OH MY GIRL Fanfiction Indonesia

Since: 16/02/24

[Oneshot] Never Before

2 Comments

1466346127384

by nightskies

Never Before

featuring Oh My Girl’s Seunghee with Seventeen’s Woozi [Jihoon]

Oneshot

Fluff, Comedy, Romance

G

Singkatnya, Seunghee merasakan sesuatu yang tak pernah ia rasakan sebelumnya

Disclaimer: The entire event that happens in this story is all pure fictional, none of them are true. Any same events, same persons, same places, are pure coincidences. All the characters in this story belong to their respective owner, while the story is mine.
Plagiarism is a bad thing, you know, and it will bite back someday 😉

[note: this story is strongly inspired by Stupid In Love]
[note2: who knows that one-sided love could be this beautiful and amusing]

***

“Kenapa kau membuang waktumu?”

Gadis itu menoleh, menemukan temannya dari ekskul paduan suara, Myungeun, sedang berdiri di dekat pintu kelasnya.

“Aku sedang membersihkan kelas, dan hari Jumat adalah giliranku piket. Apanya yang membuang waktuku?”

“Kau tahu yang kumaksud bukan soal piket, Seunghee,” balas gadis berambut sebahu itu. “Ini tentang Jihoon.”

Seunghee memicingkan matanya. “Jihoon? Aku membuang waktuku untuknya? Tunggu, aku sama sekali tidak paham. Apa maksudmu?”

“Aku tahu kau menyukainya,” ucap Myungeun, kali ini dengan suara yang dipelankan. “Itu jelas membuang waktumu. Kau tahu ia tak akan membalas perasaanmu, bukan? Ia terlalu dingin untuk jatuh cinta.”

Seunghee mengangkat alisnya, tanda ia tidak kaget mendengarnya, tapi itu bukan berarti ia sudah menduga bahwa temannya tahu soal itu secepat ini.

Ia yakin seharian ini ia tidak sedikit pun membicarakan atau memperhatikan Jihoon, jadi dari siapa Myungeun tahu? Atau, dari mana?

“Kau tak perlu repot-repot mengelak. Aku lihat dengan mata kepalaku, kau meninggalkan sesuatu untuk Jihoon di lokernya. Aku tahu, itu pasti surat cinta.”

Seunghee meringis, lalu bertepuk tangan. “Kau luar biasa, Myungeun. Tak kusangka analisismu setajam itu.”

Gadis itu tertawa bangga. “Kau meremehkanku?”

“Sayang sekali, tuduhanmu salah. Itu bukan surat cinta. Itu kertas tempatnya menuliskan lagu. Sepertiku yang akan kelabakan jika buku puisiku hilang, kuyakin ia akan kelabakan jika lagu ciptaannya hilang. Jadi kukembalikan kertas itu ke lokernya, karena kau tahu, Jihoon sudah di luar gedung sekolah lima menit setelah bel pulang berdering. Aku tak bisa meninggalkannya di kolong meja karena petugas piket akan mengira itu sampah, dan aku juga tak bisa membawanya pulang karena aku tak melihat kegunaan jika kertas itu kupegang.”

Myungeun melongo. “Jadi, itu bukan surat cinta?”

“Myungeun, ini tahun 2016. Aku bisa kirimkan pesan di aplikasi chat, itu pun jika aku memang menyukainya. Lagipula, surat cinta dibuat di atas kertas. Berani taruhan, ia akan jadikan kertas itu sebagai medianya menuliskan lagu. Ia tak akan mencari tahu siapa pengirimnya, dan aku tak mau suratku dihargai dengan cara itu.”

Gadis berambut sebahu itu terkekeh malu. “Maaf.”

“Lupakan saja,” ucap gadis itu sambil meletakkan sapunya di pojok kelas. “Ayo kita ke kedai depan sekolah. Aku lapar.”

Tidak biasanya kau pandai beralasan, Seunghee. Kerja bagus, batinnya bangga.

*

Hyun Seunghee sekelas dengan lelaki yang kurang tinggi jika dibandingkan teman lelaki lainnya selama tiga tahun. Selama itu pula, Seunghee memendam rasa pada Lee Jihoon.

Tapi Myungeun baru menyadarinya sekarang? Hah.

Awal ceritanya cukup lucu, bagi Seunghee. Keduanya sama-sama mengikuti ekskul padusa—paduan suara. Tepatnya, Seunghee sebagai pemimpin kelompok sopran, sementara Jihoon sebagai satu-satunya lelaki di ekskul itu, ia menjadi pemain piano, gitar, atau segala macam alat musik yang diminta pelatih padusa mereka, Hyojung.

Di minggu-minggu awal musim dingin, keduanya datang ke sekolah pada hari Minggu, mengira ada latihan. Melihat tak ada satu pun makhluk hidup yang berkeliaran di sekolah, membuat Seunghee curiga bahwa sebenarnya hari itu tak ada latihan.

Benar saja, saat Seunghee mengecek ponselnya, terdapat puluhan pesan dari Myungeun yang berusaha menghubunginya sejak kemarin untuk memberitahu perubahan jadwal latihan. Semalam, Seunghee kelabakan mencari ponselnya yang mendadak raib. Selidik punya selidik, ternyata benda balok tipis itu disembunyikan oleh Seunghan, adiknya yang berusia lima tahun, dan baru ditemukan tadi pagi oleh ibunya.

Sementara Jihoon dibohongi oleh Soonyoung, anggota ekskul tari yang mengaku-ngaku sedang berada di sekolah bersama dengan anggota ekskul padusa, membuat Jihoon langsung melesat ke sekolah, meski lelaki itu sebenarnya sudah tahu bahwa latihan memang ditunda untuk minggu depan—terima kasih pada Soonyoung yang berhasil mengelabuinya dengan mengirimkan bukti palsu; foto latihan padusa bulan lalu.

Saat lelaki itu mengajak Seunghee pulang bersama, ia yakin Jihoon telah menganggapnya teman—sejauh yang Seunghee amati, Jihoon amat tidak ramah dengan orang asing. Begitu keduanya duduk di bis, Seunghee yang tak dapat menahan rasa penasarannya, bertanya.

“Apa yang akan kau lakukan pada Soonyoung besok?”

Jihoon mengedikkan bahu. “Entahlah, tapi jika kau melihat kepala Soonyoung mendadak plontos di depan matamu, aku bersumpah, itu ulahku. Aku pasti yang telah memasukkan racun ‘Pembuat Botak dalam Lima Menit’ ke dalam ramennya.”

Seunghee tertawa. Wah, sarkasme lelaki ini tidak main-main rupanya, pikir gadis itu.

Tepat saat Seunghee melihat senyum Jihoon, hatinya berdesir tanpa alasan. Senyum itu meninggalkan kesan yang kuat dalam benak Seunghee, membuat gadis itu merasa seperti menghuni sebuah semesta dimana hanya ada dirinya dan Jihoon.

Seunghee kala itu yakin ia telah jatuh cinta pada lelaki ini. Meski, ia tidak menyangka bahwa jatuh cinta ternyata prosesnya sesederhana sekaligus seajaib ini.

Jika Seunghee ingat-ingat lagi, itu adalah terakhir kalinya ia tertawa bersama Jihoon. Karena tiap kali keduanya berpapasan di lorong sekolah atau di latihan padusa, hanya ada kedua alis yang terangkat, senyum yang dipaksakan, atau kata “Hai” tanpa basa-basi mengekor di belakangnya. Sekalipun ada obrolan, maka topiknya tak jauh dari alasan mengapa keduanya harus bicara—kebanyakan tentang latihan padusa atau tugas kelompok. Bisa dibilang, hubungan keduanya tidak renggang, tapi juga tak bisa dikatakan akrab.

Meski demikian, perasaannya pada Jihoon terus tumbuh, seperti ada yang merawat, namun sumpah itu bukan ulah Seunghee.

Mungkin karena kini bukan hanya senyum Jihoon yang menarik hatinya, tapi semua yang bisa Seunghee lihat pada lelaki itu. Namun jika kau tanya Seunghee, “Apa yang paling berkesan dari Jihoon?” maka jawabannya adalah, “Sikap dinginnya.”

Yah, lagipula Seunghee menyematkan panggilan “Winter Child” pada Jihoon bukan tanpa alasan. Selain karena sikapnya, kebetulan Jihoon lahir di salah satu bulan musim dingin.

Dengan helaan napas yang dihembus keras-keras, Seunghee mengambil sebuah bantal lalu ditendangnya ke sebrang ruangan. Setahunya, jatuh cinta adalah fase terindah dalam hidup seseorang. Dimana hatinya akan berdebar ketika berdekatan dengan orang yang disukainya, senyum dan tawanya terbentuk karena orang itu, dan matanya hanya tertuju pada satu sosok.

Tapi kenapa kasusnya dan Jihoon berbeda?

Dimana debar tak terkendali?

Dimana senyum lebar dan tawa malu?

Dimana tatapan memuja yang tertuju pada satu sosok?

Kenapa Seunghee tidak merasakan itu semua?

…Mungkinkah karena cinta ini bertepuk sebelah tangan?

*

Hari Rabu hanyalah satu hari yang sekadar copy-and-paste dari hari Selasa. Sekolah, istirahat dan makan siang, sekolah lagi, lalu pulang. Itu definisi Rabu bagi Seunghee.

Hanya saja, ada yang berbeda dari Rabu kali ini.

Sejak semalam, gelombang panas—heat wave—melanda kota. Hingga pagi, gelombang itu belum hilang. Saat Seunghee mencoba mengeluarkan tangannya dari jendela, rasa terbakar menyapa kulitnya. Tak lama, di TV tersiar kabar bahwa pemerintah telah menghimbau warganya untuk tidak keluar rumah. Itu sama artinya dengan tidak ada sekolah/kuliah/kantor hari ini.

Jadi, Seunghee menghabiskan nyaris tiga jam di siang hari untuk duduk di depan kipas angin. Sesekali ia matikan, tapi belum lima menit, ia nyalakan lagi karena tidak tahan.

Kapan heat wave-nya akan berakhir… batin Seunghee sambil mengipas-ngipas wajahnya.

Seunghee mengambil ponselnya—yang kali ini ia letakkan di tempat tersembunyi agar Seunghan tak dapat mengulangi kejahilannya—sambil membuka akun SNS-nya. Tidak banyak hal baru, selain reminder dari grup kelasnya untuk mengerjakan PR Sosiologi yang akan dikumpul besok.

Hingga, detik itu tiba. Detik dimana seluruh tenaga Seunghee yang sudah lemas karena kegerahan, kembali entah dari mana dan membuat gadis itu berseru lantang.

MANSAEEEEE!!!” seru Seunghee sambil melompat-lompat ke seluruh penjuru kamarnya.

Karena, bagaimana tidak, ada nama “Lee Jihoon” terpampang di bar notification-nya. Ini adalah pertama kalinya Seunghee untuk menerima chat dari lelaki itu.

Seunghee menenangkan dirinya, mengambil napas dalam, lalu pelan-pelan membuka aplikasi chat-nya. Benar saja, nama Lee Jihoon terpampang paling atas. Ada angka satu di samping kanan kolom namanya.

Tapi, setelah gadis itu membukanya, ia menemukan sebuah pesan yang sangat tak ingin diterimanya saat ini.

Tak berpikir panjang, ia lempar ponselnya ke kasur. Masa bodoh kalau ponselnya membentur kepala kasur atau malah jatuh ke lantai.

Jihoon, kau bocah musim dingin sialan, dasar pendek!

Seunghee melakukan itu bukan tanpa alasan. Karena, bukannya ucapan “Hai, Seunghee!” atau “Seunghee, apa kau sibuk?” yang ia terima, melainkan broadcast ajakan untuk menyaingi skor tertingginya dalam permainan keluaran aplikasi chat tersebut.

Memikirkan hal itu sekali lagi membuat Seunghee merengek kesal, lalu berguling-guling di lantai.

EOMMAAAA!!!” jeritnya sambil menghentak-hentakkan kakinya.

*

Heat wave mereda begitu sore datang, dan saat pagi menjelang, udara dingin menyapa. Bukan tipe udara yang akan membuatmu menggigil seperti saat musim dingin, memang. Tapi tetap disebut dingin karena udaranya kontras jika dibandingkan dengan kemarin. Tentu saja, perubahan cuaca yang drastis seperti ini akan membuat daya tahan tubuh seseorang menurun.

Seperti yang dialami Jihoon.

Pagi ini, Seunghee melihat bocah menyebalkan itu menggunakan sweater kebesaran pagi ini. Sepertinya, sweater itu tidak bisa menjaganya tetap hangat karena Jihoon terus saja bersin.

Kasihan sekali, mungkinkah ini karena kukutuk dia seharian kemarin? batin Seunghee sambil meringis.

Seunghee tak dapat memungkiri betapa imutnya Jihoon saat ini. Bayangkan—badan semungil itu memakai sweater dengan panjang nyaris mencapai lutut, dan tangannya tenggelam di pakaian itu.

Oke, berhenti membayangkannya, Seunghee. Kau bisa saja menjerit gemas jika kau teruskan.

Bersin Jihoon tak juga mereda, bahkan meski sepuluh menit sudah berlalu. Tak dapat menahan rasa kasihan, Seunghee akhirnya mengeluarkan sebungkus hot pack dari ranselnya dan meletakkannya di atas meja Jihoon.

“Selamat pagi, Teman Ekskul Paduan Suara,” sapa Seunghee.

“Ini apa, Seunghee?”

Hot pack, apa lagi memangnya?”

“Aku tahu. Maksudku, kenapa kau berikan ini padaku? Memangnya kau tidak butuh?”

“Aku lebih suka udara dingin seperti saat ini daripada harus kepanasan seperti kemarin. Aku bisa meminjamkanmu jaketku jika kau mau.”

“Tidak, tidak perlu,” ujar Jihoon saat melihat warna jaket yang dikenakan Seunghee. Warna itu terlalu kuning untuk seleranya.

“Ya sudah,” balas Seunghee. “Omong-omong, ini tidak gratis.”

Jihoon mengernyit sambil menjauhkan hot pack tersebut darinya. “Kalau begitu, aku lebih baik seperti ini.”

“Daripada harus membayar?” tanya Seunghee penuh nada sarkasme sembari menempelkan hot pack di pipi Jihoon, menggoda lelaki itu. “Kau yakin?”

“Baiklah.” Jihoon mengambil alih hot pack itu dari tangan Seunghee, membuat gadis itu tersenyum penuh kemenangan. “Kau ingin apa?”

“Tidak muluk-muluk. Aku hanya ingin lihat jawaban PR Sosiologi-mu.”

Lelaki itu menatap Seunghee seolah gadis itu baru saja memberitahunya bahwa gajah bisa terbang. “Kau murid kesayangan Guru Park, aneh jika kau belum menyelesaikan PR Sosiologi.”

Well, mengusir rasa gerahku seharian kemarin lebih penting daripada PR Sosiologi.”

“Bilang saja kau malas,” gumam Jihoon.

Tapi Seunghee tahu ia lebih baik mengabaikan itu. “Jadi, hot pack-ku ditukar dengan dua puluh jawaban PR-mu, setuju?”

Jihoon berbalik untuk mengambil buku tulisnya di tas, lalu disodorkannya pada Seunghee. “Setuju. Terima kasih, omong-omong.”

“Bukan masalah.”

Begitu Seunghee duduk di kursinya—yang untungnya berada di belakang Jihoon—ia berulang kali menghela napas lega sambil mengelus dada.

Kau sungguh jenius, Seunghee. Belajar dari mana kau, hingga dapat berbohong selihai itu? sindir gadis itu pada dirinya sendiri.

Karena, seperti yang tadi Jihoon katakan, Seunghee adalah murid kesayangan Guru Park. Itu sudah cukup menjadi bukti bahwa tidak mungkin gadis itu tidak mengerjakan tugas dari beliau, kecuali jika gajah memang benar-benar bisa terbang.

Oh dan, mengusir rasa gerah? Hah.

Daripada ketahuan, Seunghee memilih untuk meneruskan sandiwaranya. Ia mengambil buku khusus kumpulan puisinya sembari membuka buku tulis milik Jihoon, agar gadis itu terlihat seolah sedang menyalin.

Melihat kata crime di buku Jihoon membuat gadis itu terpikirkan akan satu perumpamaan.

Jika apa yang kulakukan untuk menarik perhatianmu, Winter Child, diibaratkan sebagai kejahatan, maka hal itu termasuk dalam kategori corporate crime, karena nyaris seluruh “kejahatan” yang kulakukan semuanya terencana dan tersusun rapi.

Tapi jangan kau pikir kau tidak melakukan apapun, Winter Child. Kau sendiri, telah melakukan blue collar crime. Bukan, bukan berarti kau termasuk orang yang tidak punya kekuasaan atau kepandaian. Tapi karena “kejahatan” yang kau lakukan tergolong sederhana. Kau mencuri hati dan pikiran seseorang agar isinya selalu tentang kau, kau, dan kau.

*

Libur semester genap akan dimulai besok, dan Seunghee siap menghadapinya. Ia sudah menyetok drama-drama terbaru di laptop-nya, lalu mengisi lemarinya dengan banyak camilan, dan juga telah menyusun jadwal khusus untuk jalan-jalan, entah hanya sendiri atau dengan kawan-kawan lamanya.

Seunghee bisa sebutkan ribuan persiapan lainnya, tapi itu tidak penting saat ini.

Yang terpenting saat ini adalah; kapan ia bisa pulang?

Gadis itu bertanya-tanya kenapa undangan pernikahan bisa terjadi semendadak yang dialami Hyojung. Setahu Seunghee, undangan pernikahan disebar beberapa minggu sebelum hari H, jadi kenapa Hyojung tidak memberitahu Seunghee lebih dulu jika hari ini ia tak bisa datang ke sekolah? Kenapa wanita itu tiba-tiba mengirim pesan dan meminta gadis itu menggantikan posisinya untuk melatih? Kenapa ia harus memberitahunya di saat Seunghee sudah siap lahir-batin untuk “berlibur”?

Disinilah ia, menunggu adik kelas peserta ekskul padusa untuk berkumpul di aula.

“Seunghee-unnie,” panggil Yoobin, salah satu anggota padusa.

Gadis itu mengalihkan tatapannya dari ponsel. “Ya, ada apa?”

“Kami sudah siap,” lapornya.

“Oh, semua sudah hadir?” Seunghee mengedarkan pandangan ke penjuru aula.

“Emm, dua orang dari angkatan kami tidak bisa ikut latihan karena urusan pribadi,” lanjutnya.

“Kalau begitu, ayo mulai sekarang.”

“Tanpa musik?”

Seunghee mengernyit sejenak, lalu ia menepuk dahinya karena baru ingat. “Ah, aku seharusnya datang bersama Jihoon. Yoobin, apa di angkatanmu tidak ada yang bisa memainkan piano?”

“Aku hanya bisa memainkan nada do-re-mi, unnie.”

Tak lama kemudian, pintu aula terbuka dan sosok Jihoon berjalan masuk.

“Di kelas, kau tidak bilang padaku kalau kita ada latihan, Seunghee?” ujar Jihoon tanpa menatap lawan bicaranya. Ia menaruh tasnya di dekat tas Seunghee, lalu menempatkan diri di kursi pianis.

“Maaf. Lalu kau… tahu dari mana?” tanya Seunghee, gugup sekaligus bingung.

“Hyojung-noona menyuruhku ke sini beberapa saat lalu, untung saja aku masih di sekolah,” balasnya sambil memainkan melodi entah apa itu di piano, lalu ia menoleh pada Seunghee. “Kau tidak meminta Myungeun ke sini?”

“Kakaknya sakit, jadi ia harus pulang cepat,” balas gadis itu. “Semua sudah hadir. Jadi, kita mulai sekarang?”

*

Setelah dua jam, Seunghee akhirnya membubarkan latihan hari itu, dengan pesan bahwa seluruh anggota padusa harus banyak minum air putih dan tidak makan makanan berminyak, setidaknya sampai lomba padusa selesai. Satu lagi, mereka diminta untuk datang ke latihan minggu depan.

“Akhirnya aku bisa pulang,” gumam Seunghee begitu aula kosong. “Terima kasih sudah datang, Jihoon. Aku hampir saja meminta Yoobin memainkan nada do-re-mi.”

“Tak masalah. Setidaknya latihan yang kali ini benar-benar terjadi.”

“Maksudmu?”

“Kau ingat sewaktu kita datang ke sekolah tapi ternyata tidak ada latihan?” tanya Jihoon sambil terkekeh.

“Ah, hari itu. Ya, aku ingat.”

Tapi aku mengingat hari itu sebagai hari dimana aku jatuh cinta padamu.

“Tunggu, kau pulang sendiri?” tanyanya.

“Sebentar,” ujar Seunghee sambil menahan tawanya. “Apa kau sedang mereka ulang kejadian hari itu? Kenapa pertanyaannya mirip?”

Jihoon ikut tertawa. “Kurang lebih.”

“Baiklah,” balas gadis itu sambil berdeham. “Ya, aku pulang sendiri. Kau?”

“Aku juga. Ayo pulang bersama.”

“Eh, memang rumah kita searah?” Seunghee menutup mulutnya, berusaha sebisa mungkin mencegah agar tawanya tidak pecah.

“Kalau aku tidak salah ingat, kau naik bis nomor 47?”

“Benar, kau juga?”

Jihoon mengangguk, lalu mengaitkan tasnya. “Ayo.”

Begitu keduanya berada di luar gedung sekolah, gadis itu tak mampu lagi menahan tawa.

“Kau tahu apa, ini menggelikan.”

“Aku juga berpikir begitu,” balasnya sambil terkekeh. “Sudahlah, lupakan saja. Anggap saja ‘reka ulang’ tadi tidak pernah terjadi.”

“Tapi kita tetap pulang bersama, ‘kan?” tanya Seunghee, diam-diam berharap cemas.

“Tentu. Ini sudah hampir gelap dan aku tidak mungkin membiarkanmu naik bis sendirian.”

“Wah, terima kasih, Jihoon,” balas Seunghee sambil tersenyum lebar.

Seunghee, ingat. Ini hanya perhatian terhadap teman satu ekskul dan satu kelas. Ia bukan pacarmu, jadi hapus pikiran untuk memeluknya!

Di bis, keduanya duduk bersisian persis seperti hari itu, bahkan posisi mereka sama persis; Seunghee di samping jendela, sementara Jihoon di sisi luar. Bedanya hanya pada pemandangan di luar bis. Hari itu, keduanya pulang bersama pukul sepuluh pagi, jadi tak ada lampu-lampu jalanan yang menghiasi seperti saat ini, pukul enam sore.

“Aku tidak bermaksud untuk mereka ulang peristiwa hari itu, tapi aku benar-benar penasaran,” ungkap Seunghee. “Apa kau sungguh-sungguh memasukkan racun Pembuat Botak dalam Lima Menit ke ramen Soonyoung?”

Jihoon menatap gadis itu dengan tatapan yang sama ketika Seunghee meminjam PR-nya; hanya saja perumpamaan kali ini mungkin bukan tentang gajah terbang, tapi kelinci berkaki tiga?

“Tentu saja tidak,” balas Jihoon. “Kau pikir aku serius melakukannya?”

Seunghee membelalak, ia harusnya tahu kalau Jihoon bukan orang yang suka bercanda.

“Ah, maaf Jihoon. Aku—“

“Aku memasukkan sesuatu yang lebih baik,” lanjutnya. “Racun Pembuat Botak,” ujarnya sambil mengacungkan jari, “dalam Tiga Menit.”

Seunghee menutup mulutnya dengan takjub, setelah sebelumnya menghela napas singkat, lega karena ternyata ia tidak menyinggung perasaan Jihoon. “Kau luar biasa, Jihoon.”

“Memang,” jawabnya sambil tersenyum bangga.

Selama di perjalanan, keduanya bertukar obrolan. Seperti yang bisa Seunghee tebak, topiknya hanya seputar padusa dan sekolah. Begitu halte tujuan gadis itu sudah di depan mata, Seunghee bangkit dari kursinya, melambaikan tangan ke arah Jihoon, lalu turun dari bis.

Setelah bis tadi hilang dari pandangannya, Seunghee tersenyum tipis pada dirinya sendiri. Meski momen tadi hanya sebentar, ia sudah senang. Hari ini, sama seperti hari-hari sebelumnya, Jihoon tidak tahu bagaimana perasaan gadis itu terhadapnya.

Suatu hari, Jihoon akan tahu.

Tapi itu masih nanti.

***

>night’s blabber<

Aku ngulang-ngulang lagu ‘Stupid in Love’ terus, Miracles >< Asli, lagunya enak banget~

Awalnya sih, aku menikmati lagu ini murni hanya sebatas musiknya, lalu salah satu part-nya Seunghee nempel di otakku. Part itu berbunyi:

“너의 미소를 난 사랑하게 됐지
I fell in love with your smile
그 후로 너의 모든 모습이 다 좋았어
After that, I liked everything about you”

Parah, ini sweet banget! ><

Menurutku, bagian ini yang paling menginspirasiku ff ini. Karena… duh gimana ya menjelaskannya. Aku jarang nemuin lirik lagu yang kayak gini, dan dari sini aku tau bahwa cinta sang penyanyi pada pujaan hatinya tuh tulus. Sebelum baca liriknya, kukira ini lagu tentang confession, ternyata ini lagu tentang one-sided love 😦

Komenmu sama dengan semangat bagiku, Miracles~ Terima kasih sudah mampir ^.^

Author: yournightskies

ubah niat baik menjadi aksi baik.

2 thoughts on “[Oneshot] Never Before

  1. Baru nemu ffnyaaa:3
    Gemas sekali iniiiiii uh Jihoon jugaaaa lucunyaaaa… Seunghee jugaaa!!! Kalo memungkinkan… Coba buat yang rada panjang….. Penasaran kalo keduanya disatukaaan hahaha

    Like

    • halo alynn, maaf aku baru balas >< doakan semoga aku bisa buat sequel yaa… meski nantinya bakal jadi freelance karena aku baru aja resign 😦

      terimakasih sudah tinggalkan jejak :3

      Like

Miracle, leave a comment pls^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: