OH MY GIRL Fanfiction Indonesia

Since: 16/02/24

[OneShot] Cerita Teman Lama

1 Comment

cerita teman lama cover

.

Cerita Teman Lama

By Dedestnation

.

With

MonstaX’s I.M aka Im Changkyun and OhMyGirl’s Arin

General – Friendship – SchoolLife

.

Story Is Mine

.

“ Ada banyak hal yang terjadi,…”

.

Happy Reading~

.

.

.

Siang itu, di Aula Utama Fakultas Seni. Hari pertama menginjakkan kaki sebagai mahasiswa, mahasiswa baru tepatnya. Aku terlempar, ahh bukan terlempar, tapi memang aku yang berniat kemari. Aula Utama Fakultas Seni Universitas. Sama meriahnya dengan PenSi (Pentas Seni) acara Ulang Tahun SMA ku dulu, ahh tidak, ini lebih meriah, lebih banyak orang bahkan lebih mengagumkan, lebih membuat mata terbelalak tak percaya. Pengisi acaranya tak lain dan tak bukan adalah mereka kakak-kakak tingkat dari fakultas kesenian juga mahasiswa baru sepertiku –yang entah sejak kapan latihan– yang juga anak Fakultas Senian yang mengagumkan ini.

            Namun, selang beberapa penampilan luar biasa yang aku lihat, aku kaget bukan main. Mataku terbelalak tak percaya melihat seorang lelaki berkulit putih berhidung mancung –yang kukenal sejak Sekolah Dasar– sedang  menunjukan kemampuan menari ditambah Rapp diatas panggung sana. Bukan main, tak habis pikir kepalaku ini. Ahh, tapi setelah kupikir-pikir mungkin aku salah orang atau orang itu memang mirip dengan kawan SD ku dulu. Tapi sayang, kemungkinan yang aku pikirkan tentang aku salah orang ternyata salah total. Lelaki diatas panggung tadi –yang kini sudah selesai menampilkan kehebatan Dance dan Rapp nya– memanggilku.

“ARIN” teriaknya, membuatku sontak menoleh tanpa ragu.

Kemudian, setelah menemukannya berdiri tegap dihadapanku dengan senyum mengembang dan juga menanyakan “Apa Kabar” keyakinanku sudah mantap seratus persen bahawa dia adalah kawan SD ku, Im Changkyun si lelaki jenius yang entah kenapa berada disini –Aula Fakultas Seni– dan melakukan pertunjukan diatas panggung beberapa saat lalu.

_

            “ Kamu kuliah disini juga ternyata?” dia memulai pertanyaan, sedang aku masih bengong memikirikan kemungkinan-kemungkinan yang mungkin tejadi pada lelaki yang kini duduk dihadapanku ini.

            “Rin???” dia mengibaskan tangannya dihadapanku, mungkin bermaksud menyadarkanku dari lamunan konyolku ini. “ Kamu kenapa? Jangan bengong.”

Aku menghela napas, banyak sekali pertanyaan yang ingin aku tanyakan pada lelaki bermarga Im ini tapi entah harus aku mulai dari mana, entahlah.

            “ Kamu kenapa sih?” dia bertanya lagi, mungkin bingung dengan tingkah bengongku.

Aku menggeleng, “tidak apa kok”.

            “ Kyun? Aku boleh tanya sesuatu?” basa-basi kumulai, untuk mengorek informasi lebih dalam.

Dia mengangguk, sambil menyeruput Ice Tea nya dengan sedotan.

            “ Kamu kenapa bisa ada disana?” itu pertanyaan pertama yang sudah aku pikirkan sejak aku melihat wajah lonjong dengan lesung di pipi miliknya itu.

            “ Aku kuliah disini “ jawabnya santai, sesantai saat dia menjawab pertanyaan dari Mr.James dulu waktu kami kelas dua SMP.

            “ Bukan, maksudku adalah kenapa  kamu ada di panggung dan menari disana bahkan kamu melakukan Rapp disana bersama lelaki sipit tadi.”

Dia tersenyum sebentar, kemudian berkata “Namanya Jooheon bukan lelaki sipit, dia temanku”

Bodo’ amatlah dengan siapa nama lelaki sipit yang berduet bersama Changkyun, toh itu bukan pertanyaanlu.

            “Aku kuliah disini, Seni Pertunjukan Fakultas Seni” itu adalah serangkaian jawaban yang sebenarnya tak pernah ingin aku dengarkan. Tapi demi mendengarnya, mataku membelalak untuk kedua kalianya hari ini. Bagaimana mungkin?

            “ Jangan bergurau Kyun” aku masih tak percaya.

            “ memangnya aku terlihat bergurau ya?” dia tersenyum mengatakannya.

Bagiamana bisa, tidak! Bagiamana mungkin? Lelaki yang tingginya kurang dari 180cm ini masuk Fakultas Seni. Hey, ingatlah dia peringkat satu dari kelas satu SD hingga 3 SMP. Entah apa yang terjadi padanya saat SMA, aku tak sekelas bahkan tak satu sekolahan lagi dengannya. Bahkan Im Changkyun tercatat sebagai satu-satunya siswa yang mendapat beasiswa resmi dari presiden tahun itu, lelaki ini bahkan sudah mahir membedah tikus atau hewan sejenis untuk keperluan praktek Biologi sebelum pelajaran membedah binatang diajarkan, ia juga sudah mengerti yang namanya Trygonometri sejak kelas dua SD yang entah dari siapa ia belajar.

            “ Apa yang terjadi?” aku bertanya memastikan.

            “Tidak terjadi apapun, memang kenapa?”

Dia bahkan masih bertanya kenapa disaat ada hal mustahil yang terjadi dihadapan ku saat ini.

            “ Kamu kenapa bisa tersesat disini?” aku bertanya lagi dan ia malah tertawa menanggapinya.

            “ Aku tidak tersesat, ini memang pilihan.”

Ya Tuhan, pilihan macam apa yang ia maksudkan coba?

            “ Aku tahu, pikiranmu pasti sama dengan orang-orang, tapi mau bagaimana lagi. Aku lebih nyaman begini. Mungkin pensil dan kertas bukan jodohku Rin.”

Dia tersenyum lagi menatapku,

            “Pensil dan kertas juga ogah berjodohmu denganmu!”

            “Itu kamu tahu”

Aku mengehela napas berat, hingga kemudian mengatakan satu hal yang memang sudah kusimpan lama sejak aku mengenalnya sebagai teman paling jenius yang pernah kukenal, teman yang hanya dengan menutup mata tiga detik dapat menjawab pertanyaan 13 kali 6 kali 7 tambah 83 kurang 39, dulu waktu kami kelas dua SD.

            “ Tapi Ilmu berjodoh denganmu”

Aku mengatakannya sungguh-sungguh, bermaksud agar dia bisa percaya kata-kataku. Tapi mau dikata apalagi dia sudah memiliki keputusan untuk meninggalkan semua kejeniusannya itu.

            Dia menghela napas panjang, berat, penuh beban. Namun kemudian tersenyum lagi tak berniat menjawab perkataanku tadi.

            Hening sejenak, menyisakan suara gemuruh orang-orang sekitar yang tak ada bedanya dengan lebah. Berisik, tapi inilah yang akan dirindukan nanti jika sudah wisuda. Ahh, apalagi ini yang aku pikirkan? Hari pertama masuk kuliah sudah berpikir soal wisuda. Lebih baik berpikir tentang teman SD ku yang kini entah kenapa berada di Fakultas Seni ini.

            “Kalau aku boleh tanya, apa yang terjadi setelah kamu lulus SMP?” tanyaku menyelidik, berharap mendapat jawaban logis darinya.

            “ Aku masuk SMA” jawabnya.

            “ bukan itu maksudnya, maksudku, kenapa kamu bisa seperti ini sekarang? bagaiamana bisa? Murid jenius macam kamu bisa seperti ini sekarang?”

Sebenarnya sangat logis dengan dia menjawab “Masuk SMA” hanya saja itu bukan jawaban yang aku inginkan dari pertanyaanku. Ya Tuhan Im Changkyun.

            “ Aku masuk SMA, kemudian keluar saat semester satu kelas dua, …”

            “ Kenapa ????” aku memotongnya

            “ ada banyak hal yang terjadi,…”

            “Apa ???” Lagi, aku memotongnya.

Dia menghela napas, menatapku sedikit kesal,

            “ Iya-iya, aku tidak akan bertanya lagi”

            “ Banyak hal yang terjadi padaku saat SMA, entahlah, aku seperti tidak menemukan diriku. Kamu tahukan masa SMA adalah masa dimana kamu mencari jati dirimu, Nah, aku tidak menemukan jati diriku di Fisika, Biologi, atau Matematika yang selama ini orang-orang anggap aku berbakat dalam hal itu, dan aku pun juga begitu hingga menuliskan Scientist sebagai cita-cita ku saat SD…”

            Aku tersenyum samar mendengar kata Scientist, aku ingat betul bagaimana lelaki ini dengan percaya diri mengatakan bahwa ia ingin menjadi seorang Scientist seperti Ayahnya.

            “ … hingga aku berada pada keadaan stress berat, aku linglung seperti orang tak tahu tujuan untuk apa hidup. Aku dengan mudah mendapat nilai A+ , mendapat peringkat satu dikelas bahkan nasional, aku juga dengan mudah mendpaat trofi-trofi penghargaan dari berbagai lomba, bahkan IQ ku diatas rata-rata. Aku mulai merasa hidupku biasa saja, tak ada yang istimewa ketika itu dan aku aku tak tahu arah tujuan akan kemana aku nanti, kata Scientist seperti hal yang sangat biasa karna Ayahku sendiri menyandang gelar itu begitupun Kakakku. Aku tak memiliki keinginan untuk sekolah hingga aku di Drop Out karna membolos berbulan-bulan.”

            Mulutku masih menganga, tak percaya dengan cerita akhir bahwa ia di Drop Out dari SMA nya. Bagaiamanapun dia adalah murid jenius, seharusnya kepala sekolah berfikir dua kali untuk mengeluarkan lelaki yang sudah menguasai bahasa inggris bahkan sebelum ia masuk SD ini.

            “sedikit konyol memang ceritaku” ia menyambung lagi ceritanya “ setelah itu, Ibuku menyarankan Home Schooling”

            “ Kau tak dimarahi orang tuamu saat itu?”

Dia menggeleng “ mereka tidak marah tapi mungkin kecewa”

Aku mengangguk.

            “ Tapi Home Schooling tak berjalan mulus, karna itu sama saja dengan sekolah umum. Aku tak ingin melanjutkan Home Schooling lagi, Aku sudah muak dengan sekolah. Hingga akhirnya entah mendapat ide dari mana, Ibuku menyuruhku masuk Sekolah musik.”

            Ceritanya berhenti sampai disini, ia tak melanjutkan lagi. Toh, dari ceritanya aku sudah dapat menyimpulkan kenapa ia berada di Fakultas Seni.

            “ Itu bukan keputusan yang mudah, dari seorang jenius sepertimu yang biasanya berteman dengan rumus dan angka sekarang harus berteman dengan not balok dan semacamanya.”

Dia tersenyum menanggapiku.

            “Memang sedikit sulit, tapi aku menyukainya.”

Aku tersenyum menanggapinya, tak tahu harus menanggapi dengan kata apa.

            “Kamu sendiri?” tanyanya sambil mneyeruput Ice Tea nya yang hampir habis menyisakan bongkahan es batu.

            “ Pendidikan Dokter, Fakultas Kedokteran” jawabku singkat

Dia mengangguk  “sudah kuduga, sudah terlihat jelas di jidatmu yang tertutup poni itu”

Aku mengernyit, Bagaimana dia tahu? Apa mungkin selain jenius, dia juga peramal?

            “Sudah bertemu Kak Kihyun? Dia juga mengambil jurusan Pendidikan Dokter. Kakak tingkatamu”

Aku mengangguk,

            “ Lalu ?” tanyanya lagi

            “ Lalu apa? Ya sudah aku menyapanya balik saat dia menyapaku, toh aku juga mengenalnya kan?”

            “ Wahh Selamat, kamu disapa oleh orang paling terpopuler di Fakultas Kedokteran.”

Aku menghembuskan napas sejenak,  Jadi ini alasan kenapa gadis-gadis tadi melihatku tak suka.

            “ Kamu pasti jadi perhatian banyak gadis gara-gara disapa oleh Kak Kihyun?”

Aku mengangguk.

            “ Gadis-gadis tadi melihatku tanpa berkedip, aku jadi pusat perhatian tanpa aku tahu sebabnya. Ya Tuhan, dan alasannya hanya karna aku disapa oleh orang macam Yoo Kihyun”.

Changkyun tertawa kali ini, mungkin juga kaget karena aku tak memakai embel-embel Kakak dan langsung menyebut nama Yoo Kihyun.

            “ Kamu gadis kedua yang aku temui dan tidak tertarik dengan Kak Kihyun”.

            “ Dia memang tidak menarik”.

Dia Terkekeh lagi

            “Kenapa?”

            “Aku tidak suka lelaki berkacamata”

 

Finish

 

Hai~

Silahkan Meninggalkan Jejak.

Salam Sayang

..

Dedes

Advertisements

Author: Dedes

Meskipun nama saya Dedes, tapi saya bukan istrinya Ken Arok.

One thought on “[OneShot] Cerita Teman Lama

Miracle, leave a comment pls^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Advertisements
%d bloggers like this: