OH MY GIRL Fanfiction Indonesia

Since: 16/02/24

[Ficlet] Shattered

Leave a comment

shatteredcov
by Purplepirates

Jiho | Jun

angst, sad, romance | ficlet | teen

“Kau sudah terlanjur jatuh cinta padanya ‘kan?”


“Kau sebenarnya berada dalam situasi yang berbahaya, lho, Jiho!”

Jiho baru saja sadar dengan apa yang Irene maksud tempo hari. Tepat setelah ia baru saja selesai membuat boneka salju di pekarangan rumah bersama Jun. Datang bersamaan dengan kekehan kecil Jun yang memasuki rungunya. Menari-nari disana sebentar dan sempat-sempatnya membuat  Jiho kepanasan ditengah dinginnya cuaca hari itu.

Ia dan Jun sudah menghabiskan waktu bersama cukup lama hingga apa saja  yang terjadi diantara mereka jadi masuk akal. Semuanya berjalan seolah semuanya memang seharusnya seperti itu. Perhatian yang diberikan Jun padanya, sikapnya yang tidak tertebak dalam memperlakukan Jiho, semuanya. Dan disitulah situasi berbahayanya. Mereka terlalu dekat untuk ukuran seorang pelayan dengan tuannya. Tapi mereka justru terlalu jauh untuk lebih dari itu.

“Tidakah itu terlihat tidak adil?”

Ucapan Irene yang lain tiba-tiba ikut masuk ke telinganya. Membuyarkan kekehan Jun yang masih betah berkelana di telinga Jiho. Menggantikannya dengan suara gemuruh yang tiba-tiba membuat suasana sekitar Jiho menggelap. Tak lagi cerah ceria seperti sebelumnya.

“Kau tidak bisa meraih tangannya ketika kau ingin.”

Pandangan Jiho jatuh ke tangan Jun. Tangan itu dibalut sarung tangan putih yang selalu dipakainya ketika bekerja. Tangan itu besar dan Jiho tahu dibalik sana ada kehangatan. Ketika Jiho dapat meraih tangan itu, ia yakin bisa merasakan kehangatan. Menjalar dari ujung jarinya, ke seluruh tubuhnya dan berakhir di hatinya. Berlama-lama disana dan membuat Jiho senang setengah mati.

Kapan terakhir kali Jiho menggenggam tangan itu? Ah, ketika latihan dansa terakhir sebelum pesta dansa helatan keluarga Jung Chaeyeon. Jiho masih bisa merasakan genggaman tangan lelaki itu. Terasa begitu nyata dan membuatnya seakan jadi seorang putri kerajaan dalam kurun singkat. Genggaman itu begitu hangat dan Jiho menginginkannya lagi.

“Kau tak akan pernah bisa memeluknya sesuka hatimu.”

Jiho ingat pelukan hangat Jun dihari ulang tahunnya. Saat itu Jiho menangis keras-keras karena kedua orangtuanya tak bisa menepati janjinya untuk pulang dan memberi kecupan ulang tahun bagi putri semata wayang mereka. Jun ada disana. Merentangkan kedua tangannya dan mendekap Jiho. Mengelus puncak kepala Jiho hingga Jiho berhenti menangis dan terlelap. Saat itu hanya perasaan nyamanlah yang mengelilingi Jiho. Oh ya ampun, bayangan mereka berpelukan di hari pernikahan mereka tiba-tiba saja melintas. Tak ayal mengundang helaan napas dari Jiho. Hal itu jelas tak akan pernah terjadi bahkan jika dunia kiamat sekalipun.

Jiho mungkin bisa digolongkan gadis lugu yang naif dan tidak mengerti dunia. Tapi ia tahu kenyataan tidak berpihak pada siapa-siapa. Memikirkan jadi pengantin Jun suatu saat nanti jelas-jelas hanya angan yang mustahil jadi kenyataan.

“Kau tidak bisa mendapatkan hatinya.”

Mata Jiho memanas.

“Seorang pelayan dan tuannya tidak diperbolehkan menjalin hubungan, bukan?”

Pandangan Jiho mengabur. Pohon, salju yang berjatuhan, awan di langit, boneka saljunya, Jun.

Apa yang bisa ia lakukan sekarang? Menangisi kisah cinta pertamanya yang berakhir tragis atau meratapi nasibnya sebagai gadis kaya dan nasib Jun sebagai pelayan pribadinya? Atau mungkin menyalahkan diri sendiri karena jatuh pada pesona Jun padahal peraturan tidak tertulis itu selalu menghantui?

Situasi berbahaya, huh?

Daripada situasi berbahaya, Jiho pikir ini adalah kondisi dimana cinta terlarang dikumandangkan. Jiho sudah terlanjur menyukai Jun. Bahkan mungkin berada ditahap dimana ia mencinta.

“Nona Jiho?” Jiho bisa melihat Jun tersenyum kecil sembari berjalan mendekatinya. Kemudian dengan sigap melepas jasnya dan menyampirkannya di bahu Jiho. Lalu merunduk sedikit agar wajahnya bisa sejajar dengan Jiho. “Apa kau kedinginan? Kita perlu kembali?”

Jiho menggeleng kuat-kuat.

“Apapun yang terjadi, walaupun hatimu hancur sesudahnya, kau sudah terlanjur jatuh cinta padanya ‘kan?”

Ah, Jiho melupakan satu kalimat terakhir itu. Hatinya kini sudah hancur. Bertransformasi menjadi kepingan-kepingan tak beraturan yang tercecer sembarangan. Entah kemana jatuhnya, Jiho tak yakin bisa mengumpulkan dan menyatukannya kembali. Yah, kalaupun ingin, seseorang harus memberikan yang baru. Yang lebih kuat dan tidak mudah hancur namun mudah dirawat.

Sebelum pandangan Jiho menggelap dan semuanya jadi pekat, secara mengejutkan ia bisa merasakan kehangatan genggaman milik Jun yang jadi dambaannya pun nyamannya dekapan Jun yang jadi impiannya.

Sialan. Melewati batas seperti ini ketika Jiho sudah hancur berkeping-keping. Jun terlalu kejam.

fin


i know it’s late but, hello December!

Advertisements

Author: Purplepirates

EXO-L and Carat.

Miracle, leave a comment pls^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Advertisements
%d bloggers like this: