OH MY GIRL Fanfiction Indonesia

Since: 16/02/24

[Ficlet-mix] Delight 2/4

1 Comment

a ficlet mix presented by Yukiharu_nff & Nightskies

[OMG’s] Jiho & Mimi // fantasy, fluff, hurt-comfort // Teen // just own the plot

.

.

 di satu sisi angin dapat mendekatkan, di sisi lain angin pun dapat menjauhkan.
.

[3]

 

“Terima kasih, karena telah menemuiku kembali.”Lelaki di hadapannya tersenyum lebar.“Kukira kau sudah melupakanku.”

Jiho hanya tersenyum sinis.“Kau tahu aku tak akan melepasmu semudah itu, bukan?”

“Aku tahu betul, terlebih setelah apa yang kulakukan pada teman-teman kita.”

“Ralat,” ujar Jiho.“Bukan hanya pada teman-teman kita, tapi seisi gedung pertemuan.Kau juga membunuh orang-orang tidak bersalah.”

Lelaki itu hanya tertawa kering. “Ah, dari dulu sampai sekarang kau masih sama, rupanya.” Ia lalu bersandar sambil menatap gadis itu lekat-lekat. “Masih seperti malaikat.Sayangnya, kau berdiri di pihak yang salah.”

Mendengar itu membuat Jiho bangkit sambil menghentak meja, membuat bangkunya terjatuh karena ia berdiri terlalu cepat. “Dasar psikopat!”

“Kau pikir aku membunuh mereka tanpa alasan?” tanya lelaki itu balik, kini menatap Jiho tajam. “Mereka telah membuat ibuku menderita bertahun-tahun lalu, akibat sikap mereka yang sok berkuasa.Aku hanya ingin membuktikan pada dunia bahwa mereka bukan apa-apa saat sudah mati.”

“Tapi tidak seperti itu caranya!” seru gadis itu, sekali lagi tangannya memukul meja. “Kau—“

CUUUT!” seru seseorang dari  luar ruangan. Tak lama kemudian, pintu ruangan tempat Jiho dan Eunwoo kini berada didobrak dan muncullah pria bertubuh gempal dengan gulungan kertas di tangan kanan.

“Apa ada yang salah, Sutradara Kang?” tanya Jiho, bingung.

“Itu!” serunya sambil menunjuk ke sudut ruangan.Ada cicak merayap selurus dengan arah kertas yang diacungkan Sang Sutradara.“Ini drama crime dan sejak kapan cicak berperan di dalamnya?!”

“Apa cicak itu masuk dalam gambar, Sutradara Kang?”Kali ini Eunwoo yang bertanya.

“Tidak,” ujarnya.“Tapi!” sambungnya sambil menghentakkan kepalan tangannya ke meja.“Bunyinya terdengar jelas seperti sedang berbisik di telingaku!”

Break!” seru Asisten Sutradara Kim, ikut masuk ke ruangan, berusaha mengambil alih situasi. “Sutradara Kang, kurasa ada beberapa adegan dalam naskah yang perlu kita bicarakan. Sementara itu, apa ada yang melihat Seo Youngwook?”

“Saya disini!” seru seorang pria yang muncul di balik pintu.

“Kau urusi properti, dan harus serapi mungkin. Kita sudah dikejar deadline, dua minggu lagi episode pertama akan ditayangkan perdana. Jangan sampai ada kesalahan kecil,” ujarnya.“Sementara itu, Cha Eunwoo-ssi, Kim Jiho-ssi?”

Kedua artis itu menoleh bersamaan.

“Kalian bisa kembali ke van untuk, kira-kira, setengah jam. Kurasa akan ada beberapa perubahan pada babak dimana Eunwoo-ssi meneror acara reuni. Hapalkan saja percakapan kalian di ruangan ini sampai selesai.”

“Baik,” koor keduanya sambil membungkuk.

Setelah seluruh kru keluar dari ruangan, barulah Eunwoo dan Jiho berjalan keluar. Keduanya tidak bertukar obrolan, namun keheningan di antara mereka sama sekali tak membuat canggung. Setelah mereka berada di luar gedung, barulah Eunwoo angkat bicara.

“Kau ingin kembali ke van-mu?” tanyanya.

“Kurasa tidak,” balasnya.“Kalau aku duduk di van, aku pasti ketiduran.Bagaimana kalau kita ke taman di ujung jalan?”

“Boleh, tapi sebelumnya,” ujar Eunwoo sambil melepas jaketnya dan menyampirkannya di bahu Jiho.“Kau butuh itu.Angin malam tidak baik untuk tubuh, apalagi bajumu tanpa lengan.”

Jiho menatap jaket yang tersampir di bahunya, lalu tersenyum.“Terima kasih, aku memang butuh.Aneh sekali, ini musim panas, tapi kenapa berangin?”

“Angin bertiup sesuka hati, Jiho.Kau tak akan pernah tahu.”

Keduanya berjalan meninggalkan area gedung, dengan santai menuju taman di ujung jalan. Keduanya sempat syuting disini beberapa kali, mengingat pekerjaan Jiho dalam proyek drama tersebut adalah sebagai guru TK. Hanya berjalan lima menit, keduanya sampai. Jiho berlari kecil menuju ayunan, lalu duduk di atasnya dan mengayunkannya dengan kaki.

“Pernahkan kau sesekali penasaran kenapa bukan Asisten Sutradara Kim saja yang menjadi sutradara drama ini?” tanya Eunwoo.

“Hush, jangan bicara begitu,” ujar Jiho sambil mendelik pada lelaki itu.“Sutradara Kang mungkin tidak seprofesional Asisten Sutradara Kim, tapi ia perfeksionis.Kau lihat sendiri soal cicak tadi. Sutradara Kang tidak akan memprotes keberadaan hewan itu jika posisinya tidak dekat mikrofon. Bayangkan jika persoalan cicak itu diabaikan, drama kita nanti akan ditertawakan karena suara cicak.”

Eunwoo tertawa kecil.“Kau hebat, Jiho.Kau menemukan hal positif dibalik jutaan hal negatif.”

“Aku hanya mencoba untuk memosisikan diriku di posisi Sutradara Kang.”

Lelaki itu mengangguk.“Kau mau kembali ke lokasi syuting?Kita tidak tahu sudah berapa lama kita disini.”

Jiho tertawa kecil.“Kau mengatakan itu membuatku merasa seperti sedang lari dari dunia, tahu?”

Keduanya berjalan dalam diam, sampai tiba-tiba…

HATCHI!

Jiho menoleh, menemukan Eunwoo yang hidungnya memerah akibat bersin tadi.Melihat itu membuat Jiho tersenyum tipis, lalu melepas jaket di bahu dan menyampirkannya pada bahu Eunwoo.

“Eh, tapi—“

“Kau butuh itu,” potong Jiho sambil tertawa kecil.“Sebaiknya kita jangan berlama-lama di luar.Aku khawatir kau sakit.”

“Kau sendiri… apa tidak kedinginan?”

Gadis itu menggeleng.“Aku sudah merasa hangat hanya dengan percakapan singkat tadi, Eunwoo.Sudah lama aku tidak mengobrol seperti tadi.”

Eunwoo kemudian memakai kembali jaketnya, lalu ia terlintas satu ide agar ia dapat memastikan Jiho tidak kedinginan selama perjalanan mereka kembali ke lokasi syuting.

“Jiho, izinkan aku.”

“Hm?Untuk?”

Dengan cepat, lengan Eunwoo melingkar di bahu Jiho.

“Eh, kau sedang apa?” seru gadis itu sembari menatap Eunwoo bingung.

“Diam saja, aku tahu kau butuh ini.Aku akan merasa bersalah jika kau yang nantinya bersin-bersin.”

Jiho diam-diam tersipu.Ia tak pernah sedekat ini dengan pria, bahkan juga dalam dramanya, ia dan Eunwoo hanya berperan sebagai teman lama yang dipertemukan di ruang interogasi polisi karena lelaki itu meneror acara reuni SMA mereka.

“Ternyata kau sama sekali tidak seperti tokohmu di drama,” lirihnya.

Eunwoo tertawa.“Kau menyamakanku dengan tokoh yang kau teriaki psikopat, Jiho? Hah. Yang benar saja.”

Malam itu, untuk pertama kalinya Jiho berterima kasih pada angin yang berhembus, karena telah mendekatkan dirinya dengan Eunwoo, lelaki yang diam-diam ia kagumi sejak pertama kali melihatnya di hari pertama syuting.

Meski tidak mungkin, ia berharap momen ini akan berlangsung selamanya.

[4]

— “Kau, semakin dekat dengan takdirmu.” –

.

.

Meskipun tidak mungkin, ia berharap momen ini akan berlangsung selamanya. Ya, harapan mustahil itu selalu diucapkan Mimi diam-diam dalam sanubari tiap kali ia bersana dengan sahabatnya—ia selalu menganggapnya begitu. Toh, tidak ada salahnya ‘kan berharap? Terlepas hal itu akan menjadi nyata atau tidak.

“Kenapa melamun?” suara seorang pria menarik kembali atensi sang gadis ke alam nyata. Sedikit terperanjat, Mimi lantas tersenyum sambil memegang tengkuk.”Hm?Tidak.Aku hanya sedang berpikir tentang suatu hal.” Jawaban Mimi sontak membuat sang sahabat menghentikan aktivitasnya—meneguk kopi hangat yang baru saja dipesan tadi.

Dengan alis bertautan lelaki di sampingnya lantas kembali mengutarakan sebuah tanya, “Boleh tahu … apa yang sedang kau pikirkan?”

Menggelengkan kepala gadis Kim itu lantas berujar, “Rahasia.” Kemudian ia melenggang pergi, meninggalkan teman istimewa dalam hidupnya (untuk yang kesekian kali.)

“Ck, dasar gadis itu!” Lagi-lagi jawaban Mimi membuat sang sahabat berdecak kesal. “Hei, tunggu aku!” lelaki itu mengucapkannya setengah berteriak sambil berlari ke arahnya.

__

“Jim, kenapa kau menarikku?” protes Mimi sambil berusaha melepaskan pegangan Jimin dari tangannya kala pemuda itu membawanya memasuki sebuah kios aksesoris di pinggir jalan. Meskipun sebenarnya ia tahu pasti jawabannya apa.

“Jangan pura-pura tidak tahu dengan kondisimu.”Jimin melayangkan sebuah tatapan tajam ke arahnya.”Di luar berangin, kau tahu itu ‘kan?”

“Memangnya kenapa?Biarkan saja, aku tidak peduli!”Mimi berhasil menghempaskan tangan Jimin dari lengannya setelah sukses mengeluarkan kalimat dusta.Membuat Jimin memutar manik serta menghela napas kasar.

“Aku peduli!Kau tahu?”

Hening menyelimuti mereka berdua. Mimi tahu angin akan memberikan efek yang luar biasa akan eksistensinya.

“Mimi, kumohon dengarkan aku.” Lelaki Park itu memegangi kedua bahu gadis dihadapannya lembut, serta menatap sang gadis lekat. “Aku tidak ingin kehilanganmu.”

Mimi ingin berteriak, ia ingin berlari dan menghambur ke dalam pelukan Jimin sekarang. Dia juga tidak ingin menghilang. Namun ia juga tidak bisa menentang takdir Tuhan.

“Kau, semakin dekat dengan takdirmu.Tugasku selesai, biarkan angin membawaku, ya?” Sebuah senyum susah payah ia tunjukkan pada Jimin.

Sejatinya, siapa sih yang mau berpisah setelah sekian lama bersama?Jimin melepaskan tangannya dari bahu Mimi.Sahabat Jimin sejak kecil yang selalu menemani dan menghiburnya dalam kondisi apapun.Meskipun Mimi berbeda, tetapi lelaki itu tetap menyayanginya.

“Pergilah … jika memang itu yang harus kau lakukan.”Jimin mengucapkannya dengan berat hati.

“Terima kasih.”Mimi memberikan senyum terbaiknya sebelum berbalik pergi.

Ia melangkah keluar dengan mantap, mengizinkan angin pada musim gugur mengubah tubuhnya menjadi butiran-butiran halus keemasan. Lantas membawanya pergi ke tempat baru, menjadi pendamping bagi manusia selanjutnya.Menuntun mereka hingga menemukan cinta sejatinya. Iya, dia akan pergi ke sana; ke tempat berikutnya yang akan memberikan luka baru baginya.

To Be Continue…

Advertisements

Author: Yukiharu_nff

a random girl from 96 planet with O style

One thought on “[Ficlet-mix] Delight 2/4

  1. Reblogged this on winterinspring and commented:

    first kolab with NIght…

    Like

Miracle, leave a comment pls^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Advertisements
%d bloggers like this: