OH MY GIRL Fanfiction Indonesia

Since: 16/02/24

[EOMG] #8 Elegy: Night Sky

6 Comments

image

by nightskies

#8 Elegy: Night Sky

Oh My Girl‘s Arin [Yewon]

Side: Seventeen’s Dino [Chan], Romeo’s Kangmin, Red Velvet’s Yeri, Lovelyz’s Yein

Fluff, Friendship

Ficlet

General / G

Choi Yewon ingin menjadi bulan. Karena meski bulan tidak punya kawan, benda langit itu masih punya milyaran bintang di sisinya. Bulan tidak pernah sendirian. Tidak seperti dirinya.

disclaimer: only the poster and storyline are mine. even though the rest are not, plagiarism is still RESTRICTED.

[Note: Yes, I can’t ever get enough of small giant maknaes ;–; So no, I am not going to pair Arin with other male idol except Dino. I am not sorry about that;——;]

[#1 Elegy] – [#2 Elegy] – [#3 Elegy] – [#4 Elegy] – [#5 Elegy] – [#6 Elegy] – [#7 Elegy]

*

Yewon menatap langit malam dari jendela kamarnya.

Bagaimana kabar Chan sekarang? Sudah hampir delapan tahun aku tidak mendengar kabarnya. Apa ia sudah lupa padaku?

Bocah lelaki yang sewaktu kecil dulu mengajarinya memanjat pohon, kini telah hidup dalam kebahagiaan yang selalu diimpikannya sejak lama, yaitu memiliki orangtua, meski bukan orangtua kandung.

Sementara Yewon kini tinggal sendirian. Semua anak panti yang tinggal bersamanya sejak kecil sudah diadopsi. Dirinya yang terakhir.

Tetap saja, semua tak sama lagi semenjak Chan pergi.

Pagi itu, Yewon ingat pernah melihat sepasang suami-istri sedang duduk di bangku taman panti. Mereka tidak menghampiri satu pun teman-teman Yewon, keduanya hanya mengamati sambil sesekali menunjuk.

Yewon tak sengaja memergoki sang wanita menunjuk Chan, tapi ia cepat melupakan apa yang dilihatnya karena Yeri mengajaknya bermain masak-masakan. Tak lupa pamit pada Chan yang sedang asyik bermain gundu dengan Kangmin.

Siapa yang menyangka bahwa saat itu adalah terakhir kalinya ia bicara dengan Chan?

Keesokan paginya, Yewon menghampiri kamar Chan, dalam rangka menagih janji lelaki itu untuk memanjat pohon bersama, tapi di sana hanya ada Kangmin yang sedang meringkuk sambil berselimut hingga kepala. Yewon tidak menghampiri bocah itu, tapi ia bisa mendengar isak pelan Kangmin yang bahkan tidak menangis saat jatuh dari sepeda. Saat Yewon tanya pada Bunda, wanita pengurus panti yang sudah paruh baya itu dengan berat menjelaskan bahwa Chan telah diadopsi semalam, saat semua anak panti tertidur.

Mendengar itu, Yewon tidak menangis seperti Kangmin, atau merajuk seperti Yeri. Ia tidak berkata apapun, seolah kepergian Chan bukan hal berarti. Bahkan, Yewon berubah jadi dewasa. Maksudnya, setelah Chan pergi ia tak lagi merengek pada Yein untuk dibuatkan susu, tapi ia justru membuat sendiri, tak lupa membuat dua gelas lagi untuk Yeri dan Kangmin.

((Yewon seringkali lupa bahwa ia hanya perlu membuat tiga gelas, dan memukul dahinya saat ia tak sengaja membuat empat gelas. Akhirnya, supaya tidak dimarahi Yein, gelas keempat itu diam-diam ia sembunyikan ke bagian terdalam kulkas, dan ia habiskan saat semua penghuni panti tertidur. Gadis cilik itu selalu menghabiskan susu dingin tersebut sambil berlinang air mata, tapi pastikan hanya kau dan bintang-bintang di luar bingkai jendela Yewon yang tahu.

Beberapa bulan setelahnya, Yein mengernyit bingung saat menyadari tinggi Yewon yang berubah drastis. Namun, Yewon memilih untuk pura-pura tidak tahu.))

Akibatnya, ia jadi jarang bermain. Ia tidak pernah memenuhi ajakan Yeri untuk main masak-masakan atau bermain gundu dengan Kangmin. Bahkan sampai Yeri diadopsi dua tahun kemudian dan disusul Kangmin empat tahun setelahnya. Sesekali, Yeri kembali ke panti dan mengajaknya jalan-jalan, tapi Yewon menolak halus dengan alasan ia harus membantu Bunda. Ia juga tak memenuhi ajakan Kangmin untuk datang ke panggung debut-nya.

Ia juga tak pernah melihat Chan datang ke panti. Yeri dan Kangmin pun tak pernah menyebut-nyebut tentang Chan, mungkin mereka sudah lupa atau masih sakit hati karena Chan pergi tanpa ucapan perpisahan.

“Yewon, kau belum tidur?” tanya Yein, dari pintu.

“Oh, unnie,” ujar Yewon sambil berbalik, tersenyum tipis. “Belum, aku belum tidur.”

“Yewon, kau ‘kan besok dijemput,” balas gadis itu sambil duduk di sisi Yewon. “Kau harus cukup istirahat atau kau akan banyak menguap di depan ibu barumu.”

“Aku tidak bisa tidur,” balas Yewon. “Aku ingat masa kecilku dulu. Saat Chan, Kangmin, dan Yeri masih disini.”

“Kau ‘kan sering bertemu mereka. Bahkan begitu kau keluar, kalian bisa sering-sering bertemu.”

“Aku sering bertemu Yeri dan Kangmin, tapi aku tak pernah melihat Chan. Menurut unnie, sedang apa dia sekarang?”

“Hmm, mungkin saat ini ia sedang tidur karena besok ia akan bersekolah. Kalau menurutmu?”

“Menurutku, ia sedang termenung di jendela kamarnya, merindukan kami bertiga.”

“Kenapa kau berpikir begitu?”

“Karena dulu, ia juga pernah duduk termenung di jendela kamarnya, lalu ia berkata padaku bahwa ia ingin punya orangtua.”

Yein membelalak, lalu memukul pelan bahu Yewon. “Kau masuk kamar anak laki-laki?”

Yewon ikut membelalak, tak sadar ia sudah membongkar rahasia yang ia sembunyikan rapat-rapat dari Yein, takut dihukum membersihkan kamar mandi. “Hehe, tapi ‘kan, itu sudah lewat delapan tahun. Maaf, unnie,” ujar gadis itu sambil menyengir kuda.

“Untung Ibu sedang tidur,” balas Yein. “Ya sudah, sekarang kau harus tidur, Yewon. Kutinggal dulu.”

Unnie, aku ingin tanya,” ujar Yewon, menghentikan langkah Yein yang hampir mendekati pintu kamar.

“Hmm, ada apa?”

“Jika aku resmi keluar, apa yang akan terjadi pada panti?”

Yein terdiam sejenak. “Sebenarnya aku tak ingin memberitahu ini padamu, tapi karena kau sudah 18 tahun, dan kau juga tidak akan kembali ke panti, kurasa tak ada gunanya menyembunyikan ini darimu.”

“Apa maksudmu?”

“Panti akan digusur. Nantinya, akan dibangun taman kota.”

Yewon menutup mulut, terkejut. “Lalu bagaimana denganmu dan Bunda?”

“Kami rencananya akan membangun kios makanan di rumah, uangnya dari kompensasi penggusuran panti.”

Yewon tertunduk, ia mengigit bibir sebagai usaha untuk menahan tangis. “Tapi, ini rumah kita semua, unnie,” lirihnya.

“Tidak lagi,” jawab Yein datar. “Kau tak perlu khawatir. Aku dan Ibu akan baik-baik saja. Oh iya, beritahu Kangmin dan Yeri soal ini begitu kalian bertemu nanti, paham?”

Yein tidak menunggu jawaban Yewon, ia langsung keluar dari kamar Yewon dan tinggallah gadis itu dalam keheningan.

Hatinya terasa berat, jauh lebih berat dibandingkan saat melepas kedua temannya, bahkan lebih berat dibanding saat ia mengetahui kepergian Chan dari Bunda. Ia akan kehilangan rumahnya.

Semoga, di luar sana, aku bisa bertemu Chan. Walau hanya sekali, batin Yewon sambil merebahkan tubuhnya. Aku tak ingin kehilangan Chan seperti kehilangan panti ini.

*

“Dibandingkan aku dan Kangmin, kau lebih dewasa,” ucap Yeri, merajuk. Mengingatkan Yewon bahwa gadis ini juga pernah melakukannya saat mengetahui Chan diadopsi lebih dulu.

“Benar,” timpal Kangmin yang tidak memakai jaket bertudung kebesaran, kacamata hitam, dan masker seperti biasa karena ketiganya bertemu di halaman belakang rumah baru Yeri, dimana tak akan ada wartawan usil yang bisa mengambil foto Kangmin seenaknya. “Kau tidak menangis sepertiku dan Yeri saat Chan pergi, kau selalu membantu Yein-noona dan Bunda, kau bahkan tidak sedih saat menerima berita bahwa panti akan digusur. Bagaimana bisa?”

“Kurasa aku mulai bersikap seperti ini semenjak Chan pergi,” ucap Yewon. “Kupikir jika aku bersedih justru akan membuatku semakin menderita, jadi aku berusaha tegar.”

“Omong-omong soal Chan,” ujar Yeri sambil tersenyum penuh arti. “Aku bertemu dengannya di salah satu restoran langganan Ayah dan kami bertukar nomor telepon.”

Yewon dan Kangmin membelalak sambil berseru.

“Kau serius, Yeri?” tanya Kangmin, antusias.

“Bagaimana keadaannya sekarang?” timpal Yewon.

“Ia sekarang tinggi sekali, padahal aku ingat dulu Yewon-lah yang paling tinggi di antara kita,” ujar Yeri. “Matanya masih sipit, rambutnya tidak seberantakan dulu, dan ia juga jago masak karena ia ternyata diadopsi oleh pemilik restoran itu.”

“Bisakah kau ajak kami bertemu dengannya?” tanya Yewon.

“Tentu saja bisa,” ujar Yeri sambil menoleh ke dalam rumahnya. “Bahkan, kalian tak perlu menunggu. Ia sudah disini.”

Yewon dan Kangmin menoleh, menemukan sosok Chan yang berdiri di depan pintu halaman belakang, membuat Kangmin langsung melompat dari tempat duduknya dan Yewon yang membelalak kaget. Gadis itu menatap Yeri seolah berkata itu benar-benar Chan? dan Yeri mengangguk, membuat keduanya menyusul Kangmin yang kini tengah memeluk Chan erat-erat. Setelah Chan berhasil memaksa Kangmin untuk melepasnya, Yeri mendekati Chan dan memeluk lelaki itu, masih merasakan rindu meski keduanya pernah bertemu walau sebentar.

Yewon nyaris saja mengangkat lengannya untuk memeluk Chan, saat lelaki itu bertanya pada Yeri yang baru saja dilepasnya.

“Kau tidak mengajakku duduk?” tanya Chan dengan nada datar.

“Lihat. Lihat Chan kita yang dulu hanya bisa memanjat pohon,” ucap Yeri sambil menggeleng-gelengkan kepala, lalu tertawa kecil. “Sikapnya sekarang menyebalkan sekali,” lanjutnya yang kemudian disusul tawa Kangmin.

Yewon menghela napas, menganggap acara berpelukan-antar-teman-lama tadi tak pernah terjadi. Ia justru menawarkan diri untuk membuat camilan. Meski sempat ditolak Yeri, tapi Yewon berdalih ia punya resep yang ia pelajari dari Yein, dan ia sangat ingin membuatnya sebagai perayaan berkumpulnya empat sekawan yang lama terpisah.

Setelah Yewon sampai di dapur, gadis itu berusaha mengontrol rasa sedihnya karena ia merasa Chan seperti menjauhinya. Ia tidak menerima pelukan persahabatan seperti yang diterima Kangmin dan Yeri barusan.

Gadis itu kemudian menggeleng, berusaha menghapus pemikiran buruknya. Kenapa ia harus mempermasalahkan itu? Bukankah yang penting sekarang ia bisa melihat Chan lagi? Yewon sekali lagi menggelengkan kepalanya, lalu kembali fokus membuat camilan yang telah ia janjikan pada ketiga temannya.

“Kuharap kalian masih ingat kue buatan Yein-noona dan Bunda,” ucap Yewon sambil membawa nampan berisikan kue favorit mereka saat di panti dulu.

“Wah!” seru Kangmin dan Yeri, lalu mengambil masing-masing sekeping.

“Persis!” seru Yeri sambil mengacungkan jempol, membuat Yewon terkekeh senang.

“Ini benar-benar mengingatkanku pada panti,” timpal Kangmin. “Aku jadi rindu Yein-noona dan Bunda. Dimana mereka sekarang?”

“Yein-unnie bilang padaku bahwa ia dan Bunda sekarang membuka kios makanan di rumah mereka. Ayo kesana kapan-kapan!”

“Aku setuju!” seru Yeri.

Suara ponsel terdengar berdering, dan asalnya dari saku celana Chan. Suasana hening selama Chan bicara dengan seseorang entah siapa di sebrang telepon. Setelah ditutup, Chan menatap Kangmin dan Yeri bergantian. Namun, ia tak menatap Yewon sama sekali.

Dan Yewon menyadari itu. Hatinya merasakan perih tak beralasan, tapi ia tak mengatakannya dan memilih pura-pura tidak sadar. Ia harus bersikap dewasa, seperti yang pernah ia lakukan saat Chan pergi.

Tak lama kemudian, Yewon sadar Chan belum menyentuh kue buatannya sama sekali.

“Aku harus pamit,” ucap Chan. “Ayah akan bertemu klien dan aku harus menggantikannya.”

“Chaaan~” Yeri merajuk.  “Kita baru bertemu sebentar! Kau tidak rindu kami?”

“Maaf Yeri, tapi Ibu membutuhkanku.”

“Jangan halangi dia,” ujar Yewon. “Lagipula, kalian bisa bertemu lagi dengannya kapan-kapan.”

“’Kalian’? Lalu kau?”

Yewon merapatkan mulutnya, merutuki kebodohannya dalam hati. “Maksudku, kita. Kita bisa bertemu dengan Chan kapan-kapan.”

Gadis itu tak berani menatap lelaki yang kini lebih tinggi sekitar tiga sentimeter darinya. Ia merasa, entah kenapa, Chan tidak suka akan kehadirannya.

“Baiklah, kurasa aku juga akan pulang. Manajer-hyung mengharuskanku pulang sebelum gelap.”

“Dasar artis,” ucap Yeri sambil menyikut Kangmin.

“Oh, tunggu,” ujar Kangmin tiba-tiba. “Sebelum aku lupa lagi, aku ingin tahu. Kau sekarang tinggal dimana, Yewon?”

“Aku bisa memberitahumu lewat SMS, Kangmin,” ucap Yewon. “Lagipula, Yeri sudah tahu aku tinggal dimana sekarang. Ia bisa memberitahumu.”

“Tapi Chan ‘kan belum tahu.”

Kalimat polos itu membuat Yewon menegang. Ia dapat merasakan ketidaksukaan yang dirasakan Chan tanpa melihat ke arah lelaki itu. Tapi Yewon tak bisa menyembunyikan keresahannya akan perubahan sikap Chan yang drastis terhadapnya. Ia terus menggerak-gerakkan kakinya, tak nyaman.

“Kalian tahu Seoul Broadcasting School? Ibu angkatku pemilik toko buku di daerah sana, tak jauh sekolah itu.”

“Eh, bukankah itu sekolahmu, Chan?” tanya Kangmin.

“Ya, itu sekolahku.”

Nada suara Chan terdengar begitu dingin, dan yang ingin Yewon lakukan sekarang adalah masuk ke kamarnya dan menangis. Ia tidak suka perasaan diabaikan dan ditatap penuh benci seperti saat ini. Oleh orang yang paling ia rindukan sejak dulu, terutama.

“Kalau begitu, kita bisa menemui Yewon di toko buku itu setelah Chan pulang sekolah.”

“Ide bagus, Kangmin!” timpal Yeri. “Baiklah, kalian semua hati-hati di jalan!”

Yewon memaksakan senyum sambil mengaitkan tali ranselnya ke bahu. Tanpa menunggu Kangmin—yang sedang berusaha memasukkan seluruh kue buatan Yewon ke mulutnya, atau Yeri—yang sedang berusaha sekuat tenaga menjauhkan piring yang masih menyisakan beberapa keping kue dari jangkauan Kangmin—untuk melepas kepergiannya, Yewon langsung melesat pergi dari halaman rumah Yeri.

Juga tanpa menunggu Chan menatap, paling tidak sekali saja, ke arahnya.

*

“Arin,” panggil seorang wanita paruh baya dari balik meja kasir pada gadis yang sedang membaca-baca buku di rak. “Kebetulan toko sedang sepi, tolong sapu halaman teras dan bersihkan jendela depan.”

“Baik, Bu!”

Arin—atau Yewon, mengambil sapu dan lap kaca sesuai perintah ibu angkatnya. Sembari menyapu, ia sesekali menatap gedung menjulang di belakang gedung restoran yang bersebrangan dengan toko bukunya. Itu Seoul Broadcasting School, sekolah Chan. Semalam, Yeri memberitahu Yewon bahwa ternyata restoran di sebrang toko bukunya itu adalah restoran yang pemiliknya adalah orangtua angkat Chan. Usut punya usut, orangtua angkat Chan—Tuan dan Nyonya Lee, dan ibu angkat Yewon—Nyonya Choi ternyata teman dekat. Nyonya Lee-lah yang mengusulkan Nyonya Choi untuk mengadopsi Yewon di panti tempat beliau mengadopsi Chan dulu.

Mengetahui itu, Yewon berfirasat bahwa otak dari ‘usulan untuk mengadopsi anak dari panti asal Yewon’ adalah Chan, tapi gadis itu ingat bahwa firasatnya sedari dulu selalu salah, jadi ia mengabaikan pemikiran tadi dan meneruskan pekerjaannya.

“Permisi.”

“Oh!” ujar Yewon sambil buru-buru meletakkan sapu dan lap jendelanya di balik pintu masuk, lalu membungkuk pada siapapun yang muncul di hadapannya “Selamat datang di—“ dan ia tak bisa melanjutkan apa yang seharusnya ia ucapkan pada setiap pengunjung yang datang karena ia tak menyangka bahwa toko bukunya akan dikunjungi Chan.

Orang yang kemarin membuatnya ingin menangis karena sikap dinginnya.

“Arin?” tanya Chan sambil menunjuk nametag yang dipakai Yewon. “Apa aku salah orang?”

“Oh, kau tidak salah orang. Ini nama pemberian Ibu. Tak masalah jika kau memanggilku Yewon, atau Arin. Yang mana saja,” balas Yewon, sedikit canggung. “Silakan masuk, kau ingin cari buku apa?”

“Sebenarnya aku ingin mengajakmu ke restoranku,” ucap Chan sambil menunjuk ke sebrang jalan, ia pun tak kalah canggung dengan Yewon. “Tapi kulihat kau sedang sibuk.”

“Coba kutanya Ibu apakah aku boleh pergi denganmu sebentar. Tunggulah disini.”

Yewon masuk ke toko, menemukan ibunya yang tengah menatap gadis itu penuh arti sambil mengangguk. Seperti tahu apa yang akan Yewon ucapkan.

“Chan temanmu sewaktu di panti, bukan?” tanya Nyonya Choi, mengklarifikasi.

“Iy, kami berasal dari panti yang sama. Bu, apa aku boleh pergi?”

“Tentu saja kau boleh pergi, Arin,” ucap wanita itu sambil tersenyum tipis. “Tanpa usulnya, Ibu mungkin tak akan bertemu denganmu.”

Yewon membelalak—jadi firasatnya tadi benar? “Eh, bukankah Ibu bilang kalau itu usul dari Nyonya Lee?”

“Penggagasnya adalah Chan, tapi Ibu tidak tahu kalian saling kenal. Ibu pikir di panti itu ada banyak anak-anak lain, tapi rupanya kalian hanya berempat. Jadi Ibu tidak bilang.”

Yewon mengangguk. “Tapi kalau aku pergi, bagaimana dengan pekerjaanku?”

“Kau bisa selesaikan itu setelah kembali dari sana. Jadi, jangan pergi lama-lama.”

*

“Oh, jadi ini temanmu yang kau usulkan pada Nyonya Choi?” tanya Nyonya Lee sambil mengelus pipi Yewon. “Cantik sekali, siapa namamu?”

“Namaku Yewon, tapi Ibu memberiku nama Arin.”

“Baiklah, aku akan memanggilmu Arin. Kau ingin makan apa?”

Yewon terkesiap, lalu buru-buru menggeleng. “Tidak perlu repot-repot, Nyonya Lee. Aku datang hanya untuk… em, untuk apa kau mengajakku ke sini, Chan?” tanya Yewon pada Chan, ia takut salah bicara.

“Kami punya masalah kecil, jadi kami memutuskan untuk bersikap dewasa dan menyelesaikannya secepat mungkin,” ucap Chan.

“Ah, itu maksudku,” ucap Yewon sambil menyengir kuda.

“Duduklah, dan anggap saja sedang di rumah sendiri.”

Sepeninggal Nyonya Lee, Yewon kembali merasa canggung. Terlebih setelah ia sadari tidak ada orang di sekitar mereka. Mungkin restoran tutup lebih cepat karena ini akhir pekan?

“Apa kabarmu?” tanya Chan, memecah hening di antara mereka.

“Aku baik-baik saja. Kau sendiri?”

“Aku juga baik. Bagaimana kabar Yein-noona dan Bunda?”

“Setelah panti digusur, mereka kini membuka kios makanan sendiri.”

“Di rumah mereka?”

“Ya, dan aku sebenarnya ingin mengajak kalian bertiga kesana kapan-kapan. Aku yakin Bunda dan Yein-unnie akan senang melihatmu lagi.”

“Aku tidak yakin,” ujar Chan. “Aku sudah lama tidak ke panti, aku takut suasana akan canggung.”

“Kujamin, suasana akan menyenangkan. Jika kau merasa tidak nyaman, kau bisa bilang padaku dan aku akan buat alasan supaya kau bisa ‘kabur’.” Yewon berusaha meyakinkan.

Chan melirihkan kata ‘baiklah’, lalu suasana hening kembali. Dalam hati, Yewon mulai menyesali keputusannya untuk menyetujui ajakan Chan beberapa menit lalu, terlebih jika ia tahu bahwa suasananya akan secanggung sekarang.

“Sejujurnya, aku ingin tanya padamu.”

“Tanyakan saja.”

“Kudengar dari Yeri, kau tidak bersedih saat aku pergi.”

“Apa?” Yewon menegakkan tubuhnya. Kenapa Yeri membohongi Chan soal dirinya?

“Yeri bilang kau tidak menangis sama sekali. Kau juga tidak bertanya pada Bunda dan Yein-noona tentangku. Kau seperti tidak pernah menganggapku ada.”

“Chan, kau salah paham dengan perkataan Yeri,” ucap Yewon sambil menggeleng kuat-kuat. “Aku sedih kau pergi, sungguh. Tapi aku tidak menangis karena aku tahu aku harus bersikap dewasa. Kalau kau mau tahu, aku pernah menangis diam-diam saat semua orang tertidur. Biasanya, kita berdua akan menghabiskan malam dengan duduk di batang pohon, bertukar cerita apapun, bahkan hal-hal yang tidak nyata. Semenjak kau pergi, aku hanya duduk sendiri disana, merindukan teman lama yang mengajariku banyak hal yang tidak diajarkan Yein-unnie dan Bunda.”

Chan membelalak, tak menyangka Yewon akan mengatakan semua itu.

“Jangan bilang, karena kesalahpahamanmu itu, kau bersikap dingin padaku kemarin?”

Tanpa Yewon duga, Chan mengangguk.

“Kukira kau justru senang dengan kepergianku, jadi aku bersikap dingin. Aku ingin buktikan padamu aku tidak sedih karena harus pergi paling awal. Tapi ternyata aku salah paham.”

“Jadi, apa yang membuatmu mau datang ke toko buku dan bicara denganku?”

“Aku bertemu ibumu di pasar, bercerita bahwa anak angkatnya begitu baik dan pekerja keras. Saat kami pulang, aku tak sengaja melihatmu sedang merapikan toko buku. Ada bagian dari hatiku yang membantah fakta bahwa kau sungguh-sungguh tidak merasa sedih saat aku pergi, jadi aku memberi kesempatan pada diriku untuk mencari tahu. Maafkan sikapku kemarin, Yewon. Aku harusnya tidak berpikir pendek.”

“Kalau begitu,” ujar Yewon sambil melipat tangannya di dada, pura-pura kesal. “Kau harus ganti rugi karena sudah membuatku merasa terasing kemarin.”

Chan mengernyit heran. “Ganti rugi apa? Aku ‘kan tidak merusak apapun.”

“Kata siapa? Kau merusak pertemanan kita berdua hanya karena salah paham. Kau harus ganti rugi.”

Lelaki itu memutar bola matanya, namun ia akhirnya setuju. “Baiklah. Kau mau aku melakukan apa?”

“Ikut aku ke kios Bunda. Kalau sampai menolak, aku akan adukan pada kedua teman kita, Bunda, dan Yein-unnie, bahwa kau pernah mengompol!”

“Hei!” seru Chan sambil meletakkan telunjuknya di bibir. “Jangan keras-keras! Lagipula, itu ‘kan sudah sebelas tahun yang lalu. Wajar jika anak tujuh tahun mengompol, bukan?”

“Itu tidak normal, Chan! Aku dan Yeri berhenti mengompol sejak usia empat, sementara Kangmin sejak usia lima, hanya kau yang masih mengompol di usia tujuh. Aku tidak peduli, pokoknya kau harus datang, atau aku akan bocorkan rahasiamu.”

Yewon tertawa lepas, sementara Chan hanya bergumam kesal.

“Iya, iya! Aku akan datang. Awas kalau kau sampai bilang-bilang.”

Gadis itu mengangkat jempolnya, sambil tertawa kecil.

“Aku senang akhirnya bisa bertemu lagi denganmu,” ucap Chan setelah beberapa saat hening. “Kau banyak berubah.”

“Aku jauh lebih senang lagi,” balas Yewon. “Akhirnya aku bertemu dengan Induk Monyet, yang  sudah mengajariku cara memanjat pohon.”

“Kau masih akan meledekku, hah?” tanya Chan sambil cemberut.

“Maaf, Chan.” Yewon masih saja terkekeh. “Omong-omong, aku harus kembali. Ibu pasti sudah menungguku.”

“Biar kuantar,” tawar Chan.

“Tidak perlu. Kau berdiri saja di depan rumahmu, mengawasiku sampai aku masuk ke rumah.”

Sebelum keluar, Yewon bertanya dimana Nyonya Lee supaya ia bisa berpamitan, tapi Chan berkata tidak perlu karena hanya ada dua kemungkinan ibunya tidak terlihat; pertama, sedang asik menonton drama, dan kedua, sedang tidur.

“Kau yakin tak mau kuantar?” tanya Chan sekali lagi, saat keduanya berdiri di depan pintu masuk menuju restoran.

“Aku tidak akan terluka hanya dengan menyebrang, Chan.” Yewon tertawa kecil, lalu sebuah niat terlintas di kepalanya. “Omong-omong, izinkan aku.”

“Untuk?”

Yewon menggigit bibir dalamnya, menatap kesana kemari, bimbang. Haruskah aku melakukan ini…?

“Yewon?” tanya Chan, membangunkan gadis itu dari lamunan singkatnya.

Gadis itu tidak menjawab, ia justru maju selangkah dan merengkuh bahu Chan, lalu berkata, “Terima kasih telah memberiku Ibu, itu hadiah terindah yang pernah kau berikan padaku. Oh, dan ini untuk yang kemarin. Pelukan persahabatan Dua Monyet yang lama tidak bertemu.”

Yewon lalu melepas rengkuhannya, dan tersenyum tipis.

“Aku akan menemuimu lagi jika Yeri dan Kangmin setuju untuk ikut ke kios Bunda,” ujar Yewon. “Jadi, sampai jumpa lagi?”

Chan mengangguk. “Sampai jumpa.”

Yewon lalu berjalan meninggalkan restoran Chan dan begitu ia mengunci pintu toko sesuai permintaan ibunya tepat saat ia kembali, ia melihat Chan masih terus berdiri di sana. Tidak bergeming, bahkan saat Yewon balas menatapnya, penasaran.

Chan masih terus berdiri di sana, bahkan hingga Yewon mematikan lampu toko dan menyalakan lampu teras. Gadis itu menyadari Chan baru bergerak masuk ke restorannya saat lelaki itu tahu sosok Yewon sudah berada di lantai dua.

*

“Yein-noona! Bunda!” seru Kangmin sambil berlari kecil menuju kedua wanita di balik jendela kios.

“Kangmin?” ucap Bunda sambil menerima rengkuhan lelaki yang saat ini sering ia lihat di TV. “Ini benar-benar Kangmin yang dulu hanya bisa menyentil gundu?”

“Bunda~” rengek Kangmin. “Aku sekarang bisa menari dan bernyanyi sepandai artis-artis!” lanjutnya, membanggakan diri. Seperti diri lelaki itu delapan tahun lalu.

“Apa tidak ada kamera akan yang mengikutimu kesini, Kangmin?” tanya Yein, sedikit khawatir.

“Siapa yang mau memotret orang-orangan sawah seperti Kangmin?” ejek Yeri, yang kini berada di dekat Kangmin.

“Oh!” seru Bunda sambil merentangkan tangannya, memeluk Yeri. “Yeri sudah besar sekarang! Lihat, rambutmu ketumpahan apa sampai bisa kuning begini?”

“Bunda~” rengek Yeri, persis seperti Kangmin barusan. “Aku mengecatnya, supaya mirip artis di TV!”

“Mirip artis apanya? Mirip boneka Annabelle, kali!” seru Kangmin, membalas ejekan Yeri sebelumnya.

“Sudah, sudah,” ujar Yewon tiba-tiba, menengahi keduanya dan melangkah mendekati Bunda. “Aku rindu Bunda.”

“Bunda rindu kalian semua,” ujar wanita paruh baya itu, terharu. “Omong-omong, Chan tidak ikut, ya?”

“Siapa bilang?”

Suara ceria itu terdengar dari luar kios, tak lama kemudian pemiliknya menampakkan diri dan ikut masuk ke kios.

“Chan?” tanya Yein sambil menepuk-nepuk pipi lelaki itu. “Lihat dirimu! Kau sekarang mengalahkan tinggiku!”

Noona~” rengek Chan. “Aku dulu tidak sependek itu!”

Semua tergelak mendengar rengekan Chan.

“Apa kau sungguh Chan, satu dari Dua Monyet kesayangan Bunda?” ucap wanita paruh baya itu, setengah tidak percaya.

“Bunda, aku ini manusia,” ujar Chan, merajuk.

“Hmm, setahu Bunda, manusia tidak memanjat pohon dan berayun-ayun di dahannya. Monyet yang melakukannya. Kau bahkan mengajari Yewon, bagaimana mungkin Bunda tidak menyebutmu monyet, Chan?”

Yewon tertawa kecil. “Aku senang sekali kita semua bisa berkumpul lagi. Seolah kita semua masih di panti.”

Mendengar kata ‘panti’, ekspresi ceria semua orang mendadak meredup. Yewon menutup mulutnya.

“Aduh, aku salah bicara,” ujar Yewon. “Maaf, semuanya.”

“Tidak perlu bersedih,” ujar Yein kemudian. “Kalian berempat, duduklah dan aku akan membuatkan makanan paling enak sebagai perayaan atas berkumpulnya empat sekawan yang lama terpisah!”

Suasana ceria kembali, seiring keempat remaja itu menempati kursi di depan kios dan bercanda, seperti dulu.

Di antara canda tawa itu, Yewon menatap Chan yang sedang tersenyum tipis ke arahnya. Lalu bergantian menatap Yeri yang sedang tertawa. Kemudian berpindah pada Kangmin yang tersenyum lebar. Detik itu juga, Yewon sadar bahwa sebenarnya ia tak pernah ingin jadi bulan yang punya milyaran bintang di sisinya.

Ia ingin tetap menjadi Yewon ‘Arin’ Choi, yang punya tiga teman senasib, juga Yein beserta ibunya yang seperti malaikat bagi keempatnya.

Hanya dengan seperti ini, Yewon sudah sangat bersyukur.

*

>night’s blabber<

AKHIRNYA SERIES INI KELAR!><

Oh, kudengar ada yang tanya; kenapa cuma Arin yang ceritanya nggak sad-ending?

Ya, Arin lucu sih, aku ga tega ngebuat dia sedih. Lagian, sedih-sedihnya kan udah kebanyakan hehe~ Capek kali, bersedih terus [ngeles] [bajaj kali yak…]

Btw, soal headnote di atas… ya, yang keras kepala banget itu, aku mau buat pengakuan.

AKU GA BISA NGE-SHIP ARIN SAMA MALE-IDOL LAIN SELAIN DINO. Gatau kenapa, mereka lucu di mataku. 99liners, maknae, tingginya pas, dan sama-sama punya aku :3 [TOLONG JANGAN DITENDANG AKUNYA u,u]

Dengan Arin yang imut sepertiku [YAUDAH KALI INI DITENDANG GAPAPA DEH(?)] kuakhiri The Elegies of Oh My Girl! :3

Terima kasih udah bareng-bareng sama night dari Hyojung-unnie sampai Arin 😉

Lihat, kolom komentarnya siap ditulisi apapun, sesukamu ^^

Advertisements

Author: yournightskies

ubah niat baik menjadi aksi baik.

6 thoughts on “[EOMG] #8 Elegy: Night Sky

  1. Aku sebenernya baca elegy ini dari yang series mimi kalo ga salah, tapi cuma ninggalin like karna lg ditengah-tengah belajar huhuhu ((jangan ditiru))

    Yhaa series arin ini kukira bakal sad end, karna chan dingin banget tiba-tiba jadi aku mikir kalo chan sempet jatoh dari mana terus lupa ingatan dan yang ga bisa diingetnya cuma arin. Yhaa ternyata itu cuma terjadi di sinetron whahahahahah….

    Keseluruhan ceritanya bagus kook.. suka banget!!!! Selalu ada makna dibalik ficnya dan itu feelnya dapet bangetttt… apalagi yang mimi huhuhu….

    Ditunggu fic selanjutnya ya. Series kek gini kalo bisa hueheheheh…. keep writing!! ^-^

    Liked by 1 person

    • halo laila^^ waaah kamu yah>< tapi skrg udah 'bebas' kan yaa??

      itulah, tadinya emg pgn buat sad end tp kok di tengah2 mikir… ga tega buat bikin mereka marahan u,u apalagi ini ship favorit hehehe😀 btw, jatoh dari mana… sepertinya dd chan ini jatuh dari surga, di hadapanku… /ih garing ihhhh/

      wuuaaaa makasih banyak yaa laila^^ sip, aku usahakan utk nulis series2 semacam ini lagi nanti~ tunggu aja yaa😁

      Like

  2. Huwaaaaaaaaa
    Ini kece badai dah.. mulai dr cast smpe alurnya top :))
    Ga nyangka ceritanya semanis ini endingnya, apalagi ada Kangmin dan Yeri disini 😀
    Ga pernah nemu ff yg ada Kangminnya kya gni :*
    Arin sm Dino tuh emg couple paling unyuuu. Semangat terus ya thorr :*

    Like

    • hai kaze^^ waaa terima kasih!😆 seneng deh dengernya ehehe
      seharusnya ini sad end krn elegy artinya kisah sedih… tp aku buat pengecualian utk arin krn yaaah aku ga tega gitu u,u
      yes! akhirnya ada yg ngeship arin-dino!😆😆😆
      semangat selalu juga buat kaze~^^

      Like

  3. Aku baru komen di series ini, maafkan aku T.T kak….
    Dari semua series aku paling suka yang Seunghee ga tau kenapa, terus Jiho juga boleh. Yang ini juga, ngeship Dino-Arin…
    Segitu dulu aja dari aku kak, sudah ada yang menunggu di real life soalnya/ea

    Liked by 1 person

    • halo lagi nifa, haduh aku terharu bgt dia beneran nyari2 sampe sini😭😭 permohonan maaf diterima nif, dikit lagi lebaran kan /apa

      aku juga seneng sendiri pas buat serinya seunghee; karena aku udah ngubah pribadi dia yg ceria jd psiko gitu /ditendangin/
      AWYEAH aku seneng bgt bukan cuma aku sendiri yg ngeship dino-arin😆😆

      aduh kok aku baver ya, kamu ada yg nungguin di reallife sementara daku… ah lupakan T.T

      Like

Miracle, leave a comment pls^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Advertisements
%d bloggers like this: