OH MY GIRL Fanfiction Indonesia

Since: 16/02/24


Leave a comment

[Oneshot] Terjebak Nostalgia

Eunwoo [ASTRO] and Arin [OMG] | Comfort | G | Oneshot
©2016 AitadikasaStory | Alkindi @Poster Channel 

 

“Suatu saat, manusia akan merasa sendirian dan hidup dalam kenangannya..

.

Eunwoo membuka mata gelisah. Obsidiannya melirik jam di atas meja. Sudah pukul dua dini hari, namun ia belum juga bisa terlelap walau sedetik. Tangannya pun menyibak selimut lalu menurunkan kaki ke lantai, menuju jendela.

 

Langit nampaknya mengerti bagaimana perasaan Eunwoo. Bentangan biru pekat itu tak sedikitpun menunjukkan kemewahannya. Bintang tak sudi menemani sang rembulan yang mulai terhalang awan. Bahkan untuk malam ini, mereka enggan menitipkan cahaya untuk seorang pemuda yang tengah terselubung kabut.

 

Desahan napas putus asa terembus dalam kesunyian malam. Eunwoo menutup gorden, menghalau candra maupun gemintang mengintip kesedihannya. Ia terduduk di tepi ranjang. Pandangannya buram terlapis basahan bening. Seketika otaknya terputar mengenang peristiwa demi peristiwa yang ia lalui bersama seorang gadis.

 

Pagi itu Eunwoo datang agak terlambat. Ia bergegas masuk ke kelas dan untungnya belum ada guru yang masuk. Detik itu juga, Eunwoo menghela napas penuh syukur lantas duduk di bangkunya.

 

“Eunwoo, kau membuat surat ini?”

 

“Tidak. Memangnya kenapa?”

 

“Oh ya? Tapi di sini tertulis namamu.”

 

Eunwoo mengambil amplop putih yang disodorkan Hana—teman sekelasnya yang baru-baru ini menyatakan perasaan padanya. Ada nama Eunwoo di tengah amplop yang membuatnya mengernyit. Untuk menjawab rasa penasarannya, lelaki itu pun membuka amplop dan menarik secarik kertas dari dalam.

 

Meski lantang kuucapkan, apa kau akan mendengar? Memang tak ada hak bagiku untuk memintamu membalas, namun tak bisakah kau melihatku barang sedetik?

 

“Di mana kau temukan surat ini?”

 

“Di mejaku. Kenapa?”

 

“Sepertinya ada orang iseng yang membuat surat ini untukku, tapi salah meletakkannya. Tolong jangan salah paham ya, Hana.” Kemudian Eunwoo tersenyum pada gadis itu. Dalam hati ia membatin sebal, siapa sih yang kekanak-kanakan membuat surat cinta seperti ini?

 

-*-

 

Saat itu, Eunwoo tengah berlatih dance. Hari sudah sore, sekolah pun terasa sepi. Paling hanya satu-dua siswa yang masih tertahan karena belum dijemput. Tiba-tiba gadis itu datang tanpa permisi dan langsung menyoraki Eunwoo.

 

“Kau mengagetkanku tau,” ujar Eunwoo sembari mematikan musik dan menenggak air mineralnya.

 

“Hehe, sori, Kak. Oh iya, ini ada cake buat Kak Eunwoo.” Gadis itu menyerahkan kotak bekal berwarna biru laut sambil menyunggingkan seulas senyum manis. “Aku masak sendiri loh, Kak. Yah, walaupun dibantuin Mama dikit hehe. Jangan lupa dimakan ya, Kak? Cake ini aku bikin khusus buat Kak Eunwoo.”

 

“Hm, letakkan di meja, nanti akan kumakan kalau sempat.”

 

Biasalah, orang ganteng banyak yang nge-fans, batin Eunwoo bangga.

 

-*-

 

Selain dance, Eunwoo lumayan jago main basket. Itulah alasan kenapa ia dipilih untuk jadi kapten tim basket kelasnya dalam kegiatan pertandingan basket untuk mengisi free-class.

 

Saat masuk ke lapangan, ada seseorang yang begitu lantang menyoraki nama Eunwoo sampai laki-laki itu merasa risih. Sebabnya, sejak masuk lapangan hingga pertandingan berakhir, orang itu terus melengkingkan suaranya. Mungkin dia pikir Eunwoo akan senang, padahal sebaliknya.

 

“Kak Eunwoo, semangat!! Fighting fighting fighting! Eunwoo Oppa pasti bisa!”

 

“Wohoo! Kak Eunwoo!!”

 

Ah, cewek itu lagi, batin Eunwoo malas.

 

-*-

 

Eunwoo termasuk jajaran siswa yang bertanggung jawab dalam ekskul dance. Ia wajib meluangkan waktu untuk melatih adik-adik kelasnya walaupun ia sendiri sudah kelas tiga dan seharusnya fokus pada ujian.

 

“Semua sudah datang?” tanya Eunwoo ketika baru saja menginjakkan di ruang latihan.

 

“Sudah, Kak. Tadi aku sudah ngabarin semuanya supaya tidak terlambat.”

 

“Bagus kalau gitu, kita mulai sekarang ya?” ujar Eunwoo pada seluruh siswa-siswi yang datang. Ia hendak berjalan ke tengah, namun tertahan karena seorang gadis memanggilnya.

 

“Kak Eunwoo,” panggil gadis itu malu-malu. Eunwoo menoleh padanya. “Hari ini Kak Eunwoo keren!” ujarnya sembari mengacungkan kedua jempol.

 

Eunwoo terdiam lantas berlalu. Apa-apaan sih anak itu? Norak banget.

 

-*-

 

Eunwoo duduk di tengah lingkaran yang dibuat oleh anak-anak dance. Mereka sedang membicarakan koreografi yang akan dipakai dalam perform pentas seni bulan depan. Akan tetapi Eunwoo merasa amat risih dan ingin mengumpat karena dilihati berlebihan oleh seorang cewek.

 

Sekuat tenaga, Eunwoo menahan diri. Hingga akhirnya setelah rapat itu selesai, ia menemui gadis itu untuk bicara.

 

“Dek, ada yang mau aku bicarain sama kamu.”

 

“Ada apa ya, Kak?” Pipi gadis itu memerah, membuat Eunwoo merasa jengah. Pasti gadis itu berfikir yang tidak-tidak, contohnya: mungkin Eunwoo akan menembaknya.

 

“Dari tadi aku rasa, kamu terlalu berlebihan ngelihatin aku.”

 

“Ha? Oh itu.. Kakak merasa nggak suka ya?”

 

“Ya jelaslah. Risih banget kalau ada yang berlebihan begitu.”

 

“Oo.. maaf, Kak. Nggak akan saya ulangi.”

 

Gadis itu pun pergi setelah mendapat tatapan garang dari Eunwoo.

 

-*-

 

“Halo Kak Eunwoo,” sapa seorang gadis ramah, yang membuat Eunwoo menghentikan langkahnya.

 

Gadis itu lagi.

 

“Hai,” balas Eunwoo, mencoba berbasa-basi supaya namanya tak tercemar. Ia enggan mendengar berita ‘seorang Eunwoo itu sombong’ seperti waktu itu.

 

“Nanti ada latihan dance nggak, Kak?”

 

“Iya dong. Jangan terlambat ya?” Eunwoo tersenyum sebelum kembali berjalan.

 

“Uwaa! Kak Eunwoo ramah banget! Yaampun, sumpah dia itu gantenggg.” Terdengar seruan itu yang menelusup gendang telinga Eunwoo, yang membuatnya bergidik geli.

 

Eunwoo menghapus linangan air mata yang telah menganak sungai di wajahnya. Dadanya terasa sesak ketika udara mendesak masuk ke rongga paru-paru. Semua terasa amat menyakitkan untuk dirasakan. Penyesalan yang tak pernah memberi tahu akan menghempas kebahagiaan ke dasar jurang.

 

“Kak Eunwoo, tunggu sebentar. Ada yang mau aku omongin.”

 

Eunwoo menahan langkah dan berbalik kembali, menemui seorang gadis bersurai cokelat di dasar tangga.

 

“Ada apa?”

 

Gadis itu memilin jemari gelisah. Eunwoo hanya diam memandangnya, memilih menunggu daripada gegabah dan menyudutkannya.

 

“Aku.. aku cinta Kak Eunwoo.”

 

Eunwoo tak berkedip, tubuhnya seolah membatu. Tak ada satupun bagian yang bergerak, seakan waktu telah memberhentikan segalanya.

 

“Besok adalah hari kelulusan Kak Eunwoo.. itu berarti kemungkinan untuk bertemu Kakak sangat kecil. Maka dari itu.. kuputuskan untuk mengakuinya.” Kepala gadis itu terangkat sedikit, memandang sosok lelaki jangkung yang berdiri di anak tangga kedua darinya.

 

“Aku.. nggak akan berharap lebih. Jadi.. Kak Eunwoo jangan merasa terbebani.”

 

Hari itu, untuk pertama kalinya, Eunwoo merasakan gejolak dalam dada yang begitu kuat mengobrak-abrik jiwanya. Kegugupan begitu terasa walau tak diminta. Jantungnya berkontraksi tak semestinya, begitu cepat dan mendebarkan.

 

Hati bertanya, apakah kau menyukainya? Apakah kau akan menerimanya atau mengecewakannya?

 

Akan tetapi tak sebegitu mudahnya untuk menjawab. Untuk pertama kalinya, Eunwoo dirundung perasaan bimbang. Ia terus dihantui oleh gadis itu, pernyataan cintanya yang tiba-tiba.

 

Apakah benar selama ini kau tak menyukainya? Renungkanlah bersama debaran jantungmu itu, Eunwoo. Ini pertama kalinya ada gadis yang berani menyatakan perasaannya padamu. Itu berarti, gadis itu sungguh menyukaimu kan? Apa kau yakin akan membuatnya kecewa dan sakit hati?

 

Senin, tepat dua hari setelah perayaan kelulusan, Eunwoo menemui gadis itu. Setelah melakukan renungan panjang yang menyiksa, hari ini Eunwoo akan memberikan jawaban pasti yang telah dimantapkan oleh sang hati.

 

“Aku akan berusaha sebaik mungkin untuk menjaga hatimu.”

 

Ia percaya, sang bayu tak mungkin salah menyampaikan ke rungu. Namun tetap saja, rasanya sulit untuk menerima jawaban mengejutkan itu.

 

Eunwoo tersenyum. “Aku sungguh akan berusaha.”

 

“Kak Eunwoo… serius?”

 

Eunwoo mengangguk lantas mengusap puncak kepala gadis itu. Awalnya terasa canggung itu wajar kan?

 

“Aku nggak apa-apa kalau Kak Eunwoo menolak. Aku nggak mau Kak Eunwoo merasa terbebani. Sungguh aku akan baik-baik aja walaupun Kak Eunwoo tak menerima perasaanku.”

 

“Kamu tak tahu maksud ucapanku, ya? Kan sudah kubilang, aku akan berusaha menjaga hatimu. Itu artinya aku menerimamu kan? Tapi kenapa kau ingin aku menolaknya, hm? Apa kau menyesal karena sudah menyatakan perasaan padaku?”

 

“Tidak, bukan begitu, Kak. Aku hanya.. hanya tak bisa mempercayai ini. Aku.. aku merasa sangat bahagia. Terima kasih, Kak.”

 

“Hei, jangan menangis. Bisa-bisa ada yang mengira aku melakukan sesuatu hal buruk padamu. Berhentilah,” ujar Eunwoo sembari menenggelamkan kepala gadis itu ke pelukannya.

 

-*-

 

Hubungan itu berlanjut hingga terjalin selama delapan bulan. Awalnya Eunwoo masih ragu dengan perasaannya, karena pada minggu-minggu awal pacaran, ia masih merasa kurang nyaman. Namun ketika bulan berganti,  perasaan Eunwoo mulai mekar. Mungkin dulu ia memang merasa risih karena gangguan-gangguan gadis itu, sekarang tidak lagi. Bahkan Eunwoo juga tidak tahu sejak kapan hatinya berdebar karena gadis itu. Yang jelas, sekarang ia merasa sangat nyaman dengannya. Mereka juga jarang bertengkar.

 

“Sepertinya ponselku tertinggal.”

 

“Yang benar? Coba dicek lagi.”

 

“Tidak ada. Pasti tertinggal di tenda makanan bibi itu.”

 

“Dasar ceroboh! Kalau begitu biar aku yang ambil, kau tunggu di sini, aku akan segera kembali,” ujar Eunwoo sembari mengusap puncak kepala gadisnya.

 

“Ok.”

 

Eunwoo menyeberang jalan, kembali ke tenda biru yang tadi menjadi tempat singgahnya untuk makan malam. Memang benar, ponsel itu tertinggal di sana. Untunglah pemilik kedai itu berbaik hati mau menyimpannya dulu. Eunwoo menggelengkan kepala, kadang kekasihnya itu bisa menjadi super ceroboh.

 

Langkah Eunwoo terhenti ketika lampu lalu lintas sudah berganti warna. Ia melambai pada kakasihnya yang setia berada di seberang jalan.

 

“Rin! Ponselmu ketemu!” teriak Eunwoo.

 

“Benarkah? Makasih ya!”

 

“Tunggu aku di sana, aku akan menyusulmu!”

 

Gadis bermata belo dengan manik caramel itu tersenyum jenaka kemudian berteriak, “Kak Eunwoo, aku mencintaimu!”

 

Meski merasa geli, Eunwoo pun mengangguk dan tersenyum. “Aku lebih mencintaimu! Dan aku bersyukur karena memilikimu, Rin!”

 

Lampu telah berganti warna.

 

“Biarkan aku yang berlari padamu, Kak! Kak Eunwoo tunggu aku di sana, ya?!”

 

“Aku saja yang ke sana!” Namun terlambat, gadis itu sudah berlari menyeberang jalan dengan rona bahagia yang menghiasi wajah manisnya.

 

Eunwoo tersenyum. Kadang Arin memang kekanak-kanakan dan keras kepala, tapi tetap saja menggemaskan. Sedikit lagi gadis itu akan menghampirinya. Tanpa sadar, Eunwoo sudah merentangkan tangan untuk menyambut gadis itu dengan pelukan.

 

“Kak Eunw—“

 

—BRAK!

 

Dwinetra Eunwoo membelalak sempurna. “RINN!!”

 

Air mata telah mengering tertiup angin. Eunwoo duduk menyangga kepala yang terasa amat berat dengan kedua tangan. Tak lagi terjatuh di wajahnya, barang setitik air mata. Rasanya semua telah mengering tak tersisa di dasar luka.

 

Kenangan itu tergali begitu cepat hingga meruntuhkan dinding pertahanan yang susah payah dibangun oleh hati malang yang terluka. Ketidakberdayaan mengungkung jiwa Eunwoo dalam penyiksaan yang disebut perpisahan.

 

Eunwoo memikirkannya dengan perasaan itu, yang menciptakan sebuah harapan menjadi menyakitkan. Ia ingin bertemu, ingin mendengar gadisnya mengatakan ‘I love you’ seperti kala itu. Dalam tidur malam yang tak dapat dilaluinya dengan tenang, lagi dan lagi, Eunwoo ingin merasakan kehadiran kekasihnya.

 

    “Jika pada akhirnya aku mampu melupakannya, maka hidup adalah hal yang mudah..

     Jika aku melupakan segalanya, bukankah itu melarikan diri?

     Bahkan arti kehidupan ini juga akan menghilang, iya kan?

     Suatu saat, manusia akan merasa sendirian dan hidup dalam kenangannya..

     Meski begitu, tidak masalah, aku menyerukan yang disebut cinta dengan perasaan damai..

 

—FIN

A/N:
Alohaa~ masih ada yang inget Vxiebell g? pasti ada dong y /ngarep
Maapkan karna baru nongol lagi :’) biasalah, jadi nak SMA tu sibuk hwhw:'(
apalagi banyak kegiatan ekskulnya hihi 😀
Gimana gimana?? Suka sama couple ni g? semoga suka y~
See u soon eaaa~

Advertisements


1 Comment

[Drabble] If

riskiani-6-64b4df722fd1388a52c8558f4e28a027

Hyun Seunghee | Sad, hurt | G | Drabble
Vxiebell
©2016

 

Seunghee memandang nanar selembar foto yang tengah ia genggam. “Aku membencimu,” tegasnya pada diri sendiri. Kemudian meremas sebuah kertas foto kuat-kuat.

.

.

“Seunghee, aku menyukaimuuu!”

 

“Aku mencintaimu!”

 

“Bolehkan aku mencintaimu selamanya? Bolehkah aku memilikimu selamanya? Bolehkah hanya aku yang menempati hatimu?”

 

“Aku sangat sangat sangat sangat sangat mencintaimuuu! Mencintai Hyun Seunghee!”

.

.

“Penipu!” umpat Seunghee sambil melempar sebuah kotak pada perapian, dengan liar kobaran merah itu melahapnya.

.

.

“Aku janji kita tak akan pernah putus! Aku janji kita akan saling mencintai sampai mati! Aku janji kita akan menjadi pasangan yang paling bahagia di manapun berada! Aku janji! Dan aku tak akan pernah mengingkari janjiku!”

 

“Aku.. sangat.. mencintaimu, Seunghee.”

 

“Jangan pergi, ok? Tetap di sampingku saja, ya?”

.

.

 

Seunghee menyeka air matanya, seandainya kenangan itu bisa dihapus seperti foto di hp, tinggal tekan tombol delete dan semua selesai.

 

—FIN

Alloooo! Akhirnya setelah lama ngga muncul,
aku hadir kembali bersama Seunghee! Hehe, anybody miss me?
Of course,
nggakda, ngga apa lah :”
Betewe, Vi mau nginvite kalian loh, mampir ke wattpad-ku yuk!
Haha, sekian dan terima Kang Yuta


3 Comments

[Ficlet] Can’t to Say Goodbye

cant-to-say-goodbye--vxiebell-yuta-nakamoto-nct-nct127-smrookies-omg-oh-my-girl-arin-choi-yewon-ff-romance-sad-ffnct-ffomg-poster-channel-irish

NCT’s Yuta and OMG’s Arin | Sad | G | Ficlet
IRISH@PosterChannel | Vxiebell,2016

 

Kurasa, aku telah dibutakan oleh cinta. Sebab, hingga detik ini aku tak dapat berpaling dari wajah seorang pemuda yang duduk bersender dinding di sisi lain ruangan ini. Meski banyak manusia yang berseliweran di dalam ruangan seluas ini, dwimanik hazelku hanya berminat memperhatikan satu orang yang jelas-jelas tak begitu mengindahkan kehadiranku.

 

Kuluruskan kakiku sambil bersender di dinding. Resleting tas biru yang kupangku, tertarik membuka. Di dalam tas itu, selain ada baju ganti, terdapat sebuah kotak lumayan besar yang sudah kusiapkan kemarin. Hari ini, aku sudah membulatkan tekad untuk menyatakan perasaanku pada sosok itu.

 

Sebenarnya niat awal mengikuti kegiatan ini, karena aku harus memperbanyak olahraga, makanya kupilih taekwondo untuk ekstrakurikuler. Namun, semenjak kenal dengan dia, niat itu berubah. Aku hanya ingin sering bertemu dengannya, memperhatikannya, mengobrol dengannya, semua bersamanya.

 

Perasaanku selama dua tahun tak berubah sama sekali. Bisa dibilang, aku sangat mengaguminya. Bahkan aku tak dapat berkedip ketika memerhatikannya, karena aku takut kehilangan jejaknya. Aku senang dan bahagia, namun perasaanku berubah sejak tiga hari yang lalu. Aku takut, gelisah, dan khawatir.

 

“Untuk pertemuan selanjutnya, pastikan kalian datang latihan. Sebab, hari itu akan menjadi yang terakhir kalinya aku bergabung dengan kalian.”

 

Ucapan Kak Yuta tempo hari kembali terngiang di kepalaku. Membuatku merasa kecewa setengah mati. Kenapa pula dia harus berhenti mengajar? Padahal, setahun lalu ketika Kak Yuta juga mengucapkan salam perpisahan, hatiku dibuat remuk dan hancur sampai tak bisa tidur dua hari. Aku tahu, saat itu dia harus berhenti sementara karena akan menghadapi ujian kelulusan, aku masih bisa maklum. Tapi sekarang harus lagi? Aku sungguh tak rela. Walaupun Kak Yuta keluar untuk meraih cita-citanya, melanjutkan ke perguruan tinggi di luar negeri, tetap saja aku tak rela dia harus meninggalkanku.

 

“Kak, pamit dulu, ya.”

 

“Jangan lupa sama kita, lho.”

 

Suara riuh yang terlontar dari bibir orang-orang, yang saling menyahuti, yang saling merengek tak menginginkan Kak Yuta pergi terurai udara, menghantarkan ke dwirunguku. Hatiku kembali ngilu. Kuembuskan napas pasrah sembari berdoa dalam hati, semoga Kak Yuta tak pernah melupakanku.

 

“Rin, nggak pulang?” suara yang sangat familiar itu membuat kepalaku yang sedari tadi tertunduk, perlahan menengadah. Dapat kulihat wajah Kak Yuta di tengah silaunya cahaya lampu.

 

Aku menghela napas. Aku mohon, jangan jadikan hari ini hari terakhir pertemuan kami.

 

Raga pemuda yang dua tahun lebih tua dariku itu mulai mensejajariku. Ia berjongkok tepat di depanku. Melihatku dengan tatapan tulus seorang kakak.

 

“Anak-anak udah pada pulang, kamu nggak pulang?” ulang Kak Yuta.

 

“Kakak nggak pulang?”

 

“Tugas pelatih itu bertanggung jawab atas murid-muridnya. Kalau kamu belum pulang, gimana aku bisa pulang?”

 

Aku hanya menatap wajah Kak Yuta tanpa berkedip selama sepersekian detik sebelum ia memilih duduk di sebelahku.

 

“Sedari tadi aku perhatiin kamu banyak ngelamun. Kenapa? Diputusin pacar kah? Padahal biasanya kan kamu yang paling heboh.”

 

Hening sekian detik. Aku memilih menundukkan kepala sambil memeluk lutut. Sedangkan Kak Yuta diam menunggu jawabanku—mungkin.

 

Ini bukan karena diputusin pacar, Kak, tapi karena Kakak.

 

“Emangnya Kak Yuta harus pergi, ya?”

 

“Hm?” Kak Yuta menolehkan kepala menatapku.

 

“Kakak harus banget pergi, ya?” ulangku seraya mengangkat kepala dan menatap wajah teduh pemuda itu.

 

“Ini kesempatan besar, Dek.  Beasiswa ke Amerika itu nggak gampang. Aku udah berusaha keras untuk mendapatkannya. Jadi, ya… aku harus pergi.”

 

Wajahku kembali murung. “Oh, gitu,” balasku tanpa semangat. Lantas beranjak berdiri yang diikuti Kak Yuta. Kami saling berhadapan. Saling berpandangan.

 

“Kalau gitu, aku cuma bisa berdoa buat kebaikan Kakak. Semoga Kak Yuta baik-baik aja di sana, dapet kebahagiaan yang lebih banyak daripada di sini.” Bibirku membentuk kurva ke atas.

 

“Kamu tu kenapa sih? Kayak kita nggak akan pernah ketemu lagi aja.” Kak Yuta berujar diselingi tawanya. “Tenang aja, pasti kita bakalan ketemu lagi kok.”

 

“Tapi masih lama banget kan, Kak?”

 

Em.. setiap liburan musim dingin mungkin aku pulang.”

 

“Setahun sekali?”

 

Kak Yuta mengangguk ragu-ragu. “Iya-lah.”

 

Kuputuskan membuka resleting tas dan mengeluarkan kotak kado yang sudah kusiapkan. Sebelumnya, aku menghela napas, mengatur emosi. Lantas menyerahkan kotak itu pada Kak Yuta.

 

“Buat Kak Yuta. Mungkin, akan sulit buatku ngelupain masa-masa bareng Kakak dan kuharap Kak Yuta juga gitu.”

 

“Serius, Rin. Ini tu kayak perpisahan yang nggak akan bisa bertemu lagi, tau,” ujar Kak Yuta seraya menerima kotak itu.

 

“Selama ini, sejak pertama kali aku ngirim pesan ke Kakak.. aku rasa sejak itu, aku jatuh hati sama Kak Yuta. Aku.. nggak mau Kak Yuta pergi. Bahkan untuk sedetikpun, aku merasa hari-hari berjalan amat lambat tanpa kehadiran Kakak. Aku… suka—bukan, maksudku.. mungkin aku cinta sama Kakak.”

 

Kulihat ekspresi Kak Yuta yang agak terkejut, ia tertegun. Begitu kentara di garis-garis wajahnya. Setelah mengungkapkan semuanya, aku merasa sedikit lega, namun juga takut. Takut jikalau setelah ini, Kak Yuta tak akan nyaman bersamaku. Berakhir dengan kita yang akan menjadi saling berjauhan, seolah tak saling mengenal.

 

“Karena hari ini adalah hari terakhir, aku harap Kak Yuta mau maafin semua kesalahanku selama ini. Aku cuma mau Kak Yuta melihatku, memperhatikanku.. makanya aku sering caper sama Kakak, sering cari muka. Aku tahu, selama itu Kak Yuta nahan diri kan? Pasti Kakak risih banget kan?”

 

“—tapi, mulai besok, aku udah nggak bisa cari perhatian sama Kak Yuta lagi. Baik-baik di Amerika, ya, Kak.”

 

Kak Yuta masih mematung tanpa berkedip sampai ucapanku selesai. Aku pun membalikkan tubuh dan segera melangkah menjauhinya. Menjauhi orang yang kucintai. Memilih merelakannya pergi daripada menahannya di sisiku.

 

 

Yuta menatap lurus punggung Arin yang kian menjauh. Membisikkan kalimat yang tak akan pernah tersampaikan pada rungu gadis bersurai cokelat itu.

 

“Rin, maaf karena selama ini aku hanya diam walaupun menyadari perasaanmu. Membiarkanmu terjebak dan menderita karena mencintaiku.”

 

“Aku merasa menjadi seorang pengecut karena aku tak sanggup mengatakan padamu siapa orang yang kucintai..”

.

.

.

.

“—yaitu, kamu.”

 

 

—FIN


11 Comments

[Vignette] Soal Peduli

SOAL PEDULI

ketika kau merasa lebih beruntung

by Ravenclaw

Beberapa menit yang lalu aku sudah masuk area jalan besar. Baru saja aku pulang dari kampus kelas malam. Semuanya terkendali, macet tidak ada, bulan menemani bintang, juga semilir angin yang biasa saja mengganggu rambutku kala aku sengaja membuka kaca jendela. Sekedar mengisi udara di dalam mobil.

Continue reading


1 Comment

[Drabble] Tak Bisa Melupakanmu

tak-bisa-melupakanmu

Tak Bisa Melupakanmu

selviakim storyline

Choi Hyojung

hurt and sad.

General.

“Seberapa banyakkah kau mengingat diriku?” –Candy Jelly Love by Lovelyz

I own the plot and OC.

***

Mengapa rasa sakit di hati ini sangat sakit ketika aku masih tidak dapat melupakanmu? Apakah kau mengingat diriku? Aku rasanya ingin bertanya langsung di depanmu. Seberapa banyakkah kau mengingat diriku? Aku Choi Hyojung. Continue reading

Advertisements