam lift. Suasana agak sedikit canggung meskipun kami berdua sama – sama sibuk dengan seluler kami. Aku yang sibuk bermain Candy Crush dan ia yang entah sedang apa. Keheningan menyelimuti kami sampai suara “teng” dan pintu lift terbuka di lantai 14.

“Mimi-ya”

Aku yang berjalan pelan dibelakangnya berhenti, ia membalikan badannya dan menoleh kearahku.

“kau bawa bekal?”

Aku hanya berani mengangguk, karna terlanjur kaget. Bahkan aku tidak bertanya balik.

“nanti kau mau pulang bersamaku tidak?”

Tanya nya lagi. Aku hanya menggidikan bahu lalu berjalan kearah ruangan kami cepat karna Manajer Kim sedang memantau.

Hari ini Joshua terlihat sangat aneh, benar – benar tak seperti biasanya. Tiba – tiba ia bernyanyi lalu bermain – main kecil dimeja kerjaku, setelah itu ia memanggil namaku berkali – kali tanpa alasan yang jelas seperti

“Mimi-ya”

“Oh Mimi”

Bahkan menyenandungkan namaku seperti

“Mimimimimi…mi..mimimi babo mimi… mimimimimi…”

Ia terus menggangguku seperti itu sampai jam makan siang tiba. Karna ia ta membawa bekal akhirnya kita makan di kantin perusahaan. Karna kita makan lebih lambat dari biasanya jadi tak begitu banyak orang di kafetaria ini, sebagai gantinya makanan tak banyak tersisa. Ia hanya memesan bibimbap dan 2 lemon tea untuk kami berdua. Selama kami makan, tak seperti biasanya ia hanya diam. Mau mengajak berbicara pun aku takut akan menceritakan kondisi mengenaskan Seunghee saat ini. Ngomong – ngomong soal Seunghee, apa ia sudah makan siang ya?

Baru saja aku akan menelepon Seunghee, Joshua berdiri dan mengajak kembali ke kantor karna banyak yang harus ia selesaikan. Akhirnya aku tidak jadi menghubungi Seunghee dan berjalan cepat mengikuti langkahnya yang besar. Joshua diam saja, berbeda 180 derajat dengan kelakukannya saat sebelum makan siang.

Aku merasa khawatir, sangat khawatir. Ia tak pernah seperti ini sebelumnya. Biasanya aku tak peduli tapi entah mengapa aku merasa peduli kini. Seperti kami berbagi kepedihan yang sama. Seperti aku merasakan apa yang ia rasakan. Seperti kami hidup dalam satu jiwa. Jangan menambah masalah lagi, Mimi. Kumohon. Berhentilah sebelum apa yang kau pikirkan benar – benar menjadi kenyataan. Tak ada perasaan lebih. Tidak akan ada. Benar tidak ada, kan?

1/3 Fin

To Be Continued

Dear Miracles, Don’t forget to leave your comment or like if you love this. Share would be appreciated much

Advertisements


1 Comment

WISH

wish

OMG’s Binnie as Bae Yoo Bin X BTS’s V as Kim Tae Hyung

Fantasy, Romance | Oneshot 2979 words | R+15 | Banaby

@Yooxxbin : Orang bilang tidak baik menahan emosi, lantas ketika aku mulai meledak-ledak mereka menyuruhku diam.

@Yooxxbin : Orang bilang tidak baik menyisakan makanan, lantas ketika aku membantu temanku menghabiskan sisa pangan nya dia bilang aku monster.

@Yooxxbin : Orang bilang tidak baik menyimpan perasaan, lantas ketika aku menunjukkannya padamu kau tertegun lalu pergi.

@Yooxxbin : Entah siapa yang salah. Stereotype dan pandangan luhur yang berkeliaran dipermukaan bumi membuatku sangat muak. Satu hari, hanya satu hari saja. Siapapun itu. Tuhan, Dewa atau Buddha. Siapapun. Biarkan aku pergi!

oOo

          Dongdaemun berubah menjadi lautan manusia. Tak ada bazar tak ada pria tampan tapi hari ini Dongdaemun lebih sesak dari biasanya. Entah ini hanya perasaan gadis itu saja atau bagaimana. Yang jelas ia tak begitu peduli. Setelah menyelesaikan satu chapter cuitan nya di sosial media semalam, ia tidur terlampau pulas sampai lupa jika esok pagi akan ada alarm yang membangunkannya. Karena sudah sangat siang ia tak kedapatan waktu untuk mengintip.

Langkah kaki kecilnya yang berbalut sepatu kets putih menyusuri trotoar tanpa kenal berhenti. Ia terus berjalan tak mau memberi tenaga lebih untuk berlari. Bagaimana ya, ia sudah sangat muak dan menjadi masa bodoh dengan hukuman atau semacamnya. Selama ia tak merugikan siapapun ia akan tetap begitu. E tapi tunggu…

“bukankah jika hari ini aku telat, artinya itu sudah yang ke 4 kalinya dalam seminggu ini dan jika benar, aku akan dihukum dan surat panggilan orang tua akan dikeluarkan?”

Akhirnya ia mau menghentikan langkahnya

“itu berarti aku akan merugikan orang tua ku!”

Sejenak sebelum akhirnya lari sekencang-kencangnya. Tak peduli berapa kali tubuh kecil nya nyaris tertubruk entah itu pedestrian lain, sepeda, motor bahkan mobil ia tetap berlari.

Tak ada yang mampu menghentikannya meskipun itu pria berpakaian hanbok kuno aneh dan memanggil namanya. Iya, gadis yang akhirnya diketahui bernama Yoo Bin berkat kicauan pria aneh tadi, tak jua berhenti. Menengok saja enggan.

Tak sekali tak juga dua kali.

Pria tadi diabaikan.

“tsk…”

Desisnya seraya mengayunkan kipas tepat dihadapan Yoo Bin. Gadis berambut pendek itu tentu tidak berhenti begitu saja. Kalian fikir ia memiliki pedal rem ditubuhnya? Susah payah ia mencoba menghentikan langkahnya meski pada akhirnya ia tetap terjatuh menimpa pria aneh berpakaian hanbok.

Bruk!

“HYA SIAPAPUN KAU! AKU SUDAH TELAT KESEKOLAH SEKARANG! KAU MAU APA SIH EOH?!”

“T-tunggu nona, bisakah kau bangun dulu sebelum meneriaki ku? Ra-rasanya posisi ini t-tidak benar”

Sambil berdehem menahan malu, Yoo Bin berdiri. Memberi akses lebih untuk pria tadi leluasa bangun.

“kau terlihat sangat kurus tak kusangka kau berat juga ya”

Ujar pria tersebut berusaha bangkit dengan memegangi pinggul nya yang bisa dipastikan sakit.

“ugh sudahlah masa bodoh! Aku terlambat! Da-”

Siapa sangka syal hijau yang melilit di leher Yoo Bin menjadi pengkhianat setidaknya detik ini. Berkat benda itu Pria berpakaian Hanbok dapat menahannya seketika. Ia menarik syal hijau Yoo Bin sehingga mau tak mau gadis itu berjalan mundur dan mendekat.

“kau siapa sih? Kau mau apa? Aku akan terlam-“

“ssshhhh~” telunjuk pria itu hinggap di bibir Yoo Bin. Mulutnya terkatup paksa.

“hya anak muda, biarkan aku memperkenalkan diri.”

“Aku, KIM-TAE-HYUNG. Hantu paling tampan dan populer abad ini yang memiliki wajah seperti idol. Dulunya seorang bangsawan yang sangat ramah dan selalu dipuja kaum wanita.”

Jelasnya dengan tak lupa mengibaskan kipas tangan seirama dan perlahan melepaskan telunjuknya di ranum Yoo Bin.

“H-HANTU?”

Taehyung mengangguk.

“Jangan takut karna a-“

“BUAHAHAHAHA HANTU KATANYA BUAHAHA BIBI ORANG INI BILANG DIA HANTU BUAHAHAHA”

“h-hey! Kau terlihat seperti orang gila. Bibi penjual kaus kaki itu tidak bisa melihat kita bodoh!”

“BUAHAHAHAHA HEY ANJING LUCU DIA BILANG DIA INI HANTU LHO BUAHAHAHA”

“grrrrr~ Guk! Guk! Guk! Grrrr~”

“hentikan! anjing memang bisa melihat hantu tapi dia menyeramkan. Oh lihat air liur nya! Menggelikan!”

“grrrrr”

Disaat Taehyung melompat-lompat karna gonggongan anjing hitam liar yang ditujukan padanya, Yoo Bin justru tertawa dan menjadi lupa akan statusnya sebagai pelajar-yang-nyaris-terlambat.

Gadis itu memang pernah melihat makhluk astral tersebut saat ia kecil. Tapi entah sejak kapan kemampuan tersebut lambat laun memudar dan ia menjalani hidupnya sebagai gadis normal. Tentu saja ia lupa pernah melihat kaum lain itu, sehingga ia beranggapan bahwa di zaman modern seperti sekarang ini, mustahil jika hantu itu ada.

oOo

          “jadi kau mau bilang kalau aku ini juga hantu, begitu?” terlihat tenang, Yoo Bin menyeruput lemon tea-nya dan Tae hyung merefleksikan dengan melakukan hal yang sama. Mereka menyempatkan diri duduk di café yang letaknya hanya beberapa langkah dari sekolah Yoo Bin. yang lucu, café bernuansa Romawi kuno ini rupanya adalah café khusus hantu.

“belum, kau belum menjadi hantu. Masa kau tidak sadar?” Yoo Bin menggelengkan kepalanya, bibirnya belum ingin lepas dari sedotan putih di dalam gelas ternyata.

“kau tidak lihat apa yang terjadi di Dongdaemun pagi tadi?” Yoo Bin menggeleng lagi masih dalam posisi yang sama, beda nya kali ini ia menyeruput cairan itu. Taehyung mengusap wajahnya frustasi.

“tadi itu kau kecelakaan, jadi banyak orang yang mengerumunimu. Masa begitu saja kau tidak tau nona?”

Butuh waktu sepersekian sekon untuk Yoo Bin mencerna kalimat itu sampai akhirnya ia…

“MWO? KAU BERCANDA? AKU DIMANA SEKARANG? RUMAH SAKIT MANA?”

Saking kagetnya, ia sampai menarik kerah hanbok Taehyung dan menatapnya lamat-lamat. Taehyung sadar, ada air mata yang akan jatuh kala gadis itu berkedip.

“b-bisakah kau lepaskan ini dulu nona? A-aku tidak bisa bernafas”

Hipotesa Taehyung benar, air mata baru saja terjatuh dari pelupuk mata gadis itu. Cepat – cepat Yoo Bin menghapusnya karna malu sampai akhirnya melepaskan kedua tangannya di kerah Taehyung.

mian…”

Sambil terbatuk – batuk Taehyung kembali duduk dan memberikan tanda “bukan masalah” dengang tangannya. Yoo Bin menahan tangisnya walaupun sulit. Wajahnya sudah kemerahan.

“kau ini kenapa?”

“a-aku… aku hanya takut mati. Kau tau kan aku ini anak satu – satunya. Aku belum bisa membahagiakan ibu dan ayahku. Aku harus ikut ujian SAT dan masuk ke Universitas Korea. A-aku..”

Bukan hanya Yoo Bin yang meneteskan air mata, Taehyung justru menangis lebih deras dari nya. Membuat Yoo Bin berhenti menangis dan justru menenangkan Taehyung. Setelah cukup tenang, Taehyung kembali buka suara,

“kau belum mati kok. Ini hanya jawaban dari semesta untuk permohonan mu malam itu”

“p-permohonan?”

(Flashback)

Malam itu kau yang sedang menangis karna baru saja ditolak,

“T-tunggu! Bisakah kau tidak membocorkan kalau aku ini ditolak? Skip saja!”

Menyusahkan! Yang pasti setelah itu kau menulis di SNS mu yang kurang lebih isinya kalau kau muak dengan stereotype dan pandangan luhur masyarakat. Jadi kau meminta tolong untuk pergi dari itu semua meskipun hanya satu hari.

“tapi aku tidak memohon pada hantu”

Oleh Karena itu, aku Kim Taehyung yang sejatinya masih punya banyak kesalahan masa lalu diutus untuk membantumu agar aku bisa tenang ke alam baka. Dan jika aku beruntung aku bisa bereinkarnasi menjadi idol.

(end)

Taehyung memasang tampang heroic dengan menyilangkan kedua tangan didepan dada dan menyilangkan kaki nya. Yoo Bin agak merasa jijik tapi bagaimanapun ini semua dimulai karna permintaan bodohnya.

“jadi kau ingin bilang kalau aku akan kembali menjadi manusia besok?”

Telunjuk Taehyung menari kekanan dan kekiri seirama dengan “no… no… no…

“ketika kau sudah merasa puas dan tugas ku selesai”

Saat itu Yoo Bin tidak mengerti bahwa kepuasan yang akan ia dapatkan berarti kehilangan.

oOo

          “kalau begitu nona Yoo Bin, ini adalah dunia yang akan mengabulkan segala keinginanmu. Disini tak ada pandangan masyarakat yang mengikat. Disini semuanya bebas terkendali hanya ada kita berdua dan tokoh – tokoh yang diinginkan. Selamat datang di Dunia Paralel Harapan”

Langkah kaki Yoo Bin bergerak dengan sendirinya begitu sebuah pintu kayu besar berwarna biru yang berukuran dua kali tinggi badannya dibukakan. Yang membuat matanya terbelalak kaget adalah, tak ada yang berubah disana. Itu tetaplah café yang mereka masuki tadi. Ia sangat yakin karna semuanya mirip, Jendela berukuran maksi yang berjajar disisi pintu masuk, cat tembok yang mengharmonikan dengan baik warna putih, coklat dan juga biru, hingga tiang – tiang yang diselimuti daun dan akar buatan. Semuanya sama persis. Hanya saja tak ada tanda – tanda kehidupan disana.

“t-tuan Taehyung i-ini… apa kau membohongiku bahwa ini sebenarnya Surga dan aku sudah mati? Iyakan?”

Lagi – lagi Yoo Bin kelepasan dan menarik kerah Taehyung kuat – kuat.

“kenapa kebiasaan mu ini sangat buruk sih? L-lepaskan dulu…” suara Taehyung bergetar karna hampir saja kehilangan nafas.

“maksudnya apa? Kenapa tidak ada satupun orang disini?”

Yoo Bin masih enggan melepaskan tangannnya dari kerah Taehyung.

“tolong lepaskan dulu. Aku akan menjelaskan semuanya”

Gadis itu masih kesal tapi bagaimana ya, wajah Taehyung yang memelas saat ini membuat nya luluh dan menjadi salah tingkah kala mata Taehyung memandang nya pasrah seperti anak anjing yang kehujanan dan minta dipayungi. Akhirnya tangan Yoo Bin lepas perlahan.

“sekarang coba lihat kesekeliling dan bayangkan orang yang ingin kau temui saat ini”

Yoo Bin mengikuti perintah Taehyung dan mencoba memikirkan siapa yang ia inginkan. Perlahan – lahan beberapa orang muncul disana dengan sendirinya.

“kau benar! Itu teman – teman ku! Ada Si A, Seunghee, dan Jiho!”

Yoo Bin melonjak kegirangan melihat sahabatnya. Walaupun baru sehari saja tidak bertemu, ia sudah merindukan teman – temannya. Banyak yang ingin ia ceritakan kepada sahabat nya dan ini membuat rasa rindunya terobati.

GOMAWO !” Teriak Yoo Bin bahagia sampai – sampai tanpa sadar ia memeluk Taehyung erat sebelum berlari ke meja sahabatnya. Meninggalkan seorang laki – laki dengan wajah memerah dan jantung tidak karuan.

“Hay teman – temannnn! Aku rindu kaliannnn~” Yoo Bin memeluk temannya satu persatu, melihat kelakuannya Taehyung hanya bisa bergumam

“kebiasaan yang akan membuat siapapun salah paham. Kenapa semua kebiasaan mu itu buruk sih. Huh.” Gumamnya sambil berjalan menghampiri Yoo Bin yang memulai bercakap – cakap riang dengan teman – temannya.

“nah sekarang, kau bisa makan sebanyak apapun yang kau mau dan teman mu tidak akan mentertawaimu. Cepat kau ingin kembali ketubuhmu kan?”

Yoo Bin hanya tersenyum sambil mengangguk. Ia kembali membayangkan beberapa makanan tersaji diatas meja mereka dan ia memakan semua itu tanpa berfikir panjang sambil sesekali melanjutkan perbincangan dengan teman – temannnya. Sedang Taehyung hanya mengawasinya dari luar café.

Tidak lama Yoo Bin keluar dengan membawa sebuah cupcake dengan krim strawberry diatasnya dan segelas espresso panas. Menyodorkannya ke Taehyung, tentu saja.

“terimakasih sudah menunggu. Aku merasa seperti memiliki kekasih.”

Melihat Yoo Bin tersenyum manis seperti itu membuat Taehyung tak kuasa dan ikut mengulum senyum sambil meraih cupcake dan espresso nya.

“kenapa espresso?”

“Karena aku membayangkan sebentar lagi akan turun salju”

Dan benar saja, bongkahan es yang dengan indahnya menari – nari dilangit sambil perlahan turun menghampiri. Sore hari yang sangat indah, persis seperti yang selalu Yoo Bin bayangkan kala terhanyut dalam serial drama kesukaannya.

“apa ini juga permohonan mu?”

Yoo Bin menggeleng, “a-ni, ini impian ku” lalu berlarian sepanjang jalan raya yang mulai ditutupi salju dan menari – nari.

oOo

          “permohonan mu yang berikutnya yaitu meluapkan emosi kan?” tanya Taehyung sambil meneliti layar handphone digenggamannya. Yoo Bin mencuri lihat yang tentu saja akan langsung ditutup oleh Taehyung.

“kau ini pelit sekali tuan, pasti kesalahan masa lalu mu adalah karna kau pelit kan?”

Taehyung menanggapinya santai dengan tak menggubrisnya. Ia hanya diam sambil berjalan menyusuri jalan lagi.

“hey nona, cepat bayangkan mobil. Aku lelah berjalan seperti ini !”

Yoo Bin yang tadinya sudah siap berlari kecil menghampiri Taehyung jadi mengurungkan langkah nya.

“kau ini lemah sekali sih!”

“sudah jangan berisik cepat berikan aku mobil !”

Taehyung berbalik arah dan malah menghampiri Yoo Bin. sesampainya disana ia mencubit kedua pipi gadis itu dengan gemas.

“cepaaaat” ucapnya lagi bahkan cubitannya semakin keras Yoo Bin rasa.

“iya lepaskan dulu… sakiiiit”

Taehyung kembali kekesadarannya dan cepat – cepat melepaskan tangannya dari kedua pipi Yoo Bin lalu memperhatikan gadis itu yang sedang mencoba membayangkan mobil sambil memegangi kedua pipinya. Ia merasa iba kini.

“nah itu mobilnya! Ayo!” ujar Yoo Bin sambil menarik lengan Taehyung dan membawanya menuju mobil kuning yang baru saja ia bayangkan.  Ia dengan cepat membuka pintu mobil dikursi penumpang dan langsung duduk disana. Sedangkan Taehyung justru diam dan berdiri di samping pintunya dengan tampang bodoh. Melihat itu Yoo Bin sedikit kesal dan menurunkan sedikit kaca mobil.

“Hey tuan! Cepat masuk! Tadi kau yang minta!”

Taehyung tak bergeming.

“HYA!” Yoo Bin yang sudah kesal keluar dari tempatnya dan segera meraih tangan Taehyung menuju pintu diseberang untuk duduk dikursi pengemudi. Tau akan dibawa kemana Taehyung mencoba untuk berpegangan pada bagian mobil agar Yoo Bin mau menghentikan langkahnya.

“AISH! MAU MU APASIH EOH? INI MOBIL YANG KAU MINTA! BAHKAN PIPIKU SAMPAI MENJADI KORBAN! KENAPA KAU SANGAT MENYEBALKAN SIH!”

Biarpun lagi – lagi kerah hanbok nya menjadi sasaran, kali ini Taehyung terlihat menerima dan pasrah. Tak ada perlawanan bahkan sekedar kata – kata.

“HYA!” bahkan walaupun Yoo Bin berteriak tepat didepan wajahnya. Taehyung tetap diam. Tak ada perubahan ekspresi sama sekali. Yoo Bin justru terlihat merasa bersalah begitu mengingat beberapa drama yang ia tonton selama ini.

“m-mian” ucapnya sambil melepaskan Taehyung perlahan.

“a-apa tuan mengalami trauma dengan mobil?”

Taehyung masih belum bergeming, pandangannya kosong menatap Yoo Bin.

“a-atau… kau meninggal saat sedang naik mobil?”

Taehyung masih diam dan sesekali melihat kearah mobil lalu kearah Yoo Bin. membuat Yoo Bin semakin merasa bersalah dan menyimpulkan bahwa perkiraannya adalah benar. Jadi ia perlahan menghampiri Taehyung, mempersempit jarak diantara mereka dan memeluknya dalam – dalam.

“maafkan aku… aku tidak tau kalau kau takut menyetir karna punya masa lalu seperti itu. Maafkan aku. Pasti itu sangat berat. Kau boleh mencurahkan semuanya sekarang. Aku akan mendengarkanmu” dengan nada sedih Yoo Bin makin mengeratkan tautan lengannya yang melingkari tubuh Taehyung.  Lelaki itu membalas pelukannya.

“bukan begitu. Aku hanya memikirkan kebodohanku. Kenapa aku meminta mobil padahal tidak satupun diantara kita yang bisa membawanya”

Yoo Bin malah makin mengeratkan pelukannya. Semakin erat.

“tidak kau tidak salah sama sekali tuan. Eh, mungkin sedikit. Aku benar – benar tidak tau jika masa lalu mu…”

“dimasa lalu ku belum ada mobil bodoh!”

Kalimat itu seperti menampar Yoo Bin, membuat pipinya yang sudah sakit karna cubitan Taehyung sebelumnya terasa lebih sakit. Ia mendorong Taehyung kuat – kuat sampai pria itu terjatuh diatas tumpukan salju. Yoo Bin berlari pergi sambil menahan rasa malunya

“ah Yoo Bin aku benar – benar bodoh” diiringi oleh tawa Taehyung yang renyah.

oOo

          “aku rasa aku sudah tidak memerlukan keinginan keduaku untuk meluapkan emosi ku. Terimakasih kepada Tuan Taehyung yang terhormat karna emosi ku benar – benar berhasil meluap – luap”

“dan tentu saja rasa malu mu kan?”

“HYAK HENTIKAN!” Yoo Bin menyikut Taehyung yang ada disampingnya cukup kuat sampai Taehyung hampir tertelungkup.

Hari sudah semakin sore, sebentar lagi bahkan matahari akan terbenam. Itulah sebabnya saat ini mereka hanya terduduk disisian sungai Han dan menunggu matahari untuk benar – benar pergi tidur.

“Tuan Kim, kesalahan apa yang membuatmu tidak bisa ke alam baka?”

Taehyung menoleh sebentar lalu menundukkan kepalanya.

“aku menyakiti hati seorang putri kerajaan karna menolak menikah dengannya. Sial padahal ia sangat cantik!”

Lelaki itu kini membaringkan tubuhnya diatas rerumputan yang masih sedikit tertutupi salju yang kemudian diikuti oleh gadis disampingnya.

“kenapa kau menolaknya?”

“dia terlalu indah. Walaupun aku kaya dan tampan tapi asal usul keluarga ku bertentangan dengannya. Sahabat ku jauh lebih pantas, ia terpelajar, kaya juga tampan. Dan yang lebih penting lagi ia… setia”

Manik mata Taehyung menatap langit senja dalam, entah apa yang ia fikirkan kini. Meskipun Yoo Bin ingin tau, ia hanya mengatup diam. Bukan haknya untuk mencari tahu juga.

“sekarang tinggal diterima oleh lelaki impianmu kan?”

Taehyung menoleh dan merubah posisinya menjadi menghadap Yoo Bin. membuat Yoo Bin yang sedang menatapnya tertangkap basah dan jadi salah tingkah.

“I-itu… kak Chanshik mungkin memang tak suka aku. Akan sangat menyedihkan jika aku membayangkan ia menerimaku disini sebagai khayalan dan akan berbeda di kehidupan nyata nanti. Semua yang terjadi hari ini sangat menyenangkan. Dan itu sudah cukup.”

Mata gadis yang mulai berkaca-kaca itu bukan karna refleksi aliran sungai Han, warna merah muda nya juga bukan karna langit senja. Hanya saja ia membayangkan hal yang sudah terjadi hari ini dan membuatnya agak menyesal.

“akan lebih baik jika ada orang yang mengingatkan ku ternyata. Untuk menahan amarah juga menghentikanku saat makan banyak. Jika semua membiarkan ku begitu, hidup akan sangat membosankan”

Yoo Bin bangkit dari tidurnya, kenyamanan itu hanya membuatnya ingin menangis lebih lagi.

“bagaimana dengan lelaki itu?”

Lama Yoo Bin menjawab, ia terpaku pada mentari yang sedikit demi sedikit mulai bersembunyi dan kegelapan yang akan datang sebentar lagi.

“terkadang sakit hati itu bagus. Berkat dia aku bisa bertemu dengan mu dan itu sudah lebih dari sekedar cukup”

“maksudmu nona?”

“aku bahagia. Maksudku sangat. Hari ini adalah hari terbaik ku”

Taehyung ikut bangkit dan merekatkan jarak mereka.

“sepertinya kita sudah sama – sama memenuhi apa yang harus kita penuhi”

Yoo Bin mengangguk. Ia sudah merasa cukup dengan semuanya meski belum ingin berpisah dengan Taehyung.

“kau benar, aku sudah mencukupi semua keinginanku dan ternyata lebih baik jika tidak terwujud. Tapi aku tetap berterimakasih.”

Tak ada suara setelah itu hanya hembusan angin sore dan mungkin degupan jantung mereka berdua saat berlempar senyuman.

“bagaimana cara membayar dosa mu tuan? Aku ingin membantu”

Bukannya menjawab, Taehyung malah memeluk tubuh kecil gadis disampingnya. Ingin menciumnya tapi ia justru akan membuat dosa yang baru. Pelukannya terasa sangat hangat sampai membuat Yoo Bin memejamkan mata dan membayangkan segala hal yang indah seperti kebun Bunga dan kembang api.

Taehyung memulai percakapan sambil berbisik di telinga Yoo Bin, mengatakan hal yang mendebarkan seperti…

“apa kau menyukaiku?”

Yoo Bin agak terperanjat tapi tak cukup untuk membuat pelukan mereka terlepas.

“iya, aku menyukaimu meski sesingkat ini. Hah. Aku benar – benar wanita jalang kan?”

Jawaban Yoo Bin membuat Taehyung tersenyum, meskipun gadis itu berusaha melonggarkan jarak lagi tapi Taehyung menolaknya dan malah memeluknya lebih erat.

“tidak… tidak sama sekali.. terimakasih telah membantuku menebus dosa”

Meskipun kepala Taehyung tepat di telinga Yoo Bin, tapi entah kenapa suaranya terdengar menjauh dan sedikit menggema

“Aku mencintaimu. Mari bertemu lagi saat aku menjadi idol.” ucap Taehyung sebelum akhirnya perlahan – lahan menghilang dari pelukan Yoo Bin.

oOo

          Setelah hari itu Yoo Bin kembali kedalam tubuhnya dan menjalani hidupnya sebagai gadis normal. Tak ada lagi keluhan dalam hidup nya. Ia suka segalanya tentang hidup. Meskipun ia berpisah dengan Taehyung tapi ia yakin mereka akan bertemu. Tidak lama lagi.

@Yooxxbin : Tuan Taehyung yang terhormat. Aku akan setia menunggumu tampil di TV. Cepatlah kembali sebagai idol. Aku mencintaimu!

FIN

hay semuanyaaa perkenalkan aku author baru disini.maafkan aku ya min diterimanya udah lama tapi baru bisa debut disini sekarang. aku juga masih awam tentang OMG tapi aku suka. semoga aku yang masih rookie ini bisa berkembang yaaaa… makasih kesempatannya. makasih juga udah baca~ jangan lupa RCL ya sayang :* xoxo~


Leave a comment

[Oneshot] Terjebak Nostalgia

Eunwoo [ASTRO] and Arin [OMG] | Comfort | G | Oneshot
©2016 AitadikasaStory | Alkindi @Poster Channel 

 

“Suatu saat, manusia akan merasa sendirian dan hidup dalam kenangannya..

.

Eunwoo membuka mata gelisah. Obsidiannya melirik jam di atas meja. Sudah pukul dua dini hari, namun ia belum juga bisa terlelap walau sedetik. Tangannya pun menyibak selimut lalu menurunkan kaki ke lantai, menuju jendela.

 

Langit nampaknya mengerti bagaimana perasaan Eunwoo. Bentangan biru pekat itu tak sedikitpun menunjukkan kemewahannya. Bintang tak sudi menemani sang rembulan yang mulai terhalang awan. Bahkan untuk malam ini, mereka enggan menitipkan cahaya untuk seorang pemuda yang tengah terselubung kabut.

 

Desahan napas putus asa terembus dalam kesunyian malam. Eunwoo menutup gorden, menghalau candra maupun gemintang mengintip kesedihannya. Ia terduduk di tepi ranjang. Pandangannya buram terlapis basahan bening. Seketika otaknya terputar mengenang peristiwa demi peristiwa yang ia lalui bersama seorang gadis.

 

Pagi itu Eunwoo datang agak terlambat. Ia bergegas masuk ke kelas dan untungnya belum ada guru yang masuk. Detik itu juga, Eunwoo menghela napas penuh syukur lantas duduk di bangkunya.

 

“Eunwoo, kau membuat surat ini?”

 

“Tidak. Memangnya kenapa?”

 

“Oh ya? Tapi di sini tertulis namamu.”

 

Eunwoo mengambil amplop putih yang disodorkan Hana—teman sekelasnya yang baru-baru ini menyatakan perasaan padanya. Ada nama Eunwoo di tengah amplop yang membuatnya mengernyit. Untuk menjawab rasa penasarannya, lelaki itu pun membuka amplop dan menarik secarik kertas dari dalam.

 

Meski lantang kuucapkan, apa kau akan mendengar? Memang tak ada hak bagiku untuk memintamu membalas, namun tak bisakah kau melihatku barang sedetik?

 

“Di mana kau temukan surat ini?”

 

“Di mejaku. Kenapa?”

 

“Sepertinya ada orang iseng yang membuat surat ini untukku, tapi salah meletakkannya. Tolong jangan salah paham ya, Hana.” Kemudian Eunwoo tersenyum pada gadis itu. Dalam hati ia membatin sebal, siapa sih yang kekanak-kanakan membuat surat cinta seperti ini?

 

-*-

 

Saat itu, Eunwoo tengah berlatih dance. Hari sudah sore, sekolah pun terasa sepi. Paling hanya satu-dua siswa yang masih tertahan karena belum dijemput. Tiba-tiba gadis itu datang tanpa permisi dan langsung menyoraki Eunwoo.

 

“Kau mengagetkanku tau,” ujar Eunwoo sembari mematikan musik dan menenggak air mineralnya.

 

“Hehe, sori, Kak. Oh iya, ini ada cake buat Kak Eunwoo.” Gadis itu menyerahkan kotak bekal berwarna biru laut sambil menyunggingkan seulas senyum manis. “Aku masak sendiri loh, Kak. Yah, walaupun dibantuin Mama dikit hehe. Jangan lupa dimakan ya, Kak? Cake ini aku bikin khusus buat Kak Eunwoo.”

 

“Hm, letakkan di meja, nanti akan kumakan kalau sempat.”

 

Biasalah, orang ganteng banyak yang nge-fans, batin Eunwoo bangga.

 

-*-

 

Selain dance, Eunwoo lumayan jago main basket. Itulah alasan kenapa ia dipilih untuk jadi kapten tim basket kelasnya dalam kegiatan pertandingan basket untuk mengisi free-class.

 

Saat masuk ke lapangan, ada seseorang yang begitu lantang menyoraki nama Eunwoo sampai laki-laki itu merasa risih. Sebabnya, sejak masuk lapangan hingga pertandingan berakhir, orang itu terus melengkingkan suaranya. Mungkin dia pikir Eunwoo akan senang, padahal sebaliknya.

 

“Kak Eunwoo, semangat!! Fighting fighting fighting! Eunwoo Oppa pasti bisa!”

 

“Wohoo! Kak Eunwoo!!”

 

Ah, cewek itu lagi, batin Eunwoo malas.

 

-*-

 

Eunwoo termasuk jajaran siswa yang bertanggung jawab dalam ekskul dance. Ia wajib meluangkan waktu untuk melatih adik-adik kelasnya walaupun ia sendiri sudah kelas tiga dan seharusnya fokus pada ujian.

 

“Semua sudah datang?” tanya Eunwoo ketika baru saja menginjakkan di ruang latihan.

 

“Sudah, Kak. Tadi aku sudah ngabarin semuanya supaya tidak terlambat.”

 

“Bagus kalau gitu, kita mulai sekarang ya?” ujar Eunwoo pada seluruh siswa-siswi yang datang. Ia hendak berjalan ke tengah, namun tertahan karena seorang gadis memanggilnya.

 

“Kak Eunwoo,” panggil gadis itu malu-malu. Eunwoo menoleh padanya. “Hari ini Kak Eunwoo keren!” ujarnya sembari mengacungkan kedua jempol.

 

Eunwoo terdiam lantas berlalu. Apa-apaan sih anak itu? Norak banget.

 

-*-

 

Eunwoo duduk di tengah lingkaran yang dibuat oleh anak-anak dance. Mereka sedang membicarakan koreografi yang akan dipakai dalam perform pentas seni bulan depan. Akan tetapi Eunwoo merasa amat risih dan ingin mengumpat karena dilihati berlebihan oleh seorang cewek.

 

Sekuat tenaga, Eunwoo menahan diri. Hingga akhirnya setelah rapat itu selesai, ia menemui gadis itu untuk bicara.

 

“Dek, ada yang mau aku bicarain sama kamu.”

 

“Ada apa ya, Kak?” Pipi gadis itu memerah, membuat Eunwoo merasa jengah. Pasti gadis itu berfikir yang tidak-tidak, contohnya: mungkin Eunwoo akan menembaknya.

 

“Dari tadi aku rasa, kamu terlalu berlebihan ngelihatin aku.”

 

“Ha? Oh itu.. Kakak merasa nggak suka ya?”

 

“Ya jelaslah. Risih banget kalau ada yang berlebihan begitu.”

 

“Oo.. maaf, Kak. Nggak akan saya ulangi.”

 

Gadis itu pun pergi setelah mendapat tatapan garang dari Eunwoo.

 

-*-

 

“Halo Kak Eunwoo,” sapa seorang gadis ramah, yang membuat Eunwoo menghentikan langkahnya.

 

Gadis itu lagi.

 

“Hai,” balas Eunwoo, mencoba berbasa-basi supaya namanya tak tercemar. Ia enggan mendengar berita ‘seorang Eunwoo itu sombong’ seperti waktu itu.

 

“Nanti ada latihan dance nggak, Kak?”

 

“Iya dong. Jangan terlambat ya?” Eunwoo tersenyum sebelum kembali berjalan.

 

“Uwaa! Kak Eunwoo ramah banget! Yaampun, sumpah dia itu gantenggg.” Terdengar seruan itu yang menelusup gendang telinga Eunwoo, yang membuatnya bergidik geli.

 

Eunwoo menghapus linangan air mata yang telah menganak sungai di wajahnya. Dadanya terasa sesak ketika udara mendesak masuk ke rongga paru-paru. Semua terasa amat menyakitkan untuk dirasakan. Penyesalan yang tak pernah memberi tahu akan menghempas kebahagiaan ke dasar jurang.

 

“Kak Eunwoo, tunggu sebentar. Ada yang mau aku omongin.”

 

Eunwoo menahan langkah dan berbalik kembali, menemui seorang gadis bersurai cokelat di dasar tangga.

 

“Ada apa?”

 

Gadis itu memilin jemari gelisah. Eunwoo hanya diam memandangnya, memilih menunggu daripada gegabah dan menyudutkannya.

 

“Aku.. aku cinta Kak Eunwoo.”

 

Eunwoo tak berkedip, tubuhnya seolah membatu. Tak ada satupun bagian yang bergerak, seakan waktu telah memberhentikan segalanya.

 

“Besok adalah hari kelulusan Kak Eunwoo.. itu berarti kemungkinan untuk bertemu Kakak sangat kecil. Maka dari itu.. kuputuskan untuk mengakuinya.” Kepala gadis itu terangkat sedikit, memandang sosok lelaki jangkung yang berdiri di anak tangga kedua darinya.

 

“Aku.. nggak akan berharap lebih. Jadi.. Kak Eunwoo jangan merasa terbebani.”

 

Hari itu, untuk pertama kalinya, Eunwoo merasakan gejolak dalam dada yang begitu kuat mengobrak-abrik jiwanya. Kegugupan begitu terasa walau tak diminta. Jantungnya berkontraksi tak semestinya, begitu cepat dan mendebarkan.

 

Hati bertanya, apakah kau menyukainya? Apakah kau akan menerimanya atau mengecewakannya?

 

Akan tetapi tak sebegitu mudahnya untuk menjawab. Untuk pertama kalinya, Eunwoo dirundung perasaan bimbang. Ia terus dihantui oleh gadis itu, pernyataan cintanya yang tiba-tiba.

 

Apakah benar selama ini kau tak menyukainya? Renungkanlah bersama debaran jantungmu itu, Eunwoo. Ini pertama kalinya ada gadis yang berani menyatakan perasaannya padamu. Itu berarti, gadis itu sungguh menyukaimu kan? Apa kau yakin akan membuatnya kecewa dan sakit hati?

 

Senin, tepat dua hari setelah perayaan kelulusan, Eunwoo menemui gadis itu. Setelah melakukan renungan panjang yang menyiksa, hari ini Eunwoo akan memberikan jawaban pasti yang telah dimantapkan oleh sang hati.

 

“Aku akan berusaha sebaik mungkin untuk menjaga hatimu.”

 

Ia percaya, sang bayu tak mungkin salah menyampaikan ke rungu. Namun tetap saja, rasanya sulit untuk menerima jawaban mengejutkan itu.

 

Eunwoo tersenyum. “Aku sungguh akan berusaha.”

 

“Kak Eunwoo… serius?”

 

Eunwoo mengangguk lantas mengusap puncak kepala gadis itu. Awalnya terasa canggung itu wajar kan?

 

“Aku nggak apa-apa kalau Kak Eunwoo menolak. Aku nggak mau Kak Eunwoo merasa terbebani. Sungguh aku akan baik-baik aja walaupun Kak Eunwoo tak menerima perasaanku.”

 

“Kamu tak tahu maksud ucapanku, ya? Kan sudah kubilang, aku akan berusaha menjaga hatimu. Itu artinya aku menerimamu kan? Tapi kenapa kau ingin aku menolaknya, hm? Apa kau menyesal karena sudah menyatakan perasaan padaku?”

 

“Tidak, bukan begitu, Kak. Aku hanya.. hanya tak bisa mempercayai ini. Aku.. aku merasa sangat bahagia. Terima kasih, Kak.”

 

“Hei, jangan menangis. Bisa-bisa ada yang mengira aku melakukan sesuatu hal buruk padamu. Berhentilah,” ujar Eunwoo sembari menenggelamkan kepala gadis itu ke pelukannya.

 

-*-

 

Hubungan itu berlanjut hingga terjalin selama delapan bulan. Awalnya Eunwoo masih ragu dengan perasaannya, karena pada minggu-minggu awal pacaran, ia masih merasa kurang nyaman. Namun ketika bulan berganti,  perasaan Eunwoo mulai mekar. Mungkin dulu ia memang merasa risih karena gangguan-gangguan gadis itu, sekarang tidak lagi. Bahkan Eunwoo juga tidak tahu sejak kapan hatinya berdebar karena gadis itu. Yang jelas, sekarang ia merasa sangat nyaman dengannya. Mereka juga jarang bertengkar.

 

“Sepertinya ponselku tertinggal.”

 

“Yang benar? Coba dicek lagi.”

 

“Tidak ada. Pasti tertinggal di tenda makanan bibi itu.”

 

“Dasar ceroboh! Kalau begitu biar aku yang ambil, kau tunggu di sini, aku akan segera kembali,” ujar Eunwoo sembari mengusap puncak kepala gadisnya.

 

“Ok.”

 

Eunwoo menyeberang jalan, kembali ke tenda biru yang tadi menjadi tempat singgahnya untuk makan malam. Memang benar, ponsel itu tertinggal di sana. Untunglah pemilik kedai itu berbaik hati mau menyimpannya dulu. Eunwoo menggelengkan kepala, kadang kekasihnya itu bisa menjadi super ceroboh.

 

Langkah Eunwoo terhenti ketika lampu lalu lintas sudah berganti warna. Ia melambai pada kakasihnya yang setia berada di seberang jalan.

 

“Rin! Ponselmu ketemu!” teriak Eunwoo.

 

“Benarkah? Makasih ya!”

 

“Tunggu aku di sana, aku akan menyusulmu!”

 

Gadis bermata belo dengan manik caramel itu tersenyum jenaka kemudian berteriak, “Kak Eunwoo, aku mencintaimu!”

 

Meski merasa geli, Eunwoo pun mengangguk dan tersenyum. “Aku lebih mencintaimu! Dan aku bersyukur karena memilikimu, Rin!”

 

Lampu telah berganti warna.

 

“Biarkan aku yang berlari padamu, Kak! Kak Eunwoo tunggu aku di sana, ya?!”

 

“Aku saja yang ke sana!” Namun terlambat, gadis itu sudah berlari menyeberang jalan dengan rona bahagia yang menghiasi wajah manisnya.

 

Eunwoo tersenyum. Kadang Arin memang kekanak-kanakan dan keras kepala, tapi tetap saja menggemaskan. Sedikit lagi gadis itu akan menghampirinya. Tanpa sadar, Eunwoo sudah merentangkan tangan untuk menyambut gadis itu dengan pelukan.

 

“Kak Eunw—“

 

—BRAK!

 

Dwinetra Eunwoo membelalak sempurna. “RINN!!”

 

Air mata telah mengering tertiup angin. Eunwoo duduk menyangga kepala yang terasa amat berat dengan kedua tangan. Tak lagi terjatuh di wajahnya, barang setitik air mata. Rasanya semua telah mengering tak tersisa di dasar luka.

 

Kenangan itu tergali begitu cepat hingga meruntuhkan dinding pertahanan yang susah payah dibangun oleh hati malang yang terluka. Ketidakberdayaan mengungkung jiwa Eunwoo dalam penyiksaan yang disebut perpisahan.

 

Eunwoo memikirkannya dengan perasaan itu, yang menciptakan sebuah harapan menjadi menyakitkan. Ia ingin bertemu, ingin mendengar gadisnya mengatakan ‘I love you’ seperti kala itu. Dalam tidur malam yang tak dapat dilaluinya dengan tenang, lagi dan lagi, Eunwoo ingin merasakan kehadiran kekasihnya.

 

    “Jika pada akhirnya aku mampu melupakannya, maka hidup adalah hal yang mudah..

     Jika aku melupakan segalanya, bukankah itu melarikan diri?

     Bahkan arti kehidupan ini juga akan menghilang, iya kan?

     Suatu saat, manusia akan merasa sendirian dan hidup dalam kenangannya..

     Meski begitu, tidak masalah, aku menyerukan yang disebut cinta dengan perasaan damai..

 

—FIN

A/N:
Alohaa~ masih ada yang inget Vxiebell g? pasti ada dong y /ngarep
Maapkan karna baru nongol lagi :’) biasalah, jadi nak SMA tu sibuk hwhw:'(
apalagi banyak kegiatan ekskulnya hihi 😀
Gimana gimana?? Suka sama couple ni g? semoga suka y~
See u soon eaaa~


Leave a comment

[Twoshot] From Jiho To Jiho (Part 1)

from-jiho

FROM: JIHO
TO: JIHO

{ a sequel of Love Confession” and “Love Letter?“}

story by Atatakai-chan
poster by  Wafer Crush  @ Poster Channel

|| AU, slight!College-Lifeslight!Romance — Twoshot — ||

.

starring
OMG Jiho as Kim Jiho
and
Block B Zico as Woo Jiho

Continue reading