OH MY GIRL Fanfiction Indonesia

Since: 16/02/24

[Vignette] Lucky Enough

1 Comment

luckyenough

©2016 – Purplepirates

Kim Jiho [Oh My Girl] | other cast find yourself

slice of life, friendship, school-life vignette PG-13

“Hidupnya memang sesial ini.”


“Kau pikir hanya karena wajahmu cantik dan kau punya banyak penggemar, kau bisa masuk klub yang kau ingin sesuka hatimu, hah, Kim Jiho?”

Kim Jiho memang cantik, kulitnya seputih susu dan selembut sutra. Prestasi akademiknya terlalu bagus ditambah fakta kalau gadis ini berasal dari keluarga yang bergelimangan harta. Tak pelak alasan-alasan seperti itu membuatnya jadi punya banyak penggemar dari berbagai kalangan. Kim Jiho sendiri menyadari dan mengakuinya.

Tapi hebatnya setelah keliling-keliling ruang klub yang ada di sekolahnya, Jiho ditolak mentah-mentah begitu mengajukan diri jadi bagian klub itu. Bahkan sebelum Jiho sempat menunjukan apa yang ia bisa lakukan. Mulai dari klub cheers, klub memasak, klub paduan suara, sampai klub ilmiah. Mereka semua menolak Jiho. Dan alasan yang paling tidak masuk akal datang dari klub cheers.

Biang keroknya, sih, Jiho sudah tahu. Paling si senior kelas tiga yang selalu menempel pada semua siswa tampan. Siapa namanya? Yoon Sera? Sena? Ah, tidak tahu. Jiho tidak begitu peduli dan memang tidak berniat peduli. Yang harus ia pedulikan sekarang adalah ruang konseling yang akan dihadiri orangtuanya karena tidak menemukan klub yang bisa menerima Jiho. Salahkan peraturan sekolah yang mewajibkan setiap siswanya mengikuti kegiatan klub. Kalau tidak, orangtua akan dipanggil karena mengira anaknya malas.

Sejujurnya, selain alasan diatas, ada satu lagi alasan kenapa Jiho mau susah-susah mencari satu saja klub yang mau menampungnya. Ia tak mau dirinya yang menjamur di ruang konseling seorang diri karena menunggu orangtuanya datang untuk mendengar guru konseling bicara ngalor-ngidul perihal anaknya yang tak punya kegiatan. Jiho yakin betul orangtuanya—ayahnya terutama—terlalu sibuk untuk sekedar datang ke sekolah. Menjemput anaknya saja tidak pernah, bisa-bisanya mereka datang ke sekolah.

“Klub Sastra?” Jiho membaca plakat yang tertera di pintu. Menampilkan guratan kecil di dahi, Jiho berpikir keras. Seingatnya, klub sastra tidak ada di kertas daftar klub sekolah. Kenapa tiba-tiba muncul ‘Klub Sastra’ disini? Penasaran menyelimuti, Jiho akhirnya nekat membuka pintu tanpa permisi.

Baru saja selangkah masuk, Jiho langsung disambut pemandangan yang membuatnya terpana. Tak pernah Jiho sangka kalau sekolahnya punya dua perpustakaan. Mana disini lebih mewah dengan meja bundar kecil yang ditaruh di tengah ruangan dikelilingi kursi-kursi yang kelihatan sangat nyaman untuk diduduki.

“Kak Shiah, kalau masuk tutup lagi pintunya, dong—lho?”

Jiho berbalik untuk melihat siapa yang bicara.

“Jung Jaehyun?”

“Kim Jiho?”

Hidupnya memang sesial ini. Baru tadi pagi Jiho menghindari Jung Jaehyun sekarang ia malah harus dipertemukan dengan Jaehyun. Jiho jadi penasaran kenapa yang namanya kebetulan begitu suka ikut campur dalam kehidupannya.

“Sedang apa kau disini?” tanya Jaehyun, tangannya bergerak menutup pintu kemudian menghampiri Jiho yang kelihatan salah tingkah. Seolah tertangkap basah menyusup disana.

“Kau sendiri? Punya urusan apa disini?” Jiho memperhatikan tiap gerakan Jaehyun disertai tangan yang bersedekap.

“Aku anggota klub ini. Harusnya aku yang bertanya seperti itu. Kukira tadi kau Kak Shiah yang terbiasa tidak menu—”

“Kau? Jadi anggota klub sastra? Tidak bercanda?” Jiho memotong kalimat Jaehyun begitu saja. Tertawa disela kalimatnya, “Jung Jaehyun yang nilai sastranya paling rendah seangkatan bisa masuk klub sastra? Jangan buat aku tertawa disiang bolong, deh.”

Boleh dikatakan Kim Jiho ini bakal calon penerus generasi kakak kelas tukang tindas yang hobinya merumpi gosip hangat di toilet sambil memegang pensil alis. Jiho tidak marah. Toh, dirinya sendiri mengerti sifatnya yang satu itu dan meski sudah berulang kali mencoba, Jiho tetap tidak bisa menghilangkannya begitu saja.

“Kurangilah sifat angkuhmu yang satu itu. Aku pernah dengar kau membenci kakak-kakak kelas yang hobi menindasmu macam Yoon Serin, tapi coba lihat kelakuanmu sendiri. Tak ada bedanya dengan mereka.” Jaehyun menuturkan sekalimat frontal yang bisa membuat gadis manapun sakit hati. Tapi lawannya kini Kim Jiho. Gadis dengan tingkat keangkuhan setinggi langit yang sudah bertapa ratusan tahun demi mendapat keahlian berupa membalas kalimat pedas tak kalah pedasnya.

“Urus dulu nilai bahasamu sana, baru mulai mengurusi urusan orang lain, iyuh.”

“Dasar bocah gila,” ujar Jaehyun sambil merotasikan bola matanya malas. Terhitung sudah puluhan kali dirinya adu mulut dengan Yang Mulia Kim Jiho dan semua berakhir sama saja. Dirinya lelah menanggapi dan Jiho tetap menyebalkan seperti sedia kala. “Cepat katakan alasanmu kemari dan biarkan aku menendang bokongmu keluar dari sini.”

Ouch, Namjoon pasti akan sangat marah mendengar adiknya diusir seperti kucing hina begini,” kata Jiho sambil menampakan wajah sedih yang dibuat-buat sekali.

“Berhenti bicara angkuh kalau kerjaanmu hanya berlindung dibalik mantan kapten basket kebanggaan kita,” Jaehyun menghempaskan tubuhnya ke sebuah kursi disana, kemudian melanjutkan. “Cepatlah, aku tidak punya banyak waktu untuk sekedar mendengarmu bicara tidak jelas.”

“Dasar sok sibuk.” Cibir Jiho, “aku kemari mau mendaftar jadi anggota klub ini. Terima aku, ya?””

“Sayang sekali Yang Mulia Jiho,” Jaehyun menggeleng kecil dan pura-pura terlihat menyesal, “kak Serin sudah lebih dulu membayarku untuk tidak menerimamu disini.”

Serin lagi, Serin lagi. Sudah berapa kali Jiho mendengar nama itu. Dari pagi sampai pukul dua siang ini. Rasanya bosan sekali Jiho berurusan dengan kakak kelas itu melulu. Apa sampai malam nanti Jiho masih akan mendengar nama itu disebut-sebut? Wah, kalau iya, berarti Tuhan memang begitu menyayangi Jiho. Sampai-sampai berusaha mendekatkan dua manusia yang saling benci ini.

“Ah, baiklah. Kurasa aku akan ikut klub renang saja. Thanks, Jae.”

Sepertinya kehadiran orangtua Jiho di ruang konseling bukan lagi wacana semata. Yoon Serin sudah menggunakan uang orangtuanya untuk membuat hal itu jadi nyata dalam hitungan beberapa minggu kedepan. Tak perlu alat Doraemon untuk melihat masa depan, semua sudah jelas.

Baru beberapa langkah merajut langkah menuju pintu, tawa Jaehyun mengudara. Membuat Jiho berhenti sesaat untuk melihat hal menggelikan apa yang bisa membuat Jaehyun tertawa sekeras itu.

“Ya, ampun. Coba lihat wajah menggelikanmu itu, Kim Jiho.” Jaehyun mengusap sudut matanya yang mengeluarkan sedikit air mata saking hebohnya ia tertawa.

“Heh, jangan terta—” baru saja Jiho berniat membalas Jaehyun, perkataannya terpotong. Tentu saja oleh Jaehyun, siapa lagi?

“Aku hanya bercanda, bodoh,” katanya, mengundang tatapan bingung dari Jiho. “Kau diterima disini, maksudku.”

Hidupnya memang sesial ini hingga sebutan pembawa sial mengekori namanya dengan indah.

Dimulai dari surat-surat kaleng berisi ancaman yang dikirim ke setiap loker anak klub sastra tiap pagi, kemudian hilangnya puluhan buku koleksi klub sastra dan diakhiri dengan ditutupnya klub sastra sehari sebelum perayaan lima tahun berjalannya klub sastra. Semua itu disebabkan oleh Kim Jiho seorang.

Hebatnya, Jiho si pembawa sial itu masih ada yang mau menemani. Yoo Shiah, si ketua klub yang lulus lebih dulu tidak menyalahkan Jiho. Jeon Wonwoo, kakak kelas yang bibliophile akut itu mengaku tidak keberatan untuk tetap berteman dengan Jiho selaku tersangka utama setelah Yoon Serin dalam kasus bubarnya klub sastra. Bae Yoobin juga tetap pada pendiriannya untuk membenci Yoon Serin, bukan Kim Jiho. Hanya tinggal satu orang.

“Hei, Jaehyun bodoh.”

“Jangan dekat-dekat, dasar hama.”

“Kejam.”

“Kau lebih kejam karena tidak melakukan apa-apa untuk klub sastra.”

“Kontribusiku untuk klub sastra ada sekitar satu tahun, tahu?!”

“Satu tahun kurang. Itupun membuat klub sastra yang baik-baik saja jadi tidak karuan.”

Jung Jaehyun memang tetap cek-cok dengan Jiho seperti biasanya, tapi lidahnya seolah gatal kalau tidak mengangkat topik klub sastra setahun lalu. Nah, itu dia sifat asli Jaehyun. Bersikap baik, sih, bersikap baik tapi dendam tetap ada dan tidak akan sirna. Menyebalkan, memang.

“Sudah, ih. Sudah hampir setahun yang lalu juga.” gerutu Jiho. Tak lagi didengarkan karena Jaehyun sudah berjalan jauh di depan.

“Jahe Bodoh! Tunggu aku!”

“Salah sendiri melamun!”

“Sini kujitak kau!”

“Tidak mau!”

Tahu apa yang tidak sial dihidup Jiho selain wajah cantik, otak cemerlang, punya banyak penggemar dan dari kalangan keluarga kaya? Tak bisa? Oh, ayolah gunakan otak pintar kalian. Serius tidak bisa? Fine, kalian ini memang hobi yang instan saja.

Kim Jiho cukup beruntung karena telah menemukan sahabat sejatinya. Kim Jiho menjadi lebih baik dan bisa mengoreksi dirinya sendiri. Kim Jiho yang dulu telah lesap terbawa angin. Oh! Dan satu lagi! Kim Jiho tak lagi membenci Yoon Serin.

“Serius kau tidak mau memaafkanku?”

.

“Sejak kapan kau meminta maaf?”

.

“Aku serius, Jae. Kau tidak mau memaafkanku, ya?”

.

“Memangnya kapan kau punya salah padaku, Yang Mulia?”

fin


Serius, ini plotless dan aneh banget pake kuadrat. Endingnya pemaksaan banget lagi. Rasanya memalukan mengirim fic ini. Btw terima kasih bagi siapa saja yang udh baca sampai selesai debut fic gaje saya. Mind to review, senpainimdeul?

Author: Purplepirates

EXO-L and Carat.

One thought on “[Vignette] Lucky Enough

  1. Reblogged this on The Sirius and commented:

    debut fic di omgffi…

    Like

Miracle, leave a comment pls^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: