OH MY GIRL Fanfiction Indonesia

Since: 16/02/24

[Ficlet] Hyung

1 Comment

promise-day-love-quotes

“Hyung” by Mingi Kumiko

[17] Dino,  [OMG] Arin & [SVT] Hoshi  family, angst, friendship, crime  PG – 15

“Tapi sekarang dia meninggalkanku, dia tak akan pernah lagi berada di sisiku. Aku harus bagaimana sekarang?”

.

.

Lelaki itu masih dengan posisinya sejak sepuluh jam yang lalu; duduk termenung di sofa ruang tamu sambil memilin kain celana yang ia kenakan. Chan – nama lelaki itu – tak sama sekali bersuara, bahkan untuk mendongakkan kepala saja dirinya tak kuasa. Di luar sana sudah banyak sekali kuli tinta yang berkerumun di pelataran rumah demi mendapat tanggapan mengenai insiden tragis yang menimpa saudara kandungnya, Kwon Sun Young.

“Para wartawan itu sudah pergi setelah pertanyaannya kujawab, jadi kamu tak akan kebisingan lagi. Hm, bagaimana kalau sekarang kamu istirahat saja?” suara lembut berembus menyapa telinga Chan. Itu suara Arin, anak tetangga yang sengaja datang untuk menemaninya. Ia menatap kawan sepermainannya itu dengan raut sendu. Pasti Chan masih tak bisa percaya dengan kenyataan pahit yang harus ia terima.

“Oh, apa kamu mau makan dulu? Tak tidur semalaman pasti membuatmu kehilangan banyak tenaga. Aku akan siapkan telur dadar dan kedelai rebus untukmu. Kudengar itu makanan kesukaan Sunyoung Oppa. Kamu pasti juga menyukainya, ‘kan?” Arin menimpali ujarannya sendiri manakala menyadari bahwa lawan bicaranya itu tak sama sekali menunjukkan tanda-tanda hendak merespon.

“Kuanggap diammu itu sebagai ungkapan setuju. Aku ke dapur dulu, kamu tunggu sini, oke?” ditepuknya pundak berbalut kaus longgar itu dengan pelan, kemudian beranjak menuju dapur.

“Arin!” si empunya nama sontak berbalik saat Chan memanggilnya. Gadis itu pun segera menghampiri Chan, lalu bertanya, “Kenapa? Sedang tidak selera makan telur dadar dan kedelai rebus?” pertanyaan itu langsung disambut gelengan singkat oleh Chan.

“Aku merindukan Sunyoung Hyung.” suara serak itu bagai bergetar oleh emosi mandalam. Chan kembali membenamkan wajah kusut masai setelah kalimatnya usai.

Arin amat tahu kalau Chan sangat terpukul oleh kepergian Sunyoung yang tiba-tiba. Ia sendiri juga masih tak bisa percaya kalau pria yang selama 3 tahun ini menjadi tulang punggung keluarga itu akan meninggalkan adik kesayangannya dengan cara yang begitu konyol. Bukannya Arin tak sedih kalau lelaki yang sudah ia anggap sebagai kakaknya sendiri itu telah berpulang, sungguh bukan. Namun andai Arin menunjukkan keterpurukan yang begitu kentara layaknya Chan, maka siapa yang akan menguatkan si bungsu di tengah rapuh? Tiada pilihan lain, Arin harus berlagak kuat demi Chan.

Dengan raga yang masih terjaga, Sunyoung tetap fokus pada jalanan yang lengang. Kali ini ia mendapat tugas untuk mengantar rombongan supporter sepak bola yang hendak bertandang ke kandang lawan demi mendukung tim sepak bola kebanggan mereka. Perjalanan itu berlangsung lancar-lancar saja sebelum mereka melintasi kawasan kota. Saat berhenti di pom guna mengisi bahan bakar, tiba-tiba saja bis yang Sunyoung kendarai mendapat serangan dari supporter tim lawan. Mereka melempari kaca jendela dengan bebatuan dan menerobos masuk pintu bis. Dengan bringasnya gerombolan oknum tak bertanggung jawab itu menghajar beberapa penumpang bis tanpa ampun hingga darah bercucuran di mana-mana.

 

Sunyoung yang panik pun berusaha melarikan diri, namun upayanya itu gagal karena seseorang telah berhasil mencegahnya kabur dengan cara mencengkram pundaknya. Nampaknya orang itu mengira bahwa Sunyoung salah satu bagian dari gerombolan pendukung tim sepak bola yang mereka benci. Tanpa sekelumit pun keraguan ia menikam tengkuk Sunyoung dengan sebilah parang. Satu per satu tetesan darah menyapa tanah, disusul dengan aliran yang makin menderas. Sunyoung kehilangan keseimbangan tubuh dan ambruk terkapar begitu saja.

“Bagaimana kalau aku buat para supporter biadab itu menyusul kepergian Sunyoung Hyung?” Chan berceletuk lirih. Pandangannya kosong, wajahnya tak menyiratkan ekspresi.

“Aku bisa datang ke pertandingan tim yang mereka dukung untuk menjatuhkan pemantik api yang menyala. Setelah apinya menjalar aku harus buru-buru lari agar menjadi salah satu dari segelintir orang yang selamat.” imbuhnya dengan intonasi yang kian meninggi. Tangan Chan terkepal erat dan rahangnya mengeras.

Chan tak akan memaafkan mereka, ia harus membuat para begundal itu menerima ganjaran yang tak kalah pedih.

“Kamu ini bicara apa, sih?!” Arin sedikit memekik. Ia tahu kini Chan sedang terguncang, tapi bukan berarti ia harus bicara omong kosong semacam itu, ‘kan?

“Kenapa kamu malah membentakku?”

“Aku cuma tidak ingin kamu menghabiskan sisa hidupmu dengan kebencian. Sudah ada pihak berwajib yang menangani kasus ini, Chan.”

“Menangani? Jadi menahan mereka untuk interogasi dan membiarkannya pulang begitu saja kamu sebut dengan menangani?”

Peraduan argumen itu tak akan pernah selesai apabila keduanya bersikukuh mempertahankan egonya masing-masing. Arin pun coba menghela napas untuk menetralisir emosinya yang hendak melonjak.

“Aku mohon tenanglah… aku tahu ini berat bagimu, tapi apa yang bisa kita lakukan selain merelakan kepergiannya? Jangan menambah beban Sunyoung Oppa di alam sana, Chan.”

“Kalau kamu menjadi aku, apa yang akan kamu lakukan? Aku yakin, kok, kamu juga akan melakukan hal yang sama denganku.”

“Aku tak perlu jadi dirimu untuk tahu apa yang kamu rasakan. Kakakku juga meninggal karena tabrak lari, enam tahun yang lalu.”

Perlahan, Arin merengkuh tubuh Chan yang lemas, merasakan gemetar itu, merasakan beban yang disimpan Chan sendirian.

“Sudah cukup bagiku kehilangan ayah dan ibu, dan sekarang aku harus kembali merelakan orang yang kusayangi pergi. Tidak masalah bagiku apabila kemewahan dunia tak pernah kurasakan, dengan adanya Sunyoung Hyung di sisiku aku sudah merasa hidupku sempurna. Tapi sekarang dia meninggalkanku, dia tak akan pernah lagi berada di sisiku. Aku harus bagaimana sekarang?” ucapnya sambil terisak pilu, buru-buru ia menyeka ujung matanya yang terlinangi buliran air mata. Namun usahanya percuma, kini ia malah menangis sejadi-jadinya sambil menggerung. Chan meluapkan seluruh emosi yang sejak kemarin malam tertahan hingga membuat pundak Arin sebagai sandarannya menjadi basah.

Melihat Chan yang tersiksa oleh guratan lara membuat hati Arin bagai tersayat sembiri. Tubuh pria itu gemetar, sama seperti waktu itu, enam tahun yang lalu, saat Arin menangis sendirian sampai seseorang datang menjemputnya. Sampai tangis mereda, dan kehilangan kemampuan untuk menangis. Arin mengerti.

“Kamu masih punya aku, aku akan menjagamu, Chan.”

“Tolong aku… aku tak bisa hidup sendirian di dunia ini. Sekarang aku hanya memilikimu sebagai temanku. Kamu mau, kan, berada di sisiku?” rengek Chan. Arin pun tersenyum – meski tipis saja, mengangguk, tentu saja ia bersedia.

– End –

Advertisements

Author: Lelycchi

♬ Lely ♬ 99line ♬ warm hearted ♬ talk active ♬ let's be friend! ♬

One thought on “[Ficlet] Hyung

Miracle, leave a comment pls^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Advertisements
%d bloggers like this: