OH MY GIRL Fanfiction Indonesia

Since: 16/02/24

[Vignette] Ayah

11 Comments

seunghee

[VIGNETTE] Ayah

Story fic by Ravenclaw

Starring with

Hyun Seunghee (Oh My Girl) – Hyun Soomin (OC’s)

And also

Cha Hakyeon (VIXX)

Genre : Family life | Length : Vignette |Rating : PG-15

PLAY!

 

Ini adalah kisahmu yang selalu berangkat pagi dari rumah dengan semangat pagimu dan berbekal roti berselai blueberry kesukaanku yang sudah pasti kubuat sepenuh hati untuk mengisi perut kosongmu dan sekotak sushi sederhana kesukaanmu untuk kau nikmati saat mentari berada di puncaknya.

Ini adalah tentang kebisaaanmu yang selalu mengurusku dengan baik meskipun tidak sebaik wanita itu kala kau meninggalkan kami berdua di rumah, menunggu wajah ceriamu menghiasi pintu mahoni rumah kecil kita dan berteriak “Seunghee! Ayah pulang!” yang kusambut dengan pelukan manjaku dan belaian lembutnya.

Senang rasanya memiliki seorang sepertimu yang pekerja keras sepertimu yang selalu berangkat pagi dan pulang malam bahkan paginya lagi hanya demi kami berdua, wanita lemah yang perlindungan sebuah punggung yang kokoh. Dan itu kaulah orangnya.

Bahagia sekali rasanya ketika melihat senyummu yang khas menghiasi rumah kecil kita sebelum kau berangkat menuju kantormu dan aku berangkat menuju sekolahku. Selalu terpikir dalam bayangku kala aku menunggu bis datang untuk menjemputku ke sekolah, pernahkah kau bersedih selain di depan kami berdua?

Jawabannya adalah tidak, awalnya. Namun, setelah aku menemukanmu yang saat itu tengah duduk termenung menghisap sigaret di taman belakang rumah, kau hanya diam ketika aku bertanya hal yang sederhana, “kenapa ayah bersedih?”

Kau diam seribu bahasa, kala aku mulai duduk disampingmu.

“Ayo ayah, cerita saja. Mungkin Seunghee bisa membantu,” ujarku saat itu yang terdengar sedikit memaksa, tapi kau tetap diam dan justru menggeleng yang semakin membuatku gemas.

“Ayolah, ayah ceritakan saja, kalau tidak mau cerita nanti tidak tahu apa solusinya. Apa ayah sedang bertengkar dengan ibu? Atau ayah sedang marah karena sikapku?” terus desakku sampai akhirnya kau menoleh dan menatap dengan mata sendumu.

“Apakah menurutmu ayah ini sudah jadi ayah yang baik?” dan aku tertawa, konyol menurutku kau bahkan ayah yang terbaik di dunia tanpa ada siapapun yang bisa memilikimu.

Namun, kau menggeleng, menggeleng, dan menggeleng. Membuatku bingung.

“Bagaimana bisa kau menyebut pria bodoh ini sebagai ayah yang baik untukmu dan So Hee?” itu adalah kalimat pertamamu setelah kita hening hampir semenit.

“Apa yang kau lihat dari pria sepertiku, Seunghee? Aku seperti ini, hanya lulusan Diploma 3 Teknik Bangunan yang bekerja sebagai buruh di kantor konstruksi Seoul. Rumah kita kecil, kamar kita kecil, perlengkapan kita kadang tidak terpenuhi karena ada kendala sehingga mengurangi sedikit uang bulanan untuk keperluan rumah tangga. Apa yang kau banggakan dari seorang ayah ini? Kau sudah kelas sebelas SMA, Seunghee, kau harusnya tidak hidup sengsara bersama aku dan So Hee. Ah, So Hee juga tidak pantas untuk hidup sengsara bersamaku,” itulah kalimat terpanjangmu sekaligus menyesakkan dada ini kala mendengar suara isakan kecilmu yang sengaja kau kecilkan suaranya.

Aku tersenyum, menggenggam erat tangan kanan yang mencengkram celana jins cokelat tuamu, “aku tidak apa punya rumah kecil dan kamar kecil, yang penting aku, ayah, dan ibu bisa berlindung dari panasnya matahari dan dinginnya badai salju. Yang penting isi dari penghuni rumah ini tetap utuh, itu saja,” begitu ujarku, meyakinkan padamu yang masih bersedih hati.

“Yang penting ayah dan ibu ada untukku di rumah ini,” itu kalimat penutupku, sebelum kau memelukku erat dan mengucapkan kalimat sayang kepadaku juga kepada ibu yang terbangun dari tidurnya, menyaksikan kita berpelukan haru, beliau tersenyum tapi kau tak melihatnya.

Dan saat itu aku pernah bertanya kepada diriku sendiri, pernah kau marah di depan kami?

Tidak, awalnya. Namun, itu sebelum kau melihatku sedih duduk meringkuk dengan sebuah kertas putih yang sudah kuremukkan. Kau tergopoh-gopoh lari menuju ranjangku dan memelukku erat, meredam suara tangisanku. “Ada apa, Seunghee? Kau kenapa?”

Aku menggeleng, tidak sanggup mengatakan tentang masalahku padamu. Namun, kau mendesak begitu juga dengan ibu yang sedari tadi sudah mengelus rambutku menenangkanku.

“Seunghee, katakan, apa kau ada masalah? Ceritakan pada ayah dan ibumu.”

“Kami mengkhawatirkanmu,” begitu tambah ibu setelah ucapanmu.

Bibirku membuka, bergetar, “Jaehwan… Jaehwan…”

“Ada apa dengannya?”

Aku hanya menunduk, menatap sebuah kertas yang sudah kubuka dari ampop berwarna merah muda. Kau pun membacanya dan mukamu mulai merah.

“Apa yang Jaehwan lakukan? Putus darimu? Hanya ingin menjadi idol saja harus putus? Keterlaluan sekali dia!”

Itu adalah ucapan emosimu yang pertama kalinya dalam hidupku selama tujuh belas tahun itu. Kau marah, tidak terima anak perempuanmu disakiti oleh pria yang kau anggap brengsek, bahkan sampai kau hendak menghampirinya ke rumahnya yang akhirnya berhasil kucegah.

“Tidak usah, yah…”

Kau melotot, tidak terima, “kenapa? Dia sudah menyakitimu! Hanya ingin jadi idol saja harus putus! Sok sekali dia!”

Dan sekali lagi aku menahanmu keluar dari kamarmu mengangkat kedua lenganku, dan kau melotot lagi.

“Itu sudah keputusannya, ayah. Perusahaannya sudah melarangnya untuk berhubungan denganku agar dia fokus kepada karirnya.”

“Sudahlah, Soomin. Benar apa kata Seunghee, dia ingin fokus dan itu sudah keputusannya.”

Tapi kau tetap saja bergeming, menyalahkan laki-laki bernama Lee Jaehwan itu atas perbuatannya kepadaku. Aku memelukmu, erat dan kupenjamkan mataku di dalam dekapanmu, “sudah, yah… itu sudah keputusannya. Aku saja yang terlalu berharap kepadanya,” dan akhirnya kau pun luluh, membalas pelukanku.

Hari-hari kita lewati bersama, suka maupun duka, senang ataupun sedih, dan senakal-nakalnya aku kau hanya bisa tertawa mengacak tatanan rambutku yang berakhir dengan majunya bibirku beberapa senti yang membuatmu semakin keras tawanya.

Sampai akhirnya ada seorang pria datang mengunjungi kediaman kecil kita. Dengan kemeja birunya yang senada dengan celana jinsnya ia membawa seikat bunga mawar putih kesukaanku dan menyapamu dengan hormat, begitu pun kau juga mengajaknya masuk ke dalam ruang tengah dan menyuruhku untuk membantu ibu membuat wejangan pada tamu kita.

“Tuan Hyun, saya ingin menikahi Hyun Seunghee, anak semata wayangmu,” begitu pria bernama Cha Hakyeon dengan sopan namun gugup di depanmu, sama tegangnya denganmu kala mendengar namaku disebut di bibir merah pria Cha itu.

“Apa kau serius?” dan dengan anggukan mantapnya Hakyeon mengatakan sebuah kata sederhana namun bisa menggetarkan hati seluruh orang yang mendengarnya, “iya, saya serius.”

Kau hanya diam seribu bahasa lalu menatapku yang sudah selesai sejak tadi membantu ibu memasak yang sekarang juga tengah berada duduk di sampingmu.

Pria itu menatapku yang duduk di depannya dan mengatakan tanpa suara bahwa dia berjanji akan menikahiku. Dan kau bersama ibu menjadi saksinya dari pembicaraan singkat ini.

“Saya akan membawa keluarga saya minggu depan ke rumah paman,” begitu ujar Hakyeon yang masih ditanggapi diam lalu berubah jadi senyum kecil, “ya, kita harus membahas ini.”

Berbulan-bulan setelah menjalani masa mengenal satu sama lain antara keluarga kita dengan keluarga Cha, ini saatnya kau menggenggam erat tangan kananku. Tangan kiriku menggenggam seikat bunga mawar putih yang harum sama seperti parfummu yang lembut.

Kau menggenggam begitu erat, keringat dingin mengalir dalam genggaman kita dan kau mengucapkan sebuah kalimat yang merupakan kalimat perpisahan kita, “turuti semua perkataannya, sayangi dia sepenuh hati, jangan berpaling kepada yang lain kau sudah berjanji di depan Tuhan, dan jalani semua ini sepenuh hati karena ini adalah pengalaman seumur hidup, Seunghee. ingat kalimat ayah ini, oke?” dan aku hanya sanggup mengangguk, menahan air mata yang tersembunyi dibalik tudung putih ini.

Aku menangis bahagia ketika akhirnya kau bisa bersanding dengan seseorang yang memang dianugerahkan untukku seumur hidupku, tapi aku sedih ketika aku harus berpisah dengan malaikat yang diberikan Tuhan kepadaku.

Dan ini adalah tentang kau yang sedang menangis berbahagia ketika Hakyeon membuka tudungku setelah kami mengucapkan sumpah di depan Tuhan. Kami tersenyum bahagia setelah menikmati ciuman pertama yang ditonton oleh sekitar dua ratus orang di dalam gereja. Aku melirikmu yang saat ini tengah bertepuk tangan melihat kami berdua berjalan hendak keluar dari gereja.

Dan dari semua peristiwa yang pernah kita lewati bersama, aku hanya mampu mengucapkan…

Terimakasih, ayah.

END.

haloooooooo ini erik si imut yang keliatannya emang ga imut :’v yeyeye… akhirnya bisa bikin ini fanfic yang berawal dengan cast Hi – Hanbin yang idenya berawal dari dengerin lagu Lee Hi – Breathe yang sumpah itu rekomen banget! T.O.P.B.G,T  tapi karena ini spesial aku keterima disini (thanks for admin i love you muach :*) jadinya kubikin versi Seunghee – Hakyeon yang padahal jaraknya 6 taun :’v tapi karena ini fanfic anggap aja semua itu bisa jadi kenyataan oke :v

terimakasih udah mau baca ya ^^ 

Advertisements

Author: Ravenclaw

I'm Ravenclaw. Cause I'm proud of Ravenclaw

11 thoughts on “[Vignette] Ayah

  1. Laah pantesan ada typo nama wkwk xD
    hai kak, ilah disini~

    Like

  2. rik jangkrik~ /dicubit/ tanggung jawab dong, nangis nih akuu, jd keinget sm ayahkuuu T.T

    kukira awalnya si Aku ini dari sisi Ibu, eh ternyata dr seungi’-‘

    idemu keren, rik jangkrik /dicubit lagi/ SUKAK<3 keep writing yah, maafin komennya begini u,u

    Like

    • sekali lagi manggil jangkrik mari kita ribut di lapangan :’v
      alhamdulillah dapet feel, soalnya aku bikin ffnya juga keinget bapak yang lagi solat :’
      YUK RIBUT YUK RIBUT :’V

      Like

      • /KABOOOOOR/
        ehiya belom bales komen
        /balik lagi/

        tapi mikirnya udah jauh bgt yak, sampe dilamar segala :3 ini impian terselubung bukan nih wkwk

        /lalu ambil langkah seribu/ /biar ga kena gebuk cinta-nya erik :v/

        Like

      • /langsung lari ngejar/
        itu seunghee nyeritainnya sejak dia masih kecil sampe dia udah nikah dan ini alurnya maju gaboleh mundur kalo mundur jadinya plesbek inget mantan yang bernama jaehwan /eakkkkk :v
        SINI KAU JANGAN KABOR!!! >< :V

        Like

      • ih kita komen2an sambil lari gini ga ngos2an apa :v
        bener tuh, gaboleh mundur2 ntar kalo mentok tembok kitanya kaga nyadar:V

        Like

      • anggep aja engga karena kita seterong :v
        dan itu keknya udah kek di epep gitu ye ceritanya :v

        Like

  3. makyeon ga pernah terlalu tua untuk seunghe /?
    kyaah i smell YG stan here!! /meh to btw/ ga nanya/
    tapi yang bukan YG stan pun heeuung pada rekomen lagunya tante lee hi >_<

    keep writting~

    Like

  4. Reblogged this on Ravenclaw and commented:

    debut yeay ^o^

    Like

Miracle, leave a comment pls^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Advertisements
%d bloggers like this: