OH MY GIRL Fanfiction Indonesia

Since: 16/02/24

[Ficlet] Bite

2 Comments

image

Starring:
Kim Jiho (Oh My Girl) and Kim Mingyu (Seventeen)

Ficlet | AU | Fantasy, slight! Fluff, Romance | PG-13

Semua cast dalam fanfiction ini hanya milik Tuhan, keluarga, agensi, dan fans. Jika ada kesamaan kejadian maupun alur cerita bukanlah sebuah unsur yang disengaja. Jadilah pembaca yang baik, tinggalkan jejak setelah membaca.

Happy reading~ ^^
.
.
.

Some are born to sweet delight
Some are born to endless night
-William Black-

.
.
.

Jam menunjukkan hampir tengah malam. Suasan panti asuhan sudah sepi ditinggal oleh penghuninya berlayar ke pulau mimpi. Tapi tunggu, masih ada yang terjaga. Bukan hanya sekedar terjaga menunggu kantuk segera datang, tapi benar- benar masih melakukan aktivitasnya.

Kim Jiho memandang pantulan dirinya di kaca dalam diam. Memakai gaun putih selutut, membuatnya semakin cantik bagai pengantin perempuan. Menyisir rambut panjangnya, helai demi helai. Merapikan gaunnya, dan memoles sedikit wajahnya dengan bedak. Apa yang mau dilakukan gadis ini ditengah malam?

5 menit menuju tengah malam, Jiho berjalan ke tempat tidurnya dalam diam supaya tak mengganggu  temannya yang sudah terlelap. Dua maniknya masih tertuju pada selembar kertas bertulisan miring yang indah.

“Kutunggu kau di tempat biasa tengah malam ini. Jangan lupa pakai ini juga (gaun).”

Deng! Deng! Deng!  Bunyi jam besar di ruang tengah menyadarkan Jiho bahwa waktu sudah menunjukkan tengah malam. Saatnya untuk pergi. Jiho pergi dari kamarnya menuju tangga yang ada dekat dapur sambil berhati-hati, siapa tahu ada yang masih terjaga selain dirinya malam ini. Meskipun sudah sangat hafal dengan kebiasaan seluruh penghuni panti, Jiho tetap melangkah dengan hati-hati supaya tak ada yang tahu bahwa dia pergi ke loteng.

Sesampainya di loteng, Jiho seperti mencari sosok seseorang dalam gelap. Dalam keadaan itu, Jiho tahu bahwa si penulis surat sudah menantinya, meskipun matanya tak bisa menemukannya.

“Aku disini Jiho-ya,” kata seorang dalam kegelapan. Tangan Jiho seperti menggapai sosok itu, namun tangannya belum bisa mencapainya.

“Mingyu-yah, jangan bercanda lagi! Ayo keluar,” pinta Jiho yang saat ini sudah beradaptasi dengan kegelapan di sekelilingnya. Tiba-tiba sebuah tangan meraih yangan Jiho dan menariknya dengan lembut.

Sosok yang bernama Mingyu itu lamat-lamat terlihat meskipun tak begitu jelas tampangnya. Mingyu menarik Jiho dalam dekapannya. Sebuah lilin menyala tanpa ada yang menyentuhnya. Sekarang lilin itulah yang menjadi mencahayaan mereka di loteng gelap itu. Mungkin bagi yang belum terbiasa, lilin yang menyala itu adalah perbuatan hantu penunggu loteng, tapi bagi Jiho itu seperti sihir yang dilakukan mahluk bernama Mingyu itu.

“Kau merindukanku, sayang?” tanya Mingyu mengakhiri keheningan mereka. Tak ada jawaban dari bibir gadis itu, hanya sebuah anggukan yang menjelaskan bahwa Jiho memang merindukan Mingyu.

“Dari mana saja kau? Apa kau makan dengan baik? Kau tak melakukan hal aneh kan?” Belum juga 5 menit mereka bertemu, tapi Jiho sudah membombardir Mingyu dengan banyak pertanyaan.

“Hahaha, seperti biasa sayang, kau terlalu mengkhawatirkanku. Seharusnya aku yang mengkhawatirkanmu. Banyak manusia yang mengganggumu, dan aku benci mereka,” jawaban Mingyu itu membuat Jiho tersenyum lalu menenggelamkan dirinya dalam pelukan Mingyu.

“Mereka kaumku, sayang. Jangan kotori tanganmu untuk membunuh mereka, kau paham?” Mingyu hanya diam dan Jiho mengartikannya sebagai kata ‘ya’ yang anggun.

“Maulah kau berdansa denganku malam ini?” tanya Mingyu yang menggerakkan kakinya ke kanan dan ke kiri. Tanpa Jiho harus menjawab dengan bibirnya, Mingyu seperti sudah tahu apa yang ada di pikiran gadis itu.

.
.
.

Deng! Deng! Suara jam di lantai bawah terdengar lagi, jarumnya menunjukkan pukul 2 pagi. Tak terasa Jiho dan Mingyu sudah berdansa selama satu setengah jam lamanya. Mingyu melepaskan pelukannya dan memandang Jiho dalam-dalam.

“Selamat ulang tahun Kim Jiho. Aku tahu kita sangat berbeda. Kau sangat penyabar dan aku sangat pemarah. Kau selalu menunjukkan senyum termanismu dalam segala situasi, meskipun banyak dari kaummu menyakiti dan menyudutkanmu. Kau satu-satunya manusia yang tak takut pada kehadiranku dan bisa menerimaku. Karena itulah, aku sangat mencintaimu dan ingin melindungimu dari kaummu. Maukah kau ikut denganku? Menjadi kaumku? Dan hidup denganku selamanya?”

Hal yang tak Jiho duga terjadi. Perkataan Mingyu yang tiba-tiba ini membuat Jiho mengerutkan keningnya dan berpikir sejenak.

“Kau tahu, di kaumku, pernyataanmu barusan itu artinya melamarku lho. Dan aku baru 20 tahin untuk menjadi istrimu,” kata Jiho sambil menggoda Mingyu. Mendengar hal itu, Mingyu hanya bisa terdiam dan menundukkan wajahnya.

“Aku mau Mingyu-yah,ayo hidup bersam,” Jiho mantap.

Mingyu langsung memeluk Jiho dan menenggelamkan wajahnya pada leher jenjang Jiho. Tapi ada yang tak beres, wajah Jiho berubah menjadi pucat sekali, kakinya menjadi lemas dan sekarang dia hampir saja terjatuh ke lantai jika Mingyu tak memeluknya dengan erat.

.
.
.

10 menit berlalu, rona wajah Jiho tak berubah, masih tetap pucat. Kehangatan tubuhnya sudah meninggalkannya tergantikan oleh hawa dingin es bagai orang yang sudah mati. Warna pupil matanya yang tadinya hitam sudah berubah menjadi coklat cerah dalam waktu singkat. Apa yang terjadi padanya?

Mingyu membuat sebuah kaca ukuran besar dalam udara kosong dihadapan Jiho yang sudah sadar dan berdiri membelakanginya. Tak ada ekpresi sedih dalam wajah Jiho saat dia melihat perubahan tubuhnya di kaca. Disibakkannya rambut panjangnya, dan terlihatlah 2 lubang di lehernya seperti sebuah gigitan  yang sedang menyembuhlan diri sendiri.

“Terima kasih Mingyu-ah. Hadiahnya sangat indah.” Jiho masih terpana dengan perubahan pada dirinya ketika Mingyu sudah membalikkan tubuh Jiho untuk menatapnya.

“Sama-sama sayang. Selamat atas kelahiranmu yang kedua.” Lalu Mingyu mendaraMingyu sebuah ciuman kecil di kening dan bibir Jiho dan diterima oleh gadis itu dengan senang hati

“Ayo pulang Jiho-ah.” Mingyu menggenggam tangan mungil Jiho dan menghilang dalam udara kosong.

Fin.

Halooo~ jella kembali lagi setelah beberapa hari ini sibuk kerja~
Ini fanfic buat ngerayain ultah dedek Jiho ke 20~ maaf ya telat banget ngepostnya hehehe. Dan pas banget aku ngepostnya tengah malem begini.
Makasi buat readers yang sudah meluangkan waktu buat baca fanfic absurd ini~
Buat temen temen yang penasaran sosok Mingyu, ini aku kasih bonus pic juga~ 😆
image

image

image

image

image

Advertisements

2 thoughts on “[Ficlet] Bite

  1. oh…………….jadi jiho tuh pacaran sama………………..etan. tapi siapa yang gamau kalo etannya ganteng kayak mingyu. :(((
    sayang ini cuma ficlet ya kak, padahal tadi aku mikirnya jiho tuh bakal nolak mingyu karena dia mengalami pergolakan batin, apakah dia harus ikut ke dunianya mingyu dan jadi salah satu dari kaumnya. jadi pengennya agak panjangan gitu ((mau yang panjang nonton sinetron aja jao)). tapi logis juga sih kalo dipikir-pikir kenapa jiho langsung setuju, toh dia yatim piatu dan ibaratnya gak punya siapa2 lagi di dunia ini jadi ikut sama mingyu pun bukan pilihan yang buruk.
    duh gemes banget pokoknya sama ship ini karena mereka pairing pertamaku di svt sama omg heuheuheu okelah mampir ke fic selanjutnya ya kak ~

    Liked by 1 person

Miracle, leave a comment pls^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Advertisements
%d bloggers like this: