OH MY GIRL Fanfiction Indonesia

Since: 16/02/24

[Three-Shots] A Letter for Jiho

10 Comments

image

by nightskies

A Letter for Jiho

Seventeen’s Mingyu; Oh My Girl’s Jiho and Binnie; Astro’s Eunwoo

ThreeShots

Sad, Angst (Warning: Character Death)

Setelah Mingyu memutuskan untuk mengorbankan hidupnya, Jiho berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak memaafkan lelaki itu; sampai sebuah surat—bersama kejadian yang tidak diketahuinya—datang tiga tahun kemudian.

note: quoted sentences are letters.

disclaimer: none of these fics were mine except the storyline and the poster. it is not also yours, so try to respect someone’s hard work. do not EVEN TRY TO THINK TO PLAGIARIZE IT

***

<First>

Jiho berjalan menuju kotak pos di depan rumahnya, ingin mengecek apakah ada surat hari ini. Di dalam sana, ada dua amplop tebal—mungkin milik ayahnya. Jiho mengambil kedua surat itu, namun begitu ia menutup kotak pos, ia merasa ada sesuatu yang ia lewatkan. Ia kembali membuka kotak pos dan menemukan amplop putih tertempel di langit-langitnya.

Apa ini? Kenapa aku baru lihat?

Untuk Kim Jiho, sahabat setiaku.

Melihat gaya tulisan di amplop tersebut, hati Jiho nelangsa.

Ah, ini sudah pasti darinya, batin Jiho sambil masuk ke rumahnya.

Jiho meletakkan surat untuk ayahnya di meja tamu, sementara ia pergi ke taman belakang untuk membaca surat misterius itu.

Halo, Jiho. Saat ini kau pasti baik-baik saja tanpaku. Karena itulah aku tidak tanya kabarmu. Waktu cepat berlalu, kau tak perlu khawatir akan kehilanganku.

Menurutmu, apakah Yoobin menyadari bahwa hatiku telah tertanam di tubuhnya? Atau ia akan kembali pada Eunwoo dan menganggapku tak melakukan apapun? Kurasa kemungkinan kedua lebih mungkin terjadi. Ia tak akan menangisiku yang sudah mati. Ia pasti lebih memilih untuk hidup bersama Eunwoo lalu menganggap ketiadaanku sebagai hal yang tak berarti.

Lihat, ia berpikiran bodoh lagi, batin Jiho kesal.

Keadaan justru berbanding terbalik. Yoobin yang kembali hidup dengan hati barunya tidak terima dengan kenyataan bahwa hatinya telah digantikan oleh hati Si Penulis Surat. Kini, gadis itu telah bersemayam di dekat Si Penulis Surat.

Saat mengingat kejadian itu, telinga Jiho seolah kembali mendengar tangis lirih Yoobin pada malam sebelum matahari terakhir bagi Yoobin terbit.

“Aku sangat mencintainya, Jiho. Lebih baik aku ikut dengannya daripada hidup tanpanya.”

“Kukira kau mencintai Eunwoo?”

Yoobin malah tertawa sinis. “Jiho, ayolah. Kau bisa lihat bahwa Eunwoo tidak mencintaiku. Eunwoo tidak mengorbankan hidupnya untukku dan ia tak pantas berbahagia karenanya.”

Dan pada pagi setelahnya, Jiho menemukan ruang rawat Yoobin dipenuhi suster, juga orangtua Yoobin yang menangis tersedu.

Dokter yang baru selesai memeriksa Yoobin menghampirinya dan berkata, “Temanmu overdosis. Kami menemukan botol obat penenang di bawah tempat tidurnya… juga botol infusnya yang mengandung terlalu banyak obat penenang. Kami sangat menyayangkan hal ini. Padahal, kasus implementasi hati seperti kasus gadis ini jarang berhasil.”

Kenapa kau tak pernah mendengarkanku? Sudah kubilang tak ada yang berbahagia atas pengorbanan bodohmu, batin Jiho lagi.

Aku tak paham mengapa aku mencintai Yoobin sebegitu dalam, padahal ia punya Eunwoo di sisinya. Aku terus mencari alasan untuk memberikan hatiku untuknya meski aku bukan kekasihnya. Hingga larut malam, aku tak menemukan alasan itu.

Kau benar. Cinta adalah mati rasa yang menghidupkan duniamu. Apapun akan kau lakukan dan kau berikan, tanpa peduli apa risikonya. Jujur, selama ini bukan Yoobin yang menghidupkan duniaku. Yoobin hanya memberikan efek ‘mati rasa’. Ia tak melakukan apapun untuk menghidupkan duniaku. Ia hanya bergelung dengan sakitnya, juga pada Eunwoo, sampai ia masuk ruang operasi.

Aku tak berani bilang padamu karena aku malu. Harusnya aku mendengarkanmu dari awal, bukannya bersikap seperti anak kecil. Harusnya aku tak bermain-main dengan organ tubuhku. Memberikan hatiku berarti mengorbankan masa depanku.

Kupikir Yoobin akan lihat betapa besarnya cintaku bila tahu aku telah mengorbankan hatiku. Kupikir nantinya ia akan menyesal telah mengabaikanku dan akan menjauhi Eunwoo. Oh iya, jika kau ingin tahu siapa yang telah menghidupkan duniaku, maka jawabannya adalah kau. Kau ada untukku saat aku membutuhkanmu. Sejak dulu hingga kini.

Saat umur kita 7 tahun, kau meminjamkan tempat tidurmu dan mengelus kepalaku, meredakan tangisku ketika aku dijahili Soonyoung dan Wonwoo saat mereka menggangguku.
Saat umur kita 14 tahun, kau mengajariku Bahasa Jepang dan Matematika selama tiga minggu tanpa henti dengan penuh kesabaran. Tujuanku saat itu adalah untuk membuat gadis-gadis di sekolah kita kagum padaku, namun kau katakan dengan tulus bahwa tujuanmu mengajariku adalah agar aku tak dimarahi Ibu.
Saat umur kita 21 tahun, kau mengutuk keputusan bodohku untuk mengorbankan hatiku bagi penderita gagal hati bernama Bae Yoobin dengan tiga alasan masuk akal yang kutolak mentah-mentah.
Pertama, Ibu akan hidup sendiri di usia tua tanpa putranya. Kedua, Eunwoo akan menggunakan ketiadaanku untuk mendapatkan Yoobin—ditambah hidup gadis itu telah diperpanjang dan kesempatan bagi lelaki itu akan makin besar. Terakhir, aku egois terhadap kita.

Kedua alasan itu membuatku tak bisa tidur. Namun yang terakhir membuatku ingin langsung mati saja. Kenapa aku bisa melupakan kehadiranmu sebagai hal terbaik dalam hidupku saat menandatangani kontrak persetujuan? Kenapa aku tak lebih dulu bertanya padamu tentang semua ini? Kenapa aku bisa melupakanmu yang sudah 14 tahun bersamaku?

Kim Jiho, jika aku dilahirkan kembali sebagai Kim Mingyu sahabatmu di kehidupan selanjutnya, aku akan menebus keputusan bodoh ini dengan apapun yang kau inginkan. Bahkan jika kau ingin aku tak pernah mengenal dan jatuh cinta pada Yoobin sekalipun, aku tak keberatan.
Harusnya aku sadar bahwa sebenarnya aku mencintaimu, Kulit Susu.

Jiho menatap langit dengan air mata berurai. Seolah ia melihat wajah Mingyu di antara awan putih—memberitahu gadis itu bahwa sahabatnya ada dibalik sana. Matanya terpejam dan senyumnya merekah perlahan. Ini pertama kalinya ia menangis setelah sekian lama tak melakukannya. Ia sudah janji pada dirinya untuk tak memberatkan kepergian Mingyu. Namun sore itu, ia menangis bukan karena ia melanggar janjinya. Lebih karena ia merasakan bahagia campur haru.

Ia ingat ketika ia datang ke rumah sakit karena Nyonya Kim khawatir putranya tak pulang selama dua hari, Jiho melihat jasad Mingyu dibawa pergi dari ruang operasi dengan kain putih menutupi seluruh tubuhnya. Ia tak menyangka Mingyu melakukan operasi itu tanpa seizinnya.

Berkat cahaya lampu, Jiho mampu melihat bekas operasi di dada Mingyu yang tertutup kain putih. Itulah tempat Jiho menyandarkan kepalanya saat ia sedih karena nilainya turun atau orangtuanya tak pulang untuk yang kesekian kali.

Tempat bersandar yang kini telah pergi bersama orang yang amat berarti dalam hidupnya. Tempat bersandar yang membuat Jiho seperti berada di rumahnya. Itulah saat membahagiakan yang sederhana baginya. Tempat bersandar yang andai bisa selalu bersama Jiho kemana pun gadis itu pergi.

Ia ingat ketika ia bahagia saat Yoobin terbangun dari komanya, lalu kembali berduka saat nama Mingyu disebut pertama kali oleh gadis itu. Karena ia ingat, bahwa sebelum Yoobin tersadar, ia sibuk memikirkan 1001 cara untuk memberitahu Yoobin soal Mingyu.

Namun, nyatanya ia hanya perlu satu cara, yaitu mengatakan yang sebenarnya. Ia tak peduli dengan tatapan tajam dari Eunwoo, atau tatapan cemas dari orangtua Yoobin. Walau sebagai akibatnya, ia harus melepas seseorang lagi.

Satu-satunya kalimat yang keluar dari mulut Nyonya Bae, adalah pernyataan bahwa Yoobin pergi karena gadis itu sudah tak punya semangat hidup. Setelah itu, keduanya bersikap seperti tak pernah mengenal Jiho.

Ia juga ingat Eunwoo menariknya ke lorong sepi pada hari penghormatan terakhir Yoobin. Eunwoo mendorong gadis itu ke dinding, bahkan memukul Jiho hingga gadis itu tersungkur. Untung gadis itu tidak pingsan.

“Harusnya kau berbohong padanya! Kejujuranmu membunuhnya!”

“Kebohongan tak akan menjaganya untuk tetap hidup, Eunwoo. Ia sudah tahu kebenarannya.”

“Tapi aku bisa menyembunyikan segala tentang Mingyu darinya!”

“Kau tak akan bisa. Ia sudah menduga kepergian Mingyu tepat saat kita masuk ke ruangannya. Mau berbohong seperti apapun juga, ia akan tahu tanpa perlu kau sembunyikan.”

“Paling tidak, tunda kebenarannya sampai Yoobin keluar dari rumah sakit.”

“Lalu setelahnya apa? Kau hidup bahagia dengannya? Eunwoo, aku sudah bilang, Yoobin bukan orang bodoh. Jika aku berbohong, maka hanya tinggal masalah waktu hingga ia mengetahui semuanya. Setelah itu ia akan kecewa padamu, padaku, juga orangtuanya. Dan kekecewaan itu tak akan menutup kemungkinan untuknya bunuh diri. Seperti yang sudah terjadi.”

Pikiran Jiho pun berjalan kembali ke masa kini. Dalam perjalanannya kembali setelah kejadian memilukan itu, ia ingat bahwa Eunwoo kini menetap di Jepang karena tak sanggup berada di negeri yang sama dengan mendiang kekasihnya. Ia ingat bahwa orangtua Yoobin telah pindah jauh ke pedesaan.

Nyonya Kim menyusul putranya setahun lalu akibat kebakaran di rumahnya. Bukan karena kesengajaan, namun karena wanita itu tak tahu bagaimana cara menggunakan kompor listrik. Selama ini, Mingyu yang selalu menggunakan kompor itu. Kompor itu meledak akibat digunakan dengan cara yang salah, dan menghanguskan seluruh kenangan terakhir Jiho bersama Mingyu.

Jiho berharap ia juga bisa pergi kemana pun setelah kehilangan lelaki itu. Namun, ia sadar ia tak bisa melakukannya. Kemana pun ia pergi, wajah Mingyu akan hadir dalam mimpinya.

Ia membuka lagi surat di tangannya. Masih ada satu paragraf yang belum ia baca.

Sekarang aku pergi dulu, Kulit Susu. Aku akan pergi jauh dan tak akan pernah kembali. Lagipula, tak ada cara untuk kembali, sekeras apapun aku mencoba.
Selamat tinggal, Kim Jiho.

P.S: Bila kau sempat, pergilah ke rumahku. Minta kotak hitam pada Ibuku. Simpan isinya sampai kita bertemu lagi.

Jiho mengernyit. Ia tak bisa bertanya pada Nyonya Kim atau mencari sendiri. Yang tersisa dari rumah itu hanya lantai, juga beberapa perabotan yang menghitam. Ia bahkan ragu lantai itu masih bisa menopangnya jika ia berdiri di atasnya.

Namun, gadis itu tetap pergi. Ia yakin masih ada yang tersisa di sana. Beruntung, apabila kotak yang Mingyu maksud itu masih ada.

*

Gadis itu tiba di depan rumah yang tidak lagi terlihat seperti rumah, dengan rerumputan hitam di beberapa bagian. Di atas tanah ini, dulunya berdiri sebuah surga kecil, tempatnya menghabiskan waktu apabila orangtua Jiho sedang sibuk dengan dunia kerja mereka yang mungkin lebih berharga daripada Jiho, bahkan mungkin pernikahan mereka sendiri.

Dulu, bila ia menaiki tangga kayu itu dan mengetuk pintu, ia akan disambut oleh Nyonya Kim dan kecupan di dahi. Jiho tersenyum pedih dan menghapus air matanya. Pintu masuk menuju ‘surga kecil’-nya telah tiada. Hanya ada kerangka gosong berdiri rapuh yang masih mampu berdiri kala angin berbaik hati untuk tak mendorongnya kuat-kuat.

“Aku pulang,” lirih Jiho pelan. Kalimat yang dulu biasa ia ucapkan di dua tempat.
Bedanya, di tempat pertama ia tak pernah menerima jawaban.

Sedangkan di tempat kedua, ia menerima jawaban, “Selamat datang kembali.” Atau, “Kenapa kau kesini lagi? Aku tak dapat jatah cemilan jika kau datang!”

Namun kini, kedua tempat itu bertukar posisi.

Di tempat pertama, Jiho menerima jawaban, “Ibu sudah buatkan sup ayam. Maaf Ibu tak bisa membuatkanmu yang enak-enak, hanya itu yang bisa Ibu buat. Semoga kau suka.”

Semenjak Mingyu pergi, wanita itu hampir selalu di rumah dan menjadi sosok ibu bagi putrinya. Mungkin ibunya sadar bahwa Jiho sudah terlalu kesepian selama ini. Terlebih setelah mendengar kepergian Mingyu dan Nyonya Kim.

Sementara di tempat kedua, ia menerima bau hangus, seolah tempat ini baru saja dipadamkan.

Jiho berjalan ke ruang tamu. Hanya ada kerangka sofa tempatnya, Mingyu, dan Nyonya Kim bercengkrama sepanjang sore. Juga kerangka meja tempat cangkir kopi french vanilla kesukaan mereka diletakkan. Jiho berjalan ke lemari kaca tempat Nyonya Kim menyimpan hiasan-hiasan lucu—yang pintu kacanya sudah hilang beserta isinya. Di bawah lemari itu, ada laci kecil—yang pintunya telah menghitam. Sedari dulu, Jiho selalu dilarang membuka laci itu. Namun kali ini, ia tidak peduli dengan larangan itu. Dan di sana, Jiho menemukan kotak yang dimaksud.

Jadi kotak itu ada disini? Pantas aku dilarang membukanya, pikir gadis itu.

Ia mengambil apa yang ia perlukan dan langsung pulang ke rumahnya. Begitu dibuka, isinya adalah sebuah kalung permata berwarna merah muda, juga sebuah amplop.

Ketika kau membuka kotak dan menemukan kalung ini, dapat kupastikan bahwa aku tak lagi di sisimu. Aku berwasiat pada diriku bahwa kalung ini akan jatuh ke tanganmu bila aku sudah mati.
Aku membeli ini dengan uangku sendiri—semoga ini menjawab pertanyaanmu tentang aku yang selalu pulang malam saat kita SMP. Aku bekerja paruh waktu dan setelah bekerja keras mengumpulkan uang selama tiga tahun, aku dapat membeli benda ini. Jadi, kumohon terimalah. Sebagai penggantiku.
Jaga ini sampai kita bertemu lagi.

Jiho mengenakan kalung itu dan membisikkan terima kasih. Walau ia sadar bahwa Mingyu tak akan mendengarnya.

Namun tepat setelah itu, sebuah ide datang ke kepalanya.

*

Jiho menggenggam tiga balon berwarna pink (warna favoritnya), hijau (warna favorit Mingyu), dan putih (warna favorit keduanya).  Ia taruh balon gas itu di dekat kasurnya. Sejenak, ia pandang balon-balon itu dan ia teringat akan masa kecilnya dengan Mingyu. Ia ingat, seolah ia sedang menonton film tentang dirinya dan Mingyu, bagaimana ia merengek ingin balon gas dan Mingyu menertawakan kecengengannya.
Jiho meraih pulpennya dan menulis.

Halo. Ini Kim Jiho.
Ketika kau terima surat ini, aku ingin kau tahu bahwa aku telah memakai kalungmu dan aku juga telah mengetahui pesan terakhirmu. Orangtua Yoobin dan Eunwoo hancur tanpa gadis itu, begitu juga aku tanpamu. Namun, aku akan baik-baik saja dan terus berbahagia. Sampaikan salamku pada ibumu jika beliau ada di dekatmu saat ini.
Thank you for the 14 years, Kim Mingyu. See you later, my-stupidest-friend-ever.
Hang in there, don’t go anywhere. Wait till I get there, so we can be together.

Jiho mengikatkan suratnya di ketiga balon tersebut, dan dilepasnya balon-balon itu di teras rumahnya. Balon itu terbang bebas bersama angin sore yang sejuk. Terbang jauh menuju matahari yang ada dibalik awan.

Jika Jiho memakai akal sehatnya, ia yakin balon itu akan pecah ketika ada di atmosfer yang sama dengan pesawat terbang, atau apabila balon itu berada di lapisan udara yang panas. Setelah balonnya pecah, surat tersebut nantinya akan melayang tanpa arah. Lalu seseorang akan menemukan surat itu, dan membuangnya. Itu pasti.

Tapi surat itu untuk lelaki yang percaya bahwa unicorn benar-benar ada di Bumi. Jadi ia harus punya kepercayaan yang sama besarnya, lagipula ini hanya tentang balon.
Semoga surat itu sampai, harap Jiho.

*

“Mingyu, lihat!”

Wanita paruh baya menunjuk pada balon yang melayang dengan surat di tali balonnya.
“Itu pasti dari Jiho,” ucap wanita itu pada lelaki di sampingnya.

Lelaki yang dipanggil Mingyu itu pun mengambil balon tersebut dan mengambil suratnya. Membacanya dengan teliti, hingga air matanya menggenang.

“Ibu, ini dari Jiho. Ia hidup bahagia sekarang,” ucap Mingyu.

“Tentu saja ia bahagia. Ia gadis baik, dan pantas bahagia.”

Mingyu menyetujuinya. Lelaki itu menoleh ke bawah kakinya. Ia tak bisa melihat Jiho dari sini, tapi wajah gadis itu seolah tergambar di bawah kakinya. Wajah gadis itu sedang tersenyum dan matanya menatap penuh kebahagiaan. Hatinya membisikkan kata sampai jumpa dan ia pun melangkah ke arah Yoobin yang sedang bermain-main dengan balon dari Jiho.

“Harusnya aku tak pernah hadir dalam hidupmu, Mingyu. Aku menyesal telah membuat kalian terpisah seperti ini,” ucap Yoobin sedih.

Mingyu menepuk pundak Yoobin dan tersenyum kecil. “Jangan menyesal. Lagipula, kami sudah berjanji untuk berjumpa lagi, suatu hari nanti.”

***

<Second part>
Things that happened before Jiho receives the letter

First year

“Aku ingin memberikan hatiku untuk Yoobin.”

Jiho menatap Mingyu tak percaya. “Kau gila? Tidak, kau tidak boleh melakukannya!”

“Ayolah, Jiho. Kau bukan Ibu, kau tak bisa memerintahku—“

“Kalau begitu, apa jawaban Nyonya Kim soal ini? Apa beliau benar-benar setuju?”

Mingyu terdiam, terkejut dengan pertanyaan yang baru ia dengar. Memang, selama ia berteman dengan Jiho, ia selalu mendapat hal-hal mengejutkan. Tak berbeda dengan yang satu ini.

“Apa jawaban beliau? Perlukah kutanya sendiri—“

“Baik, aku mengaku. Aku tak mengatakannya pada Ibu. Aku hanya menceritakannya padamu. Kupikir kau setuju.”

“Kim Mingyu!” seru Jiho, suaranya bergetar, hampir menangis. “Tentu saja aku tak setuju! Aku tak mau kehilanganmu.”

“Aku hanya meminjamkan hatiku untuk Yoobin, masih ada diriku yang hidup—“

“Dasar bodoh!” Jiho berteriak, air matanya menetes. “Kau akan tetap pergi, Mingyu! Tidakkah kau pikirkan risikonya bila kau nekat?”

Mingyu tidak menjawab.

“Pertama, Nyonya Kim akan hidup sendiri. Kau tega meninggalkan beliau demi cintamu itu?”

“Kau tahu apa soal cintaku pada Yoobin? Jangan kau sangkut-pautkan Ibu—“

“Aku tahu seberapa besar cintamu untuk Yoobin. Yang tidak kutahu adalah betapa egoisnya kau. Kau tega meninggalkan seorang wanita yang telah membesarkanmu demi seorang gadis yang bahkan tidak mencintaimu?”

Mingyu mengangkat telunjuknya dan menatap Jiho tajam. “Beraninya kau—“

“Kedua, kau pikir dengan memberikan hatimu, Yoobin akan mencintaimu dan meninggalkan Eunwoo?”

Gadis itu sadar ia telah berbohong—karena sebenarnya Yoobin memang mencintai Mingyu, namun ia sadar hal itu tak akan membuat Mingyu mengubah keputusannya.

“Kenapa kau pikir begitu?” tantangnya.

“Kau sudah mati setelah ia siuman, kalau-kalau kau tak sadar. Lalu, Yoobin dan Eunwoo akan hidup bahagia di atas kebodohanmu.” Jiho menjawab dengan getir. “Yoobin tidak akan mencintai mayatmu, kau pikir ia psikopat?”

Mingyu terdiam.

“Ketiga, kau sudah egois padaku. Sahabatmu sejak kecil. Yang selalu disisimu apapun yang terjadi. Kau sungguh akan meninggalkanku demi orang lain? Lalu apa artiku di matamu selama ini, Mingyu? Apa aku sesia-sia itu?”

“Tentu saja tidak. Kau—“

“Lalu kenapa aku harus bertahan di sisimu selama ini? Jika akhirnya kau pergi demi orang lain?”

“Jiho, aku tidak—“

“Kenapa kau hanya mementingkan dirimu sendiri selama ini? Kenapa kau tak pernah memikirkanku? Pernahkah terlintas di pikiranmu kemungkinan bahwa aku mencintaimu? Lebih dari seorang sahabat?”

“Tunggu, kau…?”

“Tak pernah?” Jiho menutup matanya, tersenyum pahit. “Pantas saja kau semudah ini memutuskan. Aku, dan persahabatan kita, bahkan tak kau perhitungkan.”

Keduanya terdiam, hingga jam menunjukkan pukul 4 sore, tak terasa sudah nyaris satu jam ia diselimuti kecemasan soal keputusan Mingyu. Jiho akhirnya memutuskan untuk pulang.

“Aku tak akan muncul di hadapanmu sampai kau mengubah pikiranmu. Kuharap, ini bukan pertemuan yang terakhir kali. Ingat, tak satu pun dari kami akan bahagia dengan pengorbanan bodohmu ini. Yoobin dan orangtuanya, Eunwoo, Nyonya Kim, bahkan aku. Pikirkan baik-baik, Kim Mingyu. Kumohon, keputusanmu itu adalah untuk empat belas tahun persahabatan kita.”

Jiho keluar dari rumah Nyonya Kim dengan air mata mengalir. Ia berharap ini bukanlah pertemuan terakhir mereka. Ia tidak mau kehilangan Mingyu sekarang, apalagi mereka berpisah dengan sebuah pertengkaran. Tapi entah kenapa, hatinya terus menyangkal harapan itu. Seolah ia sudah tahu bahwa Mingyu tak akan mengubah keputusannya.
Bahkan untuk gadis itu, sahabatnya selama empat belas tahun.

Aku bodoh karena mengharapkannya, sesal Jiho.

*

Dua hari kemudian…

“Selamat pagi, Nyonya Kim.” Jihomenyapa wanita itu sambil masuk ke rumah keluarga Kim.

“Oh, Jiho rupanya.” Wanita itu tersenyum. “Kau tahu dimana Mingyu?”

“Tidak—tunggu, maksud Nyonya, Mingyu tidak di rumah?”

“Ya, ia bahkan tidak pulang dari kemarin, ia bilang akan bertemu denganmu. Aku khawatir. Kukira ia bersamamu.”

Jiho tidak pernah berpikiran buruk, apalagi tanpa alasan. Namun kali ini, ia tak bisa menghentikan pikirannya yang memikirkan kemungkinan terburuk dari ketiadaan Mingyu di rumah keluarga Kim.

“Nyonya, aku akan cari Mingyu. Doakan semoga putramu kembali dalam keadaan hidup.”

Nyonya Kim baru akan menanyakan maksud dari pernyataan Jiho, saat gadis itu sudah melesat pergi ke rumah sakit. Begitu ia menginjakkan kaki di depan ruang operasi, seluruh kekuatan tubuhnya hilang saat sebuah bangkar didorong keluar dari ruangan tersebut. Dengan jasad yang bentuknya sangat Jiho kenal. Gadis itu menghampiri Eunwoo dan orangtua Yoobin di ruang tunggu.

“Kenapa kalian membiarkannya?” tanya Jiho tak terima.

“Kami ingin Yoobin kembali, Jiho. Dan hanya ini cara yang kami miliki,” ujar Nyonya Bae.
“Tapi Yoobin tak akan bisa menerima ini semua!”

“Kenapa tidak?” tanya Eunwoo, menantangnya.

“Jangan pura-pura tidak menyadarinya, Eunwoo. Kau tahu selama ini yang dicintai Yoobin adalah Mingyu. Jika ia tahu bahwa Mingyu yang telah mengorbankan hidupnya untuk Yoobin, kupastikan Yoobin tak sudi untuk hidup bersamamu.”

“Ia pasti mau. Aku yang selama ini di sisinya, dan Mingyu—“

“Tidak pernah ada di sisi Yoobin? Itu karena kau mengancamnya! Dasar licik!”

“Jaga sikapmu, Nona Kim—“

“Maaf atas ketidaksopananku, Tuan dan Nyonya Bae. Aku hanya bermaksud untuk menyadarkan kalian. Keputusan kalian salah.”

“Apa yang membuatmu berpikir demikian?”

“Tidak ada yang membuatku berpikir demikian, Tuan Bae. Keputusan kalian memang salah.” Jiho menghela napas sejenak. “Yoobin tidak pernah mencintai Eunwoo. Semua yang kalian lihat; Yoobin yang bahagia di sisi Eunwoo. itu semua sandiwara. Yoobin selalu cerita padaku bahwa ia tertekan tiap kali bersama Eunwoo. Ia selalu menunggu kehadiranku karena aku selalu datang bersama Mingyu tiap kali menjenguknya. Ia ingin bersama Mingyu, bukan Eunwoo.”

“Lalu?” tanya Nyonya Bae.

“Yoobin bukan orang yang tegar. Sebaliknya, ia amat rapuh. Yoobin pasti akan sedih bila tahu orang yang dicintainya pergi, terlebih sebabnya adalah karena dirinya. Mingyu-lah alasan Yoobin bertahan hidup, bukan Eunwoo.”

Tuan Bae menatap Eunwoo penuh selidik.

Menyadari posisinya sedang terancam, Eunwoo bangkit, merasa terancam. “Jangan berdusta di saat seperti ini! Yoobin baru saja sadar dari komanya, lalu kau—“

“Lihat?” Jiho tersenyum remeh. “Kau bahkan tak peduli sedikit pun pada Mingyu. Karena itu kau tak mau mengorbankan hidupmu untuk Yoobin—kau malah membiarkan Mingyu berbuat bodoh. Kau terlalu egois, bahkan untuk Yoobin. Kau tak pantas mendapatkan gadis itu.”

*

Orangtua Yoobin tidak memberi keputusan apapun pada akhirnya. Mereka hanya melerai keduanya sambil mengajak mereka menjenguk Yoobin yang sudah bisa dijenguk.

“Jiho,” panggil Yoobin saat mereka masuk. “Dimana Mingyu?”

Jiho menatap Eunwoo penuh arti, seakan menunjukan bahwa lelaki itu telah salah menuduhnya. Sementara Eunwoo hanya balas menatap Jiho tajam—tapi gadis itu tidak takut. Ia sudah jujur dan ia yakin orangtua Yoobin percaya padanya.

Hanya saja, Jiho bingung saat bertemu mata dengan Yoobin. Haruskah ia berbohong? Atau membuat Yoobin sedih atas kesempatan hidup sekali lagi yang baru saja diterimanya?

“Yoobin, disini ada Ibu, Ayah, juga Eunwoo. Kenapa kau menanyakan yang tidak ada?“

“Aku tahu kalian di sini. Sedangkan Mingyu tidak ada, karena itu aku menanyakannya.” Gadis itu beralih ke Jiho. “Jiho, kumohon jemputlah Mingyu, minta ia kesini. Aku ingin bicara dengannya. Aku sudah memutuskan, jika operasiku berhasil, aku akan membalas perasaannya.”

Jiho tidak menjawab. Ia sangat ingin menjemput Mingyu, membawa lelaki itu ke ruangan ini dan membiarkan mereka berbincang selama apapun yang mereka mau. Walau hati Jiho menjerit tak rela dengan kemungkinan itu, namun kepentingannya bisa ditunda untuk nanti.

Hanya saja, Jiho tak tahu dimana Mingyu kini, juga bagaimana cara menjemputnya.

Eunwoo memecah hening. “Yoobin, Mingyu sedang—“

“Aku tidak tanya kau, Eunwoo. Sekarang, aku ingin kalian semua keluar dari ruanganku. Jiho pasti punya sesuatu yang ingin dikatakannya, tapi tertunda karena kehadiran kalian.”

“Tapi, Yoobin—“

“Ibu, aku minta maaf telah mengusir kalian. Aku ingin tahu dimana Mingyu, dan Jiho harus mengatakannya padaku.”

Jiho akhirnya membuka mulut. “Yoobin, Mingyu-lah yang telah mendonorkan hatinya untukmu. Karena itu ia tak disini.”

Kalimat itu membuat suasana hening di ruangan itu makin mencekam. Jiho sadar ia kini ditatap dengan cemas oleh orangtua Yoobin. Juga Eunwoo yang menatapnya tajam.

“Sudah kuduga,” lirih gadis itu, kemudian air matanya mengalir satu demi satu. “Aku sudah menduga hal itu sejak kau masuk ke sini, Jiho.”

Semua yang ada di ruangan itu terdiam.

“Sekarang, kumohon pergilah dari sini. Kecuali Jiho. Aku butuh ia untuk malam ini.”

“Lalu bagaimana denganku?” tanya Eunwoo tak terima.

“Diam kau, Pengecut. Aku tak sudi bersamamu. Jika kau benar-benar mencintaiku, harusnya kau yang berkorban. Pergi dari sini dan jangan pernah muncul di hadapanku lagi.”

*

Jiho baru saja sampai rumah tiga puluh menit setelah meninggalkan Yoobin, saat orangtua Yoobin menelpon gadis itu untuk kembali lagi ke rumah sakit. Yoobin memang menangis semalaman karena kepergian Mingyu, namun ia yakin orangtua Yoobin bisa mengendalikan situasi seperginya Jiho dari sana.

Kemungkinan apa yang bisa terjadi dari pukul 04.30 hinga 05.00 pagi pada Yoobin hingga membuat Jiho harus kembali? Walau tubuhnya meronta lelah, Jiho ingat pada realita bahwa Yoobin kini memiliki hati Mingyu, jadi ia pegang alasan tersebut dan kembali ke rumah sakit.

Begitu ia masuk ke ruangan Yoobin, ia melihat banyak suster dan seorang dokter yang khusus yang memeriksa Yoobin ada di ruangan. Jika Yoobin memang perlu pemeriksaan, tak perlu seramai ini, bukan? Jiho melangkah masuk ke ruangan itu, menemukan orangtua Yoobin sedang menangis. Yoobin tidak ada di kasurnya, dan ia tidak tahu harus bertanya pada siapa.

Sampai seorang dokter menghampirinya dan menjawab rasa penasarannya. Yoobin meninggal akibat overdosis obat penenang di botol infusnya. Alasannya? Sudah pasti karena tak sanggup menerima pengorbanan bodoh Mingyu, dan hanya itu alasan yang bisa Jiho pikirkan. Jiho mendengar lirih Nyonya Bae yang membenarkan kata-kata Jiho soal ‘mencintai Mingyu’ dan ‘Eunwoo licik’, dan Tuan Bae menenangkan istrinya dengan mengatakan bahwa Eunwoo sudah ia larang untuk menampakkan wajah di hadapan mereka.

Jiho tidak peduli pada fakta bahwa ia benar. Ia tak peduli dengan penyesalan orangtua Yoobin. Atau Eunwoo yang mungkin kini berduka lebih besar dari mereka. Atau apapun.

Yang ia tahu, Yoobin telah membawa satu-satunya peninggalan Mingyu yang ingin ia jaga. Ia telah kehilangan Mingyu seutuhnya. Ia pun sadar kini harusnya sedari awal ia katakan yang sebenarnya pada Mingyu. Mungkin bila Mingyu tahu bahwa Yoobin mencintainya, Mingyu akan berpikir sebentar dan mungkin membatalkan operasi itu.

Tapi sudahlah, Mingyu tahu ataupun tidak, mereka berdua akan tetap pergi.

*

Second year

“Jadi aku harus apakan variabel ini—ah, Eunwoo!”

Sujeong mengalihkan fokusnya pada materi kalkulus yang sedang diajarkan Jiho, dan menyapa Eunwoo yang lewat di dekat mereka. Jiho menghela napas tak suka—kehadiran lelaki itu mengganggu urusannya dan membuatnya teringat pada tragedi setahun lalu.

“Halo Sujeong. Maaf menganggu, boleh aku pinjam Jiho sebentar?”

Jiho menatap Eunwoo tajam, mengisyaratkan untuk apa kau panggil aku, namun Eunwoo balas menatap seolah mengatakan ada urusan yang lebih penting dari kalkulus.

Mereka pun berakhir di kursi taman—setelah Jiho bersusah payah memisahkan diri dari Sujeong, juga menembus kerumunan penggemar Eunwoo tiba-tiba mengerumuni mereka.

“Apa yang kau inginkan?”

“Aku ingin bicara baik-baik. Kumohon dengarkan aku sebentar saja.” Melihat Jiho akan protes, Eunwoo kembali berkata. “Hanya sekali ini, Jiho. Aku butuh satu informasi penting sebelum perpisahan.”

“Maksudmu?” Jiho berusaha sebisanya untuk mengurangi ketajaman nada suaranya.

“Aku akan menetap di Jepang dan tidak kembali, kecuali untuk menjenguk orangtuaku. Itu artinya aku tak akan menemuimu lagi sampai kapanpun.”

“Kenapa kau pergi?”

“Aku tak sanggup berlama-lama di sini, terutama setelah Yoobin pergi.”

“Yoobin tak akan kembali apabila kau pergi.”

“Demikian pula jika aku tinggal.”

“Lakukan yang kau inginkan. Semoga kau bahagia dengan keputusanmu.” Jiho mengucapkan harapannya dengan canggung. “Oh ya, kau ingin informasi apa, tadi?”

Eunwoo tersenyum kecil. “Apa Yoobin benar-benar mencintai Mingyu?”

Jiho terkesiap. Ia kira ia akan ditanya yang aneh-aneh. Tapi, ia tak punya jawaban lain untuk pertanyaan itu, bukan?

“Ya.”

“Sejak kapan?”

“Kami bertiga berasal dari sekolah yang sama, jadi kurasa sejak saat itu.”

“Lalu apa peranku di mata Yoobin?”

“Sebagai lelaki pengganggu, mungkin kini sebagai pengecut.”

“Pantas saja.” Eunwoo tersenyum pedih sambil memandang langit.

“Apanya yang pantas?”

“Kukira kau bohong soal Yoobin mencintai Mingyu, karena selama ini akulah yang selalu bersama Yoobin, jadi kupikir tak mungkin jika dia lebih memilih Mingyu. Ternyata inilah sebab mengapa Yoobin sangat datar padaku, selama ini.” Eunwoo ganti menatap sepatunya. “Seharusnya aku sadar siapa yang sebenarnya Yoobin cintai.”

“Boleh kutahu kenapa kau mengancam Mingyu untuk tidak mendekati Yoobin?”

“Kenapa aku mengancam Mingyu? Karena aku merasa Mingyu sainganku, hanya itu.”

“Kenapa kau tidak mengorbankan dirimu untuk Yoobin?”

“Karena aku melihat kesempatan untuk memiliki Yoobin jika Mingyu tak ada.”

“Kau benar-benar pengecut, Eunwoo.”

“Ya, aku setuju, jadi berhenti mengatakannya.”

“Pergilah, dan lupakan Yoobin. Hingga kematiannya, ia tak pernah mencintaimu. Tak ada gunanya kau menyesali semua yang telah kau lakukan untuk membunuh Yoobin.”

Eunwoo menatap Jiho tajam, namun ia tak berkata apa-apa dan langsung pergi dari sana. Jiho dapat pastikan ia tak akan melihat Eunwoo untuk bertahun-tahun kemudian. Ia sedikit menyesal telah berkata sekasar itu. Tapi dengan begitu, Jiho pastikan Eunwoo tak akan berkeinginan untuk kembali.

Namun, tanpa sepengetahuan Jiho, Eunwoo berhenti di gerbang universitas sambil meraba saku jaketnya. Ia menghela napas kesal. Ia lupa memberikan sesuatu untuk Jiho akibat terlalu kesal dengan ucapan gadis itu.

*

Jiho berjalan menuju surga kecilnya, untuk bercengkrama dengan Nyonya Kim dan menghibur beliau. Wanita itu terpukul atas kepergian Mingyu, namun saat beliau tahu apa alasan dibaliknya, Nyonya Kim malah merasa lega. Karena beliau yakin, putranya baik-baik saja sebab Mingyu pergi demi kesembuhan orang lain.

Dan karena itu pulalah, Jiho tak berani memberitahu wanita itu bagaimana keadaan Yoobin sekarang. Ia tak bisa membayangkan reaksi Nyonya Kim bila wanita itu tahu.

Tinggal satu belokan lagi, ia sampai. Namun ia heran dengan orang-orang yang berlari dengan seember air dan kembali dengan ember kosong.

Ada kebakaran? Dimana?

Jiho terhenti. Napasnya pun tercekat. Ia belum berbelok, juga ia belum melihat rumah Nyonya Kim. Ia hanya melihat langit di depannya, dan arah asap itu berasal  dari belokan menuju rumah Nyonya Kim. Dan begitu ia berbelok, lututnya langsung lemas, ia nyaris lupa bernapas, dan air matanya menggenang.

Ia melihat kantung mayat tepat di depan matanya. Orang-orang masih sibuk memadamkan api yang berasal dari sebuah rumah. Dari sebuah rumah yang selama hampir lima belas tahun menjadi surga kecilnya.

Apa yang kau inginkan, Mingyu?! Jiho berteriak dalam hati. Kau terus saja merenggut semua tentangmu yang tersisa. Kau ingin aku melupakanmu? Baik, jika itu yang kau inginkan.

Jiho mengganti ekspresi terkejutnya menjadi ekspresi tak peduli, sambil berbalik dan pulang ke rumahnya. Jika Mingyu memilih untuk menghapus semua tentangnya, maka Jiho akan melakukannya.

Bukankah sedari awal, Mingyu memang tak pernah memperhitungkan Jiho dalam hidupnya?

***

<Third part>
Three little secrets that Jiho would never know.

In the beginning of third year…

“Berhenti sebentar,” pinta seorang laki-laki pada supirnya.

Ia turun di depan sebuah rumah dengan kotak pos di pagarnya. Ia masukkan sepucuk surat ke dalamnya dan ia langsung kembali ke mobilnya.

“Kita tetap ke bandara, Tuan?”

“Ya. Aku tak boleh melewatkan penerbangan ke Tokyo.”

Dua jam sepeninggal mobil itu, kotak pos tersebut dibuka oleh gadis penghuni rumah tersebut. Dahinya berkerut saat membaca namanya tertera di sana, namun pupilnya membesar setelah membaca nama penerimanya.

*

A cold, late night before the operation…

“Tunggu.”

Seorang lelaki menghentikan langkahnya. Ia menatap orang yang mencegatnya dari kamar rawat itu. “Kau mau apa?”

“Aku akan dioperasi besok,” sambil orang itu mengeluarkan surat dari saku jaketnya. “Aku menitipkan ini untuk sahabatku. Berikan padanya setelah aku tiada, atau kapanpun kau rasa waktunya tepat.”

Lelaki itu hanya tertawa sinis, sambil menerima surat itu dan berjalan pergi.

*

A year before the operation…

“Ibu, tolong berikan ini untuk sahabatku,” pinta seorang lelaki pada ibunya.

“Oh, inikah kalung yang kau beli waktu SMP dulu?”

“Ya. Tapi, simpankan dulu. Aku akan berikan padanya saat kami menikah, atau jika aku pergi lebih dulu darinya.”

“Kau pasti sangat mencintai dia, bukan begitu?”

“Bagaimana tidak, Bu. Dia menemaniku sejak kecil, sampai detik ini. Ia adalah orang yang paling berharga nomor dua setelah Ibu.”

***

<night‘s blabber>

kepanjangan yah, ffnya?

/bungkuk/

karena night paling gabisa yg namanya disuruh buat sequel dll T.T dan, duh. ff ini sebenernya udah lama dibuat, dan cast awalnya pun bukan jiho-mingyu-binnie-eunwoo. karena night malesan orangnya udah jadi kewajiban night untuk selalu berkarya /halah/ jadilah ff tsb diedit sedikit(?) hehehe~

dah, segini aja. sebelum author notesnya berubah jadi oneshot akibat kebawelan si penulis, night akhiri dengan kalimat: jangan lupa tinggalkan jejak!^^ like atau comment, dua-duanya berperan penting bagi night :”

terima kasih sudah membaca>,<

Author: yournightskies

ubah niat baik menjadi aksi baik.

10 thoughts on “[Three-Shots] A Letter for Jiho

  1. ANIYA ANIYA!!! KAK MINGGUUUUUUU T^T /cryoverload
    KAK NAITEU TANGGUNG JENAB KA!!!
    HUWAA DEDE SEDIIIH

    Liked by 1 person

    • NE NE!!! DEK SENIIIIIN(???)
      tanggung jenab tuh apa ya…? aku taunya tanggung jawab /halaaah
      sini dek kuberi pupuk biar subur /eh/ maksudku pukpuk :””)

      makasih rin sudah membaca dan komentar><

      Like

      • aku bukan dek senin, kak selasa/?
        itu si jenab yang suka ngehutang ke mbak ojung/gagitu yaudah, tapi kuhanya tau dirimu, kak/heleh
        aku teh bukan mau nanem cabe…
        samasama samasama

        Like

  2. Kak, ini three shots? Terus ini chapter pertama?
    Aku bingung :v Pengen masukin ini ke library ‘-‘/)

    Like

  3. INI KENAPA SIH FF NYA SEDIH BANGET YA ALLAH YA RABBBB
    TANGGUNG JAWAB BIKIN GUE NANGIS HUAAAAAㅠㅠ
    It must be really hard for Jiho. sumpah aku nyesek aku ga bisa berhenti nangis tolongggㅠㅠ

    Liked by 1 person

    • ㅠㅠㅠㅠdont cryyyyyy

      aku cuma bs nolongin dgn ngapus air matamu… hehehehehe

      WAAA btw makasih banyakkkk yaa. kamu rajin bgt komen di setiap ffku, jadi serasa punya fans (padahal mah kaga) HEUHEHEHE

      Like

Miracle, leave a comment pls^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: