OH MY GIRL Fanfiction Indonesia

Since: 16/02/24


1 Comment

[Drabble] Bad or Good? by selviakim

6059b926dde20f94865b7b92908bd2d1a7fd6228_hq

Bad or Good?

selviakim storyline

OMG’s Jiho.

Drama and fluff.

“Hari yang buruk. Jiho mengumpat lagi.”

General.

I own the plot.

sorry for typo(s)

***

Jika bukan karena paksaan dari Yoobin untuk segera pergi ke cafe, Jiho sudah menikmati waktu kosongnya di rumah dengan malas-malasan.

Temui aku di cafe dekat kampus. Jika tidak, tugas ini akan aku kerjakan sendiri tanpa ada namamu di dalamnya. Continue reading

Advertisements


Leave a comment

Put The Line In A Zone #1

Put the line in a zone Mimi

Oh My Girl’s Mimi | Seventeen’s Joshua | OMG’s Jiho and Seunghee

Romance, Angst | G15+ | 1 of 3| 1700 words | Banaby

Aku selalu berdo’a kepada Tuhan untuk membiarkan ku jatuh cinta lagi, tapi bukan kepadanya. Aku harusnya tau batasan. Kita, hanya teman.

.

.

.

                Sepulang dari acara reunian aku dan Joshua malah asyik menyantap sundae kita dipinggir jalan seperti ini. Padahal waktu sudah menunjukan pukul 10 malam tapi aku acuh. Selama aku dengan Joshua, orang tua ku tak akan berfikir macam – macam kan?

“kau belum ingin pulang?”

Aku menggeleng sambil memasukkan sebatang sundae ke dalam mulut ku lagi.

“anak nakal”

Ujarnya sambil terkekeh kecil lalu menyeruput sekaleng lemon soda di genggamanku.

Malam ini kami membicarakan banyak hal. Dimulai dari hal – hal kuno dimasa lalu sampai impian kami. Tak lupa pembicaraan kami juga tersisip cerita tentang gadisnya. Hal yang selalu menjadi kebanggaan nya dari dulu hingga kini.

“sudah 6 tahun ya? Kau dan Jiho”

Ia tersenyum , mengangguk lalu mendangak kearah langit.

“seharusnya kau menikah saja, pasti sudah punya 3 anak”

“aku tidak akan menikah sebelum kau menikah, Mimi”

Harusnya aku tidak membawa dialog pernikahan ini. Jelas saja dia yang harusnya menikah lebih dulu. Aku bahkan belum punya laki – laki diperparah dengan kondisi dimana aku belum bisa melupakan cinta pertamaku. Enak saja dia ingin menunggu ku.

“hya! Jangan meledekku begitu! Katakan saja tidak ada lelaki yang mau dengan gadis seperti ku”

Ia hanya tertawa, padahal aku tidak sedang bercanda.

Malam itu, aku menghujaninya dengan bebatuan kecil di tanah yang kami pijak. Saling tertawa satu sama lain. Membunuh waktu. Malam itu aku tidak tau jika dalam waktu sesingkat itu aku bisa merasakan debaran jantungku yang cepat lagi.

oOo

3 unread Message(s) from Joshuaboo, Seungheeeeee

5 unreceived call(s) from Joshuaboo

                Pagi saat aku membuka handphone ku lebih cepat dari aku membuka jendela kamar untuk melihat mentari pagi. Joshua menyambutku. Bukan dengan kata – kata selamat pagi seperti yang aku harapkan. Lebih kepada pesan bodoh seperti

From : Joshuaboo

Hari ini aku tidak masuk ya. Aku sedang tidak enak badan.

                Harusnya aku tau, ia tak akan mengucapkan kata – kata manis apapun padaku. Aku tak punya hak dan ia tak punya kewajiban. Awalnya aku merasa agak khawatir dengan pesannya, tapi setelah kufikir lagi kemungkinan terbesar ia pergi dengan gadisnya. Ia bilang dalam waktu dekat Jiho akan pergi ke Eropa entah untuk apa. Mungkin ia bilang alasannya tapi aku tak punya wewenang untuk mengingatnya bukan?

Ketika niatan untuk membalas muncul, ponsel ku berdering. Monitor yang semula berisi rentetan alphabet dalam sebuah kotak kini bersilih menjadi gambar telepon dan nama si penelepon.

“o, ne Seunghee-ya”

Sapa ku cepat setelah ku sematkan benda itu diantara telinga dan anakan rambut. Ku tunggu cukup lama tapi tak ada jawaban. Hanya isakan – isakan kecil yang membuat bulu kudukku berdiri.

“w-wait. Seunghee, kau tidak apa – apa?”

Isakan nya semakin kencang dan aku kini tau ia sedang menangis. Hanya dengan mendengarnya melalui telepon aku bahkan bisa mengerti seberapa dalam luka yang membuat air matanya pecah.

“tunggu aku. Aku keatas”

“sekarang”

Sebenarnya kami tinggal di rumah sewa tingkat yang sama, ia menempati kamar 301 dilantai 3 sedangkan aku ada dilantai dasar. Seunghee tinggal sendiri karna harus meninggalkan desanya untuk kuliah di Seoul sedangkan aku, ayah ibu dan adikku tak bisa membiarkan aku hidup sendiri sehingga mereka ikut bersama ku. Aku dan Seunghee berteman sejak kami sama – sama dibesarkan di Pyongchang, tak akan ada yang dapat memisahkan persahabatan kami.

Aku berlari kecil menapaki anak tangga satu persatu. Elevator mengalami sedikit gangguan sehingga ini satu – satunya langkah yang bisa kuambil. Tanpa mengetuk aku segera membuka pintu kamar Seunghee yang berada tepat di penghujung tangga dan kudapati ia yang sedang terduduk dilantai dengan kepala yang ia sandarkan ke lemari pakaiannya. Tampak sangat menyedihkan.

“kau kenapa?”

Tanpa menjawab ia memelukku erat. Sangat erat.

“S-seunghee-ya, kita duduk di sofa saja ya. Disini dingin”

Aku bahkan tak bisa membuatnya berdiri. Ia tetap mengabaikan ku dan menangis. Kalau sudah begini aku hanya bisa bertahan disisinya, menunggu dengan sabar hingga ia bersedia menceritakan semuanya.

Segelas kopi susu hangat ada di genggaman kami berdua. Akhirnya Seunghee menurut dan duduk di atas tempat tidurnya dengan selimut yang terbalut dikaki.

“Joshua kemana?”

Aku menggeleng, bukan karna tidak tahu. Hanya saja aku sedikit malas menjadikan Joshua salah satu topik pembicaraan kami. Oh, sekedar memberitahu aku kenal Joshua berkat Seunghee. Ia bersahabat dekat dengan Joshua sejak SMA, sedangkan aku baru mengenal Joshua akhir SMA saat kami belajar bersama untuk ujian SAT dan kini kami adalah rekan kerja.

“aku merindukan Joshua”

Ia meringkuk, menekuk kakinya dan memeluknya erat.

“kau hanya perlu meneleponnya dan ia akan datang. Kenapa kau sampai merindukannya?”

Ia diam. Membenamkan wajahnya diantara tangan yang bersedekap memeluk kakinya. Untuk beberapa sekon, ruangan terasa sangat hampa.

“aku tidak tau bagaimana menghadapinya nanti, Mimi”

“aku tidak mengerti maksud mu. Memang apa yang terjadi antara kau dan Joshua? Semalam kau juga tidak datang ke acara reunian. Apa yang sebenarnya terjadi?”

Seunghee menatap keluar jendela. Memperhatikan butiran salju yang turun lambat ke bumi. Semakin lama matanya tampak berkaca – kaca. Wajahnya yang putih mulai menunjukan rona kemerahan. Ia tak akan menjawab, pikirku.

“aku jatuh cinta pada Joshua”

Sekian menit, waktu seperti berhenti berdetak. Gravitasi bumi tak lagi menarik benda, dan planet yang kita tinggali tak lagi berputar. Aku kaget.

“a-aku tau. Terlihat sangat jelas selama ini”

“dia memperlakukan ku dengan sangat baik sehingga aku tak bisa berhenti memikirkannya. Apa dia juga memperlakukan mu dengan sangat baik seperti ia memperlakukan ku?”

Aku menggeleng. Mana mungkin lelaki sepertinya bisa memperlakukan ku dengan sangat baik. Yang aku ingat ia sangat menyebalkan, sangat mudah membuatku merasa malu dan marah. Saat itu hanya Joshua bodoh yang bisa terfigur dengan baik. Aku membohongi diriku sendiri.

“kau terlihat sangat serasi dengannya. Dulu aku sempat berfikir kalian adalah sepasang kekasih. Kalian ‘kan selalu menghabiskan waktu bersama”

Aku menepuk pundaknya pelan seraya menunjukan senyumku yang paling menawan. Kalimat yang sangat jujur dariku. Aku selalu merasa mereka berdua cocok sampai saat aku tau, Joshua memiliki kekasih.

“aku benar – benar merindukan Joshua, tapi bertemu dengannya pun aku tak bisa melihat wajahnya. Apa yang harus kulakukan Mimi”

Mulut ku terkatup damai. Hanya tangan ku yang mengusap – usap kepalanya agar ia sedikit tenang. Aku paham, perasaan cinta yang dibalut dengan rasa bersalah pasti sangat menyakitkan apalagi ia menyimpan itu untuk waktu yang sangat lama, sendirian.

oOo

                Gedung dominan putih abu – abu ini adalah tempat dimana aku menghabiskan setengah hari ku untuk mencari lembaran uang. Aku yang terbilang masih baru harus lebih sering membungkukan badan dan mengucap salam. Hampir setiap menitnya. Joshua sangat benci rutinitas ini. Sebagai editor dan page designer, ia merasa tak perlu menghormati siapapun kecuali komputer dan perangkat lunak didalamnya oh juga kamera seharga belasan juta yang selalu menjuntai di lehernya. Padahal ia tak perlu memotret apapun sebagai editor.

Setelah menempelkan kartu akses dan pintu mempersilahkan ku masuk, aku berlari kecil menghampiri elevator yang sedang terbuka meski sesekali harus tetap berhenti untuk sekedar menyapa dan membungkukan badan. Beruntung teriakan ku didengar sehingga pintu lift yang nyaris tertutup kembali terbuka.

“ehem”

Aku acuh. Nafasku tersengal dan aku merasa sangat kehausan, peduli setan dengan deheman yang semakin kencang.

“kau ter-lam-bat”

Suara tepat dikupingku, membuat aku melonjak kaget. Kenapa semua kejadian hari ini membuat ku gila, sih?

Karna kaget, aku spontan menengok kearah sumber suara, kudapati laki – laki menyebalkan, berperawakan putih tinggi, memakai pakaian serba hitam dengan kamera yang menggelantungi lehernya sedang menjulurkan lidah. Aku kalah telak.

“kau bilang tidak masuk”

Ia tak langsung menjawab pun melihatku, malah menatap langit – langit elevator yang merefleksikan bayangan kami berdua. Ya, hanya ada kami berdua didalam lift ini.

“sebentar lagi akhir tahun, aku punya banyak pekerjaan yang harus ku selesaikan”

Aku tau ia berbohong sejak ia melihat keatas dan mulai menyusun kalimat untuk mengelabui ku. Entah aku yang bodoh karna akan berpura – pura percaya atau dia yang membohongi aku, orang yang sudah mengenalnya sangat lama.

“kau terlihat aneh, wajahmu seperti sedang menyimpan banyak pikiran”

“cerewet. ‘Kan sudah ku bilang. Aku punya banyak kerjaan”

Ia sedang ada masalah dengan Jiho, aku berani bertaruh satu buah mesin kopi.

“ada masalah?”

Dia diam, sibuk mengutak – atik ponselnya. Karna tak juga mendapat jawaban aku pun diam jua. Lantai 14 terasa sangat jauh. Terlebih lagi sedari tadi tidak juga ada yang naik kedalam lift. Suasana agak sedikit canggung meskipun kami berdua sama – sama sibuk dengan seluler kami. Aku yang sibuk bermain Candy Crush dan ia yang entah sedang apa. Keheningan menyelimuti kami sampai suara “teng” dan pintu lift terbuka di lantai 14.

“Mimi-ya”

Aku yang berjalan pelan dibelakangnya berhenti, ia membalikan badannya dan menoleh kearahku.

“kau bawa bekal?”

Aku hanya berani mengangguk, karna terlanjur kaget. Bahkan aku tidak bertanya balik.

“nanti kau mau pulang bersamaku tidak?”

Tanya nya lagi. Aku hanya menggidikan bahu lalu berjalan kearah ruangan kami cepat karna Manajer Kim sedang memantau.

Hari ini Joshua terlihat sangat aneh, benar – benar tak seperti biasanya. Tiba – tiba ia bernyanyi lalu bermain – main kecil dimeja kerjaku, setelah itu ia memanggil namaku berkali – kali tanpa alasan yang jelas seperti

“Mimi-ya”

“Oh Mimi”

Bahkan menyenandungkan namaku seperti

“Mimimimimi…mi..mimimi babo mimi… mimimimimi…”

Ia terus menggangguku seperti itu sampai jam makan siang tiba. Karna ia ta membawa bekal akhirnya kita makan di kantin perusahaan. Karna kita makan lebih lambat dari biasanya jadi tak begitu banyak orang di kafetaria ini, sebagai gantinya makanan tak banyak tersisa. Ia hanya memesan bibimbap dan 2 lemon tea untuk kami berdua. Selama kami makan, tak seperti biasanya ia hanya diam. Mau mengajak berbicara pun aku takut akan menceritakan kondisi mengenaskan Seunghee saat ini. Ngomong – ngomong soal Seunghee, apa ia sudah makan siang ya?

Baru saja aku akan menelepon Seunghee, Joshua berdiri dan mengajak kembali ke kantor karna banyak yang harus ia selesaikan. Akhirnya aku tidak jadi menghubungi Seunghee dan berjalan cepat mengikuti langkahnya yang besar. Joshua diam saja, berbeda 180 derajat dengan kelakukannya saat sebelum makan siang.

Aku merasa khawatir, sangat khawatir. Ia tak pernah seperti ini sebelumnya. Biasanya aku tak peduli tapi entah mengapa aku merasa peduli kini. Seperti kami berbagi kepedihan yang sama. Seperti aku merasakan apa yang ia rasakan. Seperti kami hidup dalam satu jiwa. Jangan menambah masalah lagi, Mimi. Kumohon. Berhentilah sebelum apa yang kau pikirkan benar – benar menjadi kenyataan. Tak ada perasaan lebih. Tidak akan ada. Benar tidak ada, kan?

1/3 Fin

To Be Continued

Dear Miracles, Don’t forget to leave your comment or like if you love this. Share would be appreciated much


Leave a comment

[Oneshot] Terjebak Nostalgia

Eunwoo [ASTRO] and Arin [OMG] | Comfort | G | Oneshot
©2016 AitadikasaStory | Alkindi @Poster Channel 

 

“Suatu saat, manusia akan merasa sendirian dan hidup dalam kenangannya..

.

Eunwoo membuka mata gelisah. Obsidiannya melirik jam di atas meja. Sudah pukul dua dini hari, namun ia belum juga bisa terlelap walau sedetik. Tangannya pun menyibak selimut lalu menurunkan kaki ke lantai, menuju jendela.

 

Langit nampaknya mengerti bagaimana perasaan Eunwoo. Bentangan biru pekat itu tak sedikitpun menunjukkan kemewahannya. Bintang tak sudi menemani sang rembulan yang mulai terhalang awan. Bahkan untuk malam ini, mereka enggan menitipkan cahaya untuk seorang pemuda yang tengah terselubung kabut.

 

Desahan napas putus asa terembus dalam kesunyian malam. Eunwoo menutup gorden, menghalau candra maupun gemintang mengintip kesedihannya. Ia terduduk di tepi ranjang. Pandangannya buram terlapis basahan bening. Seketika otaknya terputar mengenang peristiwa demi peristiwa yang ia lalui bersama seorang gadis.

 

Pagi itu Eunwoo datang agak terlambat. Ia bergegas masuk ke kelas dan untungnya belum ada guru yang masuk. Detik itu juga, Eunwoo menghela napas penuh syukur lantas duduk di bangkunya.

 

“Eunwoo, kau membuat surat ini?”

 

“Tidak. Memangnya kenapa?”

 

“Oh ya? Tapi di sini tertulis namamu.”

 

Eunwoo mengambil amplop putih yang disodorkan Hana—teman sekelasnya yang baru-baru ini menyatakan perasaan padanya. Ada nama Eunwoo di tengah amplop yang membuatnya mengernyit. Untuk menjawab rasa penasarannya, lelaki itu pun membuka amplop dan menarik secarik kertas dari dalam.

 

Meski lantang kuucapkan, apa kau akan mendengar? Memang tak ada hak bagiku untuk memintamu membalas, namun tak bisakah kau melihatku barang sedetik?

 

“Di mana kau temukan surat ini?”

 

“Di mejaku. Kenapa?”

 

“Sepertinya ada orang iseng yang membuat surat ini untukku, tapi salah meletakkannya. Tolong jangan salah paham ya, Hana.” Kemudian Eunwoo tersenyum pada gadis itu. Dalam hati ia membatin sebal, siapa sih yang kekanak-kanakan membuat surat cinta seperti ini?

 

-*-

 

Saat itu, Eunwoo tengah berlatih dance. Hari sudah sore, sekolah pun terasa sepi. Paling hanya satu-dua siswa yang masih tertahan karena belum dijemput. Tiba-tiba gadis itu datang tanpa permisi dan langsung menyoraki Eunwoo.

 

“Kau mengagetkanku tau,” ujar Eunwoo sembari mematikan musik dan menenggak air mineralnya.

 

“Hehe, sori, Kak. Oh iya, ini ada cake buat Kak Eunwoo.” Gadis itu menyerahkan kotak bekal berwarna biru laut sambil menyunggingkan seulas senyum manis. “Aku masak sendiri loh, Kak. Yah, walaupun dibantuin Mama dikit hehe. Jangan lupa dimakan ya, Kak? Cake ini aku bikin khusus buat Kak Eunwoo.”

 

“Hm, letakkan di meja, nanti akan kumakan kalau sempat.”

 

Biasalah, orang ganteng banyak yang nge-fans, batin Eunwoo bangga.

 

-*-

 

Selain dance, Eunwoo lumayan jago main basket. Itulah alasan kenapa ia dipilih untuk jadi kapten tim basket kelasnya dalam kegiatan pertandingan basket untuk mengisi free-class.

 

Saat masuk ke lapangan, ada seseorang yang begitu lantang menyoraki nama Eunwoo sampai laki-laki itu merasa risih. Sebabnya, sejak masuk lapangan hingga pertandingan berakhir, orang itu terus melengkingkan suaranya. Mungkin dia pikir Eunwoo akan senang, padahal sebaliknya.

 

“Kak Eunwoo, semangat!! Fighting fighting fighting! Eunwoo Oppa pasti bisa!”

 

“Wohoo! Kak Eunwoo!!”

 

Ah, cewek itu lagi, batin Eunwoo malas.

 

-*-

 

Eunwoo termasuk jajaran siswa yang bertanggung jawab dalam ekskul dance. Ia wajib meluangkan waktu untuk melatih adik-adik kelasnya walaupun ia sendiri sudah kelas tiga dan seharusnya fokus pada ujian.

 

“Semua sudah datang?” tanya Eunwoo ketika baru saja menginjakkan di ruang latihan.

 

“Sudah, Kak. Tadi aku sudah ngabarin semuanya supaya tidak terlambat.”

 

“Bagus kalau gitu, kita mulai sekarang ya?” ujar Eunwoo pada seluruh siswa-siswi yang datang. Ia hendak berjalan ke tengah, namun tertahan karena seorang gadis memanggilnya.

 

“Kak Eunwoo,” panggil gadis itu malu-malu. Eunwoo menoleh padanya. “Hari ini Kak Eunwoo keren!” ujarnya sembari mengacungkan kedua jempol.

 

Eunwoo terdiam lantas berlalu. Apa-apaan sih anak itu? Norak banget.

 

-*-

 

Eunwoo duduk di tengah lingkaran yang dibuat oleh anak-anak dance. Mereka sedang membicarakan koreografi yang akan dipakai dalam perform pentas seni bulan depan. Akan tetapi Eunwoo merasa amat risih dan ingin mengumpat karena dilihati berlebihan oleh seorang cewek.

 

Sekuat tenaga, Eunwoo menahan diri. Hingga akhirnya setelah rapat itu selesai, ia menemui gadis itu untuk bicara.

 

“Dek, ada yang mau aku bicarain sama kamu.”

 

“Ada apa ya, Kak?” Pipi gadis itu memerah, membuat Eunwoo merasa jengah. Pasti gadis itu berfikir yang tidak-tidak, contohnya: mungkin Eunwoo akan menembaknya.

 

“Dari tadi aku rasa, kamu terlalu berlebihan ngelihatin aku.”

 

“Ha? Oh itu.. Kakak merasa nggak suka ya?”

 

“Ya jelaslah. Risih banget kalau ada yang berlebihan begitu.”

 

“Oo.. maaf, Kak. Nggak akan saya ulangi.”

 

Gadis itu pun pergi setelah mendapat tatapan garang dari Eunwoo.

 

-*-

 

“Halo Kak Eunwoo,” sapa seorang gadis ramah, yang membuat Eunwoo menghentikan langkahnya.

 

Gadis itu lagi.

 

“Hai,” balas Eunwoo, mencoba berbasa-basi supaya namanya tak tercemar. Ia enggan mendengar berita ‘seorang Eunwoo itu sombong’ seperti waktu itu.

 

“Nanti ada latihan dance nggak, Kak?”

 

“Iya dong. Jangan terlambat ya?” Eunwoo tersenyum sebelum kembali berjalan.

 

“Uwaa! Kak Eunwoo ramah banget! Yaampun, sumpah dia itu gantenggg.” Terdengar seruan itu yang menelusup gendang telinga Eunwoo, yang membuatnya bergidik geli.

 

Eunwoo menghapus linangan air mata yang telah menganak sungai di wajahnya. Dadanya terasa sesak ketika udara mendesak masuk ke rongga paru-paru. Semua terasa amat menyakitkan untuk dirasakan. Penyesalan yang tak pernah memberi tahu akan menghempas kebahagiaan ke dasar jurang.

 

“Kak Eunwoo, tunggu sebentar. Ada yang mau aku omongin.”

 

Eunwoo menahan langkah dan berbalik kembali, menemui seorang gadis bersurai cokelat di dasar tangga.

 

“Ada apa?”

 

Gadis itu memilin jemari gelisah. Eunwoo hanya diam memandangnya, memilih menunggu daripada gegabah dan menyudutkannya.

 

“Aku.. aku cinta Kak Eunwoo.”

 

Eunwoo tak berkedip, tubuhnya seolah membatu. Tak ada satupun bagian yang bergerak, seakan waktu telah memberhentikan segalanya.

 

“Besok adalah hari kelulusan Kak Eunwoo.. itu berarti kemungkinan untuk bertemu Kakak sangat kecil. Maka dari itu.. kuputuskan untuk mengakuinya.” Kepala gadis itu terangkat sedikit, memandang sosok lelaki jangkung yang berdiri di anak tangga kedua darinya.

 

“Aku.. nggak akan berharap lebih. Jadi.. Kak Eunwoo jangan merasa terbebani.”

 

Hari itu, untuk pertama kalinya, Eunwoo merasakan gejolak dalam dada yang begitu kuat mengobrak-abrik jiwanya. Kegugupan begitu terasa walau tak diminta. Jantungnya berkontraksi tak semestinya, begitu cepat dan mendebarkan.

 

Hati bertanya, apakah kau menyukainya? Apakah kau akan menerimanya atau mengecewakannya?

 

Akan tetapi tak sebegitu mudahnya untuk menjawab. Untuk pertama kalinya, Eunwoo dirundung perasaan bimbang. Ia terus dihantui oleh gadis itu, pernyataan cintanya yang tiba-tiba.

 

Apakah benar selama ini kau tak menyukainya? Renungkanlah bersama debaran jantungmu itu, Eunwoo. Ini pertama kalinya ada gadis yang berani menyatakan perasaannya padamu. Itu berarti, gadis itu sungguh menyukaimu kan? Apa kau yakin akan membuatnya kecewa dan sakit hati?

 

Senin, tepat dua hari setelah perayaan kelulusan, Eunwoo menemui gadis itu. Setelah melakukan renungan panjang yang menyiksa, hari ini Eunwoo akan memberikan jawaban pasti yang telah dimantapkan oleh sang hati.

 

“Aku akan berusaha sebaik mungkin untuk menjaga hatimu.”

 

Ia percaya, sang bayu tak mungkin salah menyampaikan ke rungu. Namun tetap saja, rasanya sulit untuk menerima jawaban mengejutkan itu.

 

Eunwoo tersenyum. “Aku sungguh akan berusaha.”

 

“Kak Eunwoo… serius?”

 

Eunwoo mengangguk lantas mengusap puncak kepala gadis itu. Awalnya terasa canggung itu wajar kan?

 

“Aku nggak apa-apa kalau Kak Eunwoo menolak. Aku nggak mau Kak Eunwoo merasa terbebani. Sungguh aku akan baik-baik aja walaupun Kak Eunwoo tak menerima perasaanku.”

 

“Kamu tak tahu maksud ucapanku, ya? Kan sudah kubilang, aku akan berusaha menjaga hatimu. Itu artinya aku menerimamu kan? Tapi kenapa kau ingin aku menolaknya, hm? Apa kau menyesal karena sudah menyatakan perasaan padaku?”

 

“Tidak, bukan begitu, Kak. Aku hanya.. hanya tak bisa mempercayai ini. Aku.. aku merasa sangat bahagia. Terima kasih, Kak.”

 

“Hei, jangan menangis. Bisa-bisa ada yang mengira aku melakukan sesuatu hal buruk padamu. Berhentilah,” ujar Eunwoo sembari menenggelamkan kepala gadis itu ke pelukannya.

 

-*-

 

Hubungan itu berlanjut hingga terjalin selama delapan bulan. Awalnya Eunwoo masih ragu dengan perasaannya, karena pada minggu-minggu awal pacaran, ia masih merasa kurang nyaman. Namun ketika bulan berganti,  perasaan Eunwoo mulai mekar. Mungkin dulu ia memang merasa risih karena gangguan-gangguan gadis itu, sekarang tidak lagi. Bahkan Eunwoo juga tidak tahu sejak kapan hatinya berdebar karena gadis itu. Yang jelas, sekarang ia merasa sangat nyaman dengannya. Mereka juga jarang bertengkar.

 

“Sepertinya ponselku tertinggal.”

 

“Yang benar? Coba dicek lagi.”

 

“Tidak ada. Pasti tertinggal di tenda makanan bibi itu.”

 

“Dasar ceroboh! Kalau begitu biar aku yang ambil, kau tunggu di sini, aku akan segera kembali,” ujar Eunwoo sembari mengusap puncak kepala gadisnya.

 

“Ok.”

 

Eunwoo menyeberang jalan, kembali ke tenda biru yang tadi menjadi tempat singgahnya untuk makan malam. Memang benar, ponsel itu tertinggal di sana. Untunglah pemilik kedai itu berbaik hati mau menyimpannya dulu. Eunwoo menggelengkan kepala, kadang kekasihnya itu bisa menjadi super ceroboh.

 

Langkah Eunwoo terhenti ketika lampu lalu lintas sudah berganti warna. Ia melambai pada kakasihnya yang setia berada di seberang jalan.

 

“Rin! Ponselmu ketemu!” teriak Eunwoo.

 

“Benarkah? Makasih ya!”

 

“Tunggu aku di sana, aku akan menyusulmu!”

 

Gadis bermata belo dengan manik caramel itu tersenyum jenaka kemudian berteriak, “Kak Eunwoo, aku mencintaimu!”

 

Meski merasa geli, Eunwoo pun mengangguk dan tersenyum. “Aku lebih mencintaimu! Dan aku bersyukur karena memilikimu, Rin!”

 

Lampu telah berganti warna.

 

“Biarkan aku yang berlari padamu, Kak! Kak Eunwoo tunggu aku di sana, ya?!”

 

“Aku saja yang ke sana!” Namun terlambat, gadis itu sudah berlari menyeberang jalan dengan rona bahagia yang menghiasi wajah manisnya.

 

Eunwoo tersenyum. Kadang Arin memang kekanak-kanakan dan keras kepala, tapi tetap saja menggemaskan. Sedikit lagi gadis itu akan menghampirinya. Tanpa sadar, Eunwoo sudah merentangkan tangan untuk menyambut gadis itu dengan pelukan.

 

“Kak Eunw—“

 

—BRAK!

 

Dwinetra Eunwoo membelalak sempurna. “RINN!!”

 

Air mata telah mengering tertiup angin. Eunwoo duduk menyangga kepala yang terasa amat berat dengan kedua tangan. Tak lagi terjatuh di wajahnya, barang setitik air mata. Rasanya semua telah mengering tak tersisa di dasar luka.

 

Kenangan itu tergali begitu cepat hingga meruntuhkan dinding pertahanan yang susah payah dibangun oleh hati malang yang terluka. Ketidakberdayaan mengungkung jiwa Eunwoo dalam penyiksaan yang disebut perpisahan.

 

Eunwoo memikirkannya dengan perasaan itu, yang menciptakan sebuah harapan menjadi menyakitkan. Ia ingin bertemu, ingin mendengar gadisnya mengatakan ‘I love you’ seperti kala itu. Dalam tidur malam yang tak dapat dilaluinya dengan tenang, lagi dan lagi, Eunwoo ingin merasakan kehadiran kekasihnya.

 

    “Jika pada akhirnya aku mampu melupakannya, maka hidup adalah hal yang mudah..

     Jika aku melupakan segalanya, bukankah itu melarikan diri?

     Bahkan arti kehidupan ini juga akan menghilang, iya kan?

     Suatu saat, manusia akan merasa sendirian dan hidup dalam kenangannya..

     Meski begitu, tidak masalah, aku menyerukan yang disebut cinta dengan perasaan damai..

 

—FIN

A/N:
Alohaa~ masih ada yang inget Vxiebell g? pasti ada dong y /ngarep
Maapkan karna baru nongol lagi :’) biasalah, jadi nak SMA tu sibuk hwhw:'(
apalagi banyak kegiatan ekskulnya hihi 😀
Gimana gimana?? Suka sama couple ni g? semoga suka y~
See u soon eaaa~


1 Comment

[Drabble] Disappear

tumblr_nxg56murii1uoq0wno1_1280

Disappear

selviakim storyline

Yoo Yeonjoo (Yooa) and Kim Jiho (Jiho)

Mystery and Drama.

“Semua kecemasanmu akan menghilang malam ini, Yooa.”

General.

I own the plot.

sorry for typo(s)

***

“Aku cemas, Jiho. Bagaimana denganmu jika malam nanti aku harus pindah kota? Kau akan sendirian di Busan” ucap Yooa sambil menggigit kukunya tanpa arah. “Mengapa kau tidak mau ikut aku ke Seoul?” Continue reading


11 Comments

[Vignette] Soal Peduli

SOAL PEDULI

ketika kau merasa lebih beruntung

by Ravenclaw

Beberapa menit yang lalu aku sudah masuk area jalan besar. Baru saja aku pulang dari kampus kelas malam. Semuanya terkendali, macet tidak ada, bulan menemani bintang, juga semilir angin yang biasa saja mengganggu rambutku kala aku sengaja membuka kaca jendela. Sekedar mengisi udara di dalam mobil.

Continue reading


1 Comment

The Unpredictable [CHAPTER 2]

The Unpredictable

THE UNPREDICTABLE (CHAPTER 2)

Story fic by Ravenclaw

Starring with

Choi Hyojung (Oh My Girl) – Oh Sehun (EXO)

And other

Genre : Fluff, Sad, Hurt, Drama, Family, Friendship, AU!, Romance, School Life | Length : Chaptered (Ongoing) | Rating : Teen

[1]

PLAY

Continue reading


10 Comments

[Three-Shots] A Letter for Jiho

image

by nightskies

A Letter for Jiho

Seventeen’s Mingyu; Oh My Girl’s Jiho and Binnie; Astro’s Eunwoo

ThreeShots

Sad, Angst (Warning: Character Death)

Setelah Mingyu memutuskan untuk mengorbankan hidupnya, Jiho berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak memaafkan lelaki itu; sampai sebuah surat—bersama kejadian yang tidak diketahuinya—datang tiga tahun kemudian.

note: quoted sentences are letters.

disclaimer: none of these fics were mine except the storyline and the poster. it is not also yours, so try to respect someone’s hard work. do not EVEN TRY TO THINK TO PLAGIARIZE IT

***

Continue reading

Advertisements